Peace Hunter
Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Setelah mengalahkan beberapa naga es itu, Duchess Arlet kembali bergerak untuk melawan beberapa naga es yang masih tersisa.
Sementara itu, Irene terlihat sedikit takjub ketika melihat aksi ibundanya itu.
"Ini pertama kalinya kamu melihat ibundamu dalam pertarungan sungguhan ya, Irene?," tanya Duke Louis secara tiba-tiba.
Irene awalnya sedikit terkejut tetapi kemudian dia menyadari mungkin ayahandanya itu tadi sedang memperhatikannya yang sedang melihat aksi ibundanya.
"Tidak, ayahanda. Sebelumnya aku pernah melihat ibunda ketika bertarung melawan orang-orang yang berubah menjadi iblis di akademi. Hanya saja saat itu ibunda tidak terlihat bertarung dengan serius. Aku belum pernah melihat ibunda bertarung dengan serius. Bahkan ketika latih tanding denganku, ibunda juga terlihat tidak serius melawanku," ucap Irene.
"Kali ini pun ibundamu juga belum mengeluarkan semua kemampuannya, Irene. Para naga es itu yang merupakan naga es yang terbuat dari sihir bukanlah tandingan ibundamu. Ibundamu mungkin akan mengeluarkan semua kemampuannya saat kita melawan ’makhluk itu’, sang pemimpin Roh es," ucap Duke Louis.
"Tidak hanya ibunda saja, ayahanda. Semua orang yang ada disini pasti akan mengeluarkan semua kemampuannya untuk mengalahkan makhluk itu," ucap Irene.
"Iya, kamu benar. Aku sendiri juga akan mengeluarkan semua kemampuanku," ucap Duke Louis.
Setelah Duke Louis mengatakan itu, beberapa naga es terlihat menghampiri ke tempat Duke Louis dan Irene berada. Duke Louis yang menyadari itu pun bersiap untuk bertarung kembali.
"Obrolannya kita akhiri sampai sini saja, Irene. Kita harus mengurus mereka terlebih dahulu," ucap Duke Louis.
"Ayahanda benar," ucap Irene yang sudah bersiap untuk bertarung.
Setelah itu, beberapa naga es itu lalu melancarkan serangan kepada Irene dan Duke Louis, tetapi Irene dan Duke Louis dengan mudah menghindari dan menahan serangan beberapa naga es itu.
"Jumlah mereka cukup banyak. Aku bisa saja mengalahkan mereka sekaligus tetapi aku harus menunggu momen yang tepat," ucap Duke Louis.
"Kapan momen yang tepat itu, ayahanda?," tanya Irene.
"Saat mereka semua berkumpul di satu tempat, sedangkan saat ini mereka masih tersebar di kanan, kiri, depan dan belakang kita," ucap Duke Louis.
"Kalau begitu biar aku yang menjadi umpan agar mereka bisa berkumpul di satu tempat," ucap Irene.
Duke Louis pun terkejut setelah mendengar perkataan Irene.
"Apa? Kamu mau menjadi umpan?," tanya Duke Louis.
"Iya, ayahanda," ucap Irene.
"Tidak, bagaimana mungkin seorang ayah memerintahkan anaknya sendiri untuk menjadi umpan. Aku tidak bisa melakukannya," ucap Duke Louis.
"Ayahanda tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagipula hal ini diperlukan agar ayahanda bisa mengalahkan mereka sekaligus. Apa ayahanda ingin kita mengalahkan mereka satu persatu saja meskipun hal itu memakan waktu yang lebih lama?," tanya Irene.
Duke Louis pun terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Irene. Namun tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Baiklah, ayo kita lakukan, Irene. Kamu yang menjadi umpan, aku yang akan mengalahkan mereka sekaligus," ucap Duke Louis yang akhirnya menyetujui agar Irene menjadi umpan.
Kemudian, Irene pun menanggapi perkataan Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
Setelah itu, Irene melesat mendekati beberapa naga es itu satu persatu lalu menyerang mereka dengan rapier dan sihirnya. Irene menyerang beberapa naga itu dengan serangan biasa, bukan serangan yang kuat. Tujuannya agar beberapa naga yang diserang oleh Irene itu memilih untuk menargetkan Irene, lagipula memang itulah tujuannya yaitu untuk menjadi umpan. Setiap naga es di sekitarnya yang masih belum menargetkan dirinya langsung Irene dekati dan menyerang naga es itu agar naga es itu menargetkan dirinya. Irene terus melakukan hal itu sampai semua naga di sekitarnya menargetkan dirinya.
Sementara itu, disaat beberapa naga es itu sedang terfokus dengan Irene, Duke Louis yang saat ini sedang dalam kondisi aman karena tidak ada naga es yang mengincarnya terlihat sedang mengangkat pedangnya ke atas dengan tangan kanannya sambil melafalkan sebuah mantra.
"Kepingan salju abadi, turunlah,"
"Hancurkan lawanku dalam hujan kepingan tajam menyelimuti,"
"Hingga tiada daya, tunduk dan hening."
Setelah Duke Louis selesai melafalkan mantra, Duke Louis melihat beberapa naga es yang menargetkan Irene sudah berkumpul di satu tempat, mereka tidak tersebar lagi seperti sebelumnya. Melihat itu, Duke Louis pun langsung memerintahkan Irene untuk menghindar karena dia akan melancarkan sihir kepada beberapa naga es itu.
"Irene, menjauhlah sedikit dari tempatmu berada saat ini," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
Irene pun kemudian langsung pergi melesat untuk menjauh dari tempatnya saat ini. Tepat saat Irene sudah melesat pergi, Duke Louis pun langsung melancarkan sihirnya.
~Ice Magic : Rain of Snowflakes~
Setelah Duke Louis melancarkan sihirnya itu, kepingan salju dalam jumlah yang sangat banyak tiba-tiba berjatuhan dari atas tempat beberapa naga es itu berada. Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu terkejut ketika melihat munculnya kepingan-kepingan salju yang turun itu, sementara sisanya terlihat sedang fokus melawan para naga es yang masih tersisa.
Lalu, kepingan salju yang berjatuhan itu pun langsung mengenai tubuh beberapa naga es itu. Ketika kepingan salju itu mengenai bagian tubuh dari beberapa naga salju itu, bagian tubuh mereka tiba-tiba hancur seketika. Padahal yang menghujani mereka terlihat hanyalah kepingan-kepingan salju biasa, namun nyatanya setiap kepingan salju itu memiliki bobot yang sangat berat sehingga mampu menghancurkan bagian tubuh dari naga es itu yang dikenainya.
Kepingan-kepingan salju itu terus berjatuhan selama kurang lebih 5 menit. Debu asap berwarna putih pun bermunculan dan semakin tebal seiring kepingan-kelingan salju itu terus menghujani tempat itu. Setelah itu, kepingan salju itu pun berhenti menghujani tempat itu. Hanya saja, debu asap efek dari kepingan salju yang menghujani tempat itu saat ini masih belum hilang. Debu asap itu masih cukup tebal dan pekat.
Namun seiring waktu, debu asap itu pun perlahan mulai menghilang. Setelah debu asap itu menghilang, terlihat jelas kondisi di tempat itu setelah kepingan-kepingan salju menghujani tempat itu. Terlihat beberapa naga es yang sebelumnya menargetkan Irene kini sudah dikalahkan semuanya. Tubuh mereka semua sudah sepenuhnya hancur karena dihujani oleh kepingan-kepingan salju yang tercipta dari sihir Duke Louis.
Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu kembali terkejut setelah melihat beberapa naga itu telah hancur oleh sihir Duke Louis. Irene pun juga terlihat sedikit terkejut ketika melihat kondisi beberapa naga es itu.
"Aku tidak menyangka beberapa naga es itu langsung hancur setelah terkena 1 serangan sihir milik ayahanda. Tetapi mengingat posisi ayahanda sebagai seorang Duke, wajar kalau ayahanda sekuat ini. Mungkin lain kali aku akan mencoba untuk latih tanding dengannya jika ayahanda tidak sibuk," pikir Irene.
Setelah memikirkan itu, Irene lalu berbalik untuk menghampiri Duke Louis. Tetapi ketika Irene berbalik, Irene melihat ada 4 ekor naga es yang berada di belakang Duke Louis. Duke Louis terlihat belum menyadari ada 4 ekor naga es di belakangnya. Melihat hal itu, Irene tiba-tiba langsung melesat dengan cepat ke arah Duke Louis.
"Ayahanda, menunduk!," ucap Irene sambil melesat ke arah Duke Louis.
Duke Louis tidak tahu kenapa Irene menyuruhnya untuk menunduk, tetapi meski begitu Duke Louis tetap menurutinya. Duke Louis pun langsung menunduk, sementara Irene terlihat bersiap untuk melancarkan sebuah serangan dengan raipernya. Setelah Irene sudah berada di depan Duke Louis yang sedang menunduk, Irene lalu melancarkan serangan kepada 4 naga es yang terlihat sudah ingin menyerang Duke Louis.
~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snowflakes - Death Slash~
Kepingan-kepingan salju tiba-tiba bermunculan tepat sebelum Irene melancarkan serangannya itu. Kepingan-kepingan salju itu bermunculan dan menempel di beberapa anggota tubuh 4 naga es itu seperti di kepala, tangan, kaki, badan, sayap dan lain-lain. Kemudian, Irene pun melancarkan serangannya itu kepada 4 naga es itu. Setelah Irene melancarkan serangannya itu, anggota tubuh dari 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu tiba-tiba langsung terpotong. Semua anggota tubuh 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu terpotong tanpa terkecuali. 4 naga es itu pun langsung tumbang dengan anggota tubuh yang telah terpotong-potong.
Beberapa prajurit yang ada di sekitar tempat itu terlihat terkejut ketika melihat Irene berhasil mengalahkan 4 naga es itu dengan 1 serangan. Sementara Irene, setelah berhasil mengalahkan 4 naga es itu, dia lalu memegangi tubuh Duke Louis yang berada di depannya.
"Ayahanda tidak apa-apa?," tanya Irene yang terlihat sedikit cemas.
Duke Louis yang awalnya masih menunduk secara perlahan mulai berdiri tegap kembali. Setelah kembali berdiri tegap, Duke Louis terlihat tersenyum ke arah Irene.
"Terima kasih, Irene. Aku tahu kalau kamu bisa mengatasi mereka," ucap Duke Louis.
Irene terlihat bingung dengan perkataan Duke Louis, tetapi tidak lama kemudian, Irene mulai menyadari apa maksud perkataan Duke Louis.
"Jadi ayahanda sebenarnya sudah tahu kalau ada 4 naga es yang ingin menyerang ayahanda dari belakang?. Aku kira ayahanda tidak tahu jadi aku bergegas untuk menolong ayahanda," ucap Irene.
"Tentu saja aku sudah tahu. Aku bisa saja mengatasi mereka berempat tetapi aku pikir momen ini bisa dimanfaatkan untuk melihat tindakan apa yang akan kamu lakukan jika kamu melihatku yang akan diserang oleh 4 naga es itu. Dan ternyata kamu memilih untuk bergerak menolongku," ucap Duke Louis.
"Tentu saja aku akan bergerak untuk menolong ayahanda jika aku melihat ayahanda akan diserang seperti tadi. Mana mungkin seorang anak akan diam saja melihat ayahnya akan diserang," ucap Irene.
Duke Louis pun tersenyum setelah mendengar perkataan Irene.
"Terima kasih karena telah menolongku, Irene. Tindakanmu yang langsung bergerak untuk menolongku itu benar-benar luar biasa. Aku harap kamu juga melakukan itu jika ada orang lain yang berada di situasi yang sama dengan yang aku alami tadi," ucap Duke Louis.
Setelah mendengar perkataan Duke Louis, Irene pun terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu.
"Begitu ya. Apa yang dilakukan ayahanda tadi merupakan semacam tes untukku. Ayahanda ingin melihat apa tindakan yang aku lakukan jika di hadapanku ada orang yang sedang berada dalam bahaya seperti yang dialami ayahanda tadi," pikir Irene.
Setelah memikirkan itu, Irene lalu berbicara kembali untuk menanggapi perkataan Duke Louis.
"Baik, ayahanda. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika di hadapanku ada orang lain yang berada di situasi yang sama," ucap Irene.
-
Sementara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.
Komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang melawan para naga es yang ada di sekitar mereka. Sebelumnya, ketika Irene mengalahkan 4 naga es yang hendak menyerang Duke Louis, komandan Asier sempat melihat ke arah Irene. Komandan Asier terlihat bangga saat melihat adiknya itu berhasil menguasai salah satu dari teknik rahasia keluarga San Lucia.
"Ibunda sudah memberitahuku kalau Irene sudah bisa menggunakan teknik rahasia keluarga San Lucia karena beliau sendiri yang mengajarkannya. Tetapi ini pertama kalinya aku melihat Irene menggunakannya secara langsung. Seperti yang diharapkan dari adikku," ucap komandan Asier sambil melawan para naga es yang ada di sekitarnya.
Komandan Ivana yang juga sedang melawan para naga es yang ada di sekitarnya lalu menanggapi komandan Asier yang berbicara.
"Irene tidak hanya diajari dan dilatih oleh nona Arlet saja, tetapi juga dilatih oleh Rid. Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin saja Irene akan jauh lebih kuat dari kita berdua, Asier," ucap komandan Ivana.
"Iya, mungkin saja. Sepertinya saat ini kita tidak boleh hanya bersantai-santai saja, kak Ivana. Kemarin kita berdua sudah diberi ’pelajaran yang berharga’ oleh Rid dan sekarang kita menyadari kalau Irene mungkin saja akan melampaui kita,"
"Jika Irene berhasil melampauiku, sebagai kakaknya aku tentu bangga padanya. Tetapi hal itu juga akan membuatku sedikit kecewa apabila aku jadi lebih lemah dari Irene. Oleh karena itu, sepertinya mulai saat ini aku tidak bisa bersantai-santai saja. Aku harus menjadi lebih kuat lagi," ucap komandan Asier.
Komandan Ivana yang mendengar perkataan Asier pun lalu tersenyum.
"Iya, kamu benar. Kita tidak boleh bersantai-santai lagi. Kita harus menjadi lebih kuat," ucap komandan Ivana.
Setelah itu, baik komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang bersiap untuk melancarkan sebuah serangan.
~San Lucia Art Secret Technique : Frozen Flower Petals - Estirmina~
Komandan Asier melancarkan sebuah tebasan es berukuran cukup besar ke arah para naga es yang ada di hadapannya. Jika dilihat lebih teliti, tebasan es yang dilancarkan oleh komandan Asier bukanlah tebasan es seperti biasanya, melainkan adalah kelopak bunga es dalam jumlah banyak yang menyatu dan membentuk sebuah tebasan es berukuran cukup besar.
Tebasan kelopak bunga es yang dilancarkan oleh komandan Asier lalu mengenai para naga es yang ada di hadapannya. Begitu tebasan itu mengenai tubuh dari para naga es itu, tubuh para naga es itu langsung hancur berkeping-keping. Tubuh mereka semua yang dikenai oleh tebasan itu sama sekali tidak bersisa. Para naga es yang ada di hadapan komandan Asier pun berhasil dikalahkan oleh komandan Asier dengan tebasan itu.
Sementara itu, di saat yang sama, Komandan Ivana terlihat bersiap untuk melancarkan serangan ke para naga es yang ada di hadapannya. Komandan Ivana terlihat seperti ingin melancarkan serangan tusukan kepada para naga es itu.
Lalu, saat komandan Ivana sedang bersiap untuk melancarkan serangannya itu, beberapa kelopak bunga yang terbuat dari salju tiba-tiba berjatuhan dan hinggap di atas kepala para naga es itu satu persatu. Setelah semua kepala para naga es itu sudah dihinggapi oleh kelopak bunga itu, komandan Ivana lalu melancarkan serangannya itu.
~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snow Petals - Disorder~
Komandan Ivana melancarkan serangan tusukan ke arah salah satu kelopak bunga yang hinggap di atas salah satu dari para naga es itu. Meski jarak antara komandan Ivana dengan naga es itu cukup jauh, komandan Ivana tetap melancarkan serangan tusukan itu. Setelah melancarkan serangan itu, sebuah sinar atau laser yang terbuat dari es muncul dari ujung pedang milik komandan Ivana. Sinar itu lalu melesat ke arah kelopak bunga yang ditandai oleh komandan Ivana sebelumnya. Sinar es itu melesat dengan cepat dan langsung menghancurkan kelopak bunga itu dalam sekejap. Tidak hanya menghancurkan kelopak bunga itu saja, sinar es itu juga melubangi kepala dari naga es yang dihinggapi oleh kelopak bunga itu. Naga es itu pun langsung tumbang setelah sinar es itu melubangi kepalanya.
Tidak berhenti sampai disitu saja, sinar es yang baru saja melubangi naga es itu terus melesat ke kelopak bunga yang masih hinggap di kepala para naga es yang lainnya. Sinar es itu melesat dengan cepat untuk menghancurkan kelopak bunga itu satu persatu. Tidak lama kemudian, semua kelopak bunga yang hinggap di kepala para naga es itu pun telah hancur. Bersamaan dengan hancurnya kelopak bunga itu, kepapa dari para naga es itu juga telah dilubangi oleh sinar es itu. Para naga es itu pun langsung tumbang setelah kepala mereka telah dilubangi oleh sinar es itu. Kini, para naga es yang ada di sekitar komandan Asier dan komandan Ivana telah dikalahkan semuanya.
Para prajurit yang melihat aksi mereka berdua terlihat sangat terkejut.
"Jadi ini kemampuan sebenarnya dari komandan prajurit kerajaan San Fulgen?,"
"Jika mereka berdua saja sudah sangat sekuat ini, bagaimana dengan Rid sendiri?," tanya orang-orang itu.
Disaat orang-orang itu masih terkejut ketika melihat aksi dari komandan Asier dan komandan Ivana, beberapa naga es tiba-tiba menghampiri mereka dari segala arah. Jumlah naga es itu terlihat cukup banyak, sekitar belasan naga es. Mereka pun kembali terkejut begitu melihat kalau para naga es itu telah mengepung mereka. Tidak hanya mengepung saja, para naga es itu juga telah bersiap untuk menyerang mereka.
Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana yang melihat hal itu langsung bereaksi dan segera bergegas menuju tempat mereka untuk menolong mereka. Tetapi baru sebentar mereka bergerak, terlihat ada seseorang yang melesat dengan sangat cepat ke tempat para prajurit itu dan langsung menyerang para naga es itu dengan pedangnya.
~Secret Sword Art - Dragon Slayer Technique : Full Moon Slash~
Serangan yang dilancarkan oleh orang itu pun langsung membuat tubuh para naga es yang mengepung para prajurit itu terbelah menjadi dua. Para naga es itu pun langsung dikalahkan dalam sekejap
Para prajurit yang melihat hal itu terlihat hanya terdiam saja. Tidak lama setelah itu, para prajurit itu lalu melihat ke sekeliling mereka. Di sekeliling mereka itu terdapat tubuh para naga es yang terbelah menjadi dua setelah terkena serangan barusan. Saat melihat tubuh para naga es itu, barulah mereka terkejut ketika melihat para naga es yang sebelumnya bersiap untuk menyerang mereka tiba-tiba langsung dikalahkan dalam waktu singkat.
"Yang benar saja?!?!,"
"Naga es sebanyak ini dikalahkan hanya dengan 1 tebasan?!," ucap orang-orang itu.
Setelah melihat ke sekeliling mereka, mereka lalu melihat ke sosok orang yang mengalahkan para naga es itu. Orang itu kini sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tetapi jika itu dia, maka itu tidaklah mengherankan,"
"Kamu benar. Tidak mengherankan kalau Rid Archie lah yang melakukan hal ini,"
"Setelah melihat apa yang terjadi kemarin, sepertinya aku tidak akan terkejut lagi apabila melihat Rid Archie melakukan hal yang diluar dugaan lagi," ucap para prajurit itu.
Seperti perkataan para prajurit itu, aku lah yang baru saja mengalahkan para naga es yang mengepung para prajurit itu. Setelah mengalahkan para naga es itu, aku lalu menanyakan kondisi para prajurit itu.
"Apa kalian semua terluka?," tanyaku.
Para prajurit itu lalu saling melihat satu sama lain. Tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit itu mulai berbicara.
"Tidak ada satupun dari kami yang terluka. Ini semua berkatmu, Rid Archie. Terima kasih," ucap prajurit itu.
Para prajurit yang lain pun ikut berterima kasih kepadaku.
"Sama-sama," ucapku.
Sementara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.
Komandan Asier dan komandan Ivana yang sebelumnya sedang bergerak ke tempat para prajurit itu, kini sedang berhenti bergerak dan terdiam sambil melihat ke arah Rid.
"Bisa-bisanya dia mengalahkan naga es sebanyak yang muncul dari segala arah itu hanya dengan 1 serangan tebasan," ucap komandan Ivana.
"Yah jika itu Rid, aku tidak heran dia bisa melakukannya," ucap komandan Asier.
Sementara itu, di sisi Duchess Arlet.
Sama seperti komandan Asier dan komandan Ivana, Duchess Arlet kini juga sedang terdiam sambil melihat ke arah Rid.
"Lagi-lagi Rid kembali melakukan hal yang diluar dugaan," pikir Duchess Arlet.
Setelah memikirkan itu,. Duchess Arlet lalu melihat ke sekeliling. Saat melihat sekeliling, Duchess Arlet melihat masih ada beberapa naga es yang belum dikalahkan. Mengetahui masih ada beberapa naga es lagi, Duchess Arlet lalu mulai berbicara.
"Semuanya tetap fokus. Masih ada beberapa naga es lagi yang harus kita kalahkan. Kita tidak boleh lengah sampai semua naga es ini berhasil kita kalahkan," ucap Duchess Arlet dengan suara cukup keras agar perkataannya terdengar oleh semua orang di tempat itu.
Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, semua prajurit yang ada di tempat itu pun sedang dalam posisi bersiap untuk melawan para naga es yang masih tersisa itu. Para prajurit yang sebelumnya hanya diam ketakutan dan terkejut pun kini juga telah bersiap. Mungkin karena jumlah naga es yang tersisa saat ini lebih sedikit dari sebelumnya membuat mereka jadi lebih berani. Apalagi, setelah melihat aksi Duchess Arlet, Duke Louis, komandan Asier dan komandan Ivana dalam mengalahkan para naga es itu, mungkin hal itu juga menyulut keberanian dalam diri mereka.
Setelah itu, kami semua pun lalu bergerak untuk menyerang para naga es yang masih tersisa itu.
-
Sekitar 10-15 menit kemudian,
100 ekor naga es yang menyerang tempat para prajurit itu berada saat ini pun telah berhasil dikalahkan. Tubuh para naga es yang hancur itu kini tersebar di sekeliling tempat kami berada. Sebagian besar prajurit terlihat kelelahan setelah melawan para naga es itu. Meski kelelahan, untungnya tidak ada satupun dari mereka yang terluka saat ini. Sebelumnya ada, tetapi mereka yang terluka langsung disembuhkan oleh Rid.
Kini, setelah 100 ekor naga es itu berhasil dikalahkan, para prajurit yang ada di tempat itu terlihat sedang mengarahkan pandangan mereka ke beberapa orang tertentu. Beberapa orang itu adalah Duke Louis, Duchess Arlet, Komandan Asier, komandan Ivana, Irene dan juga Rid. Alasan para prajurit itu melihat ke arah mereka karena mereka merasa takjub dan terkesan dengan aksi mereka berenam. Itu karena mereka berenam adalah orang yang paling banyak mengalahkan 100 ekor naga es itu.
"Apa-apaan mereka itu!? Mereka dapat mengalahkan para naga es itu dengan mudah,"
"Seperti yang diharapkan dari keluarga San Lucia. Mereka dipastikan adalah keluarga terkuat kedua setelah keluarga kerajaan di kerajaan San Fulgen ini,"
"Tidak, justru menurutku keluarga San Lucia merupakan keluarga terkuat di kerajaan ini,"
"Mereka semua benar-benar kuat, terlebih Rid Archie. Bisa-bisanya dia mengalahkan para naga es itu dengan mudahnya. Sejauh ini, dia yang paling banyak mengalahkan para naga es itu,"
"Itu benar. Anggota keluarga San Lucia memang kuat tetapi ada individu yang lebih kuat lagi dari luar keluarga San Lucia. Individu itu adalah Rid Archie. Bisa-bisanya dia menjadi orang yang paling banyak mengalahkan para naga es itu dalam kondisi sedang mengaktifkan sihir api penghangatnya dan juga sambil menyembuhkan orang-orang yang terluka. Dengan melakukan semua hal itu, bagaimana bisa dia masih belum kelelahan sampai sekarang?," ucap para prajurit itu.
-
Sementara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.
Sosok wanita berwujud Humanoid naga es terlihat sedang duduk di kursi singgasananya sambil memasang ekspresi yang sedikit terkejut.
"Mereka semua sudah dikalahkan? Secepat ini?," tanya wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu tiba-tiba berdiri dari kursi singgasananya.
"Kelihatannya orang-orang yang datang kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Kalian bertiga, cepat pergi ke tempat orang-orang itu," ucap wanita itu.
3 naga berukuran sangat besar yang berada di belakang kursi singgasana yang diduduki wanita itu terlihat sudah bersiap untuk menjalankan perintah wanita itu.
"Begitu kalian sampai di tempat mereka, langsung bunuh mereka semua tanpa terkecuali. Jangan biarkan ada satupun dari mereka yang hidup dan pergi dari pegunungan ini," ucap wanita itu dengan ekspresi yang serius.
Setelah mendengar perkataan wanita itu, 3 naga es itu pun langsung mengaum dengan sangat keras.
*ROAARRRRRRR
Kemudian, 3 naga es berukuran sangat besar itu pun langsung terbang melesat untuk menuju ke tempat Rid dan yang lainnya. Sementara wanita berwujud humanoid naga es itu terlihat sedang melihat ke arah 3 naga es yang sedang terbang untuk keluar dari gua.
"Aku tahu kalau wanita berambut putih itu datang lagi kesini tetapi saat ini aku sedang tidak mood untuk menerima tamu lagi," ucap wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu menoleh ke bagian pojok gua yang terdapat bongkahan es besar yang di dalamnya ada seorang wanita yang tertidur. Setelah menoleh ke bongkahan es itu selama beberapa detik, wanita itu lalu kembali duduk di kursi singgasananya dan mulai menutup matanya kembali.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments