Peace Hunter
Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Di tempat latihan yang berada di kediaman Duke San Lucia.
Para prajurit dan pelayan yang berada di pinggir tempat latihan itu terlihat sedang terkejut dengan apa yang mereka lihat di arena tempat latihan. Mereka terkejut karena di arena tempat latihan itu sedang terjadi pertarungan sengit antara Irene dan Duchess Arlet. Irene dan Duchess Arlet saat ini sedang beradu serangan dengan menggunakan rapier mereka masing-masing.
Saat ini, baik Irene dan Duchess Arlet terlihat sudah kelelahan. Mereka pun juga sudah mendapatkan beberapa luka di tubuh mereka. Meski begitu, masing-masing dari mereka berdua tidak berhenti dan terus menyerang satu sama lain.
~Glacier Strike~
Duchess Arlet melancarkan sebuah serangan dengan menggunakan rapiernya ke arah Irene.
~Glacier Strike~
Irene pun membalasnya dengan serangan yang sama. Kedua serangan itu lalu beradu.
*CLANG
Hembusan angin yang cukup kencang pun langsung tercipta setelah kedua serangan itu beradu. Duchess Arlet dan Irene beradu serangan itu cukup lama. Lalu tidak lama kemudian, masing-masing dari mereka pun mundur beberapa langkah ke belakang. Setelah mundur, mereka berdua pun bersiap untuk melakukan serangan lagi.
~San Lucia Art : Snow Blade Dance Technique~
Duchess Arlet dan Irene lalu menciptakan 10 buah rapier yang terbuat dari es. 10 rapier es itu kini sedang melayang mengelilingi mereka. Setelah itu, baik Irene dan Duchess Arlet mulai melesat ke depan lalu menyerang satu sama lain dengan menggunakan rapier yang dipegang mereka dan rapeir es yang mengelilingi mereka.
*Clang *Clang *Clang
Suara rapier yang sedang beradu terus terdengar seiring mereka yang terus saling beradu serangan. Adu serangan antara Irene dan Duchess Arlet terlihat imbang, tidak ada satupun dari mereka yang mendominasi sedikitpun pada adu serangan itu. Selain imbang, adu serangan itu pun juga berlangsung sengit. Saking sengitnya, tidak ada satupun serangan yang mereka lakukan mengenai tubuh lawan mereka. Semua serangan itu hanya mengenai dan tertahan di masing-masing senjata mereka.
Lalu, setelah cukup lama beradu serangan dengan rapier mereka baik itu rapier yang dipegang mereka ataupun rapier es yang mengelilingi mereka, mereka berdua lalu melancarkan serangan pamungkas.
~San Lucia Art : Multiple Freezing Air Slash~
Mereka berdua melancarkan serangan pamungkas yang sama. Mereka sama-sama menyerang dengan menggunakan rapier yang dipegang mereka dan rapier es yang mengelilingi tubuh mereka. Lalu setelah itu, kedua serangan pamungkas yang sama itu pun saling beradu.
*CLANGGGG
*BUMMM
Setelah serangan pamungkas itu beradu, suara dentuman yang cukup keras pun langsung terdengar. Suara dentuman itu merupakan dampak dari beradunya serangan pamungkas itu.
Dampak dari beradunya serangan pamungkas itu tidak hanya itu saja, karena saat ini di arena tempat latihan itu sedang diselimuti oleh kabut asap berwarna putih yang juga merupakan dampak dari beradunya serangan pamungkas itu. Munculnya kabut asap berwarna putih itu membuat para prajurit dan pelayan yang berada di pinggir tempat latihan itu menjadi bingung. Mereka bingung karena mereka tidak tahu kondisi di arena tempat latihan karena arena itu sedang diselimuti oleh kabut asap. Apalagi di arena tempat latihan yang sedang diselimuti kabut asap itu juga tidak terdengar suara apapun. Tidak ada suara senjata yang beradu atau suara lainnya dan itu membuat mereka menjadi bingung.
"Kabut asap yang tiba-tiba muncul ini membuat kita tidak bisa melihat ke arena tempat latihan. Selain itu, tidak terdengar suara apapun dari arena tempat latihan. Apa latih tandingnya sudah selesai?," tanya prajurit A.
"Jika latih tandingnya sudah selesai, siapa yang memenangkan latih tanding kali ini? Apakah putri Irene atau nona Duchess?," tanya prajurit B.
Mereka yang berada di pinggir tempat latihan masih bertanya-tanya tentang situasi di arena tempat latihan yang sedang diselimuti oleh kabut asap. Lalu beberapa detik kemudian, kabut asap berwarna putih yang menyelimuti arena tempat latihan itu secara perlahan mulai menghilang. Seiring kabut asap itu secara perlahan mulai menghilang, arena tempat latihan itu pun secara perlahan mulai dapat dilihat kembali oleh orang-orang yang berada di pinggir lapangan.
Mulanya arena tempat latihan yang dapat dilihat kembali adalah bagian pinggir yang dekat dengan tempat mereka berada. Lalu secara perlahan bagian tempat latihan yang dapat dilihat kembali menjadi luas hingga ke bagian yang dekat dengan bagian tengah tempat latihan. Ketika bagian tengah tempat latihan sudah sedikit dapat dilihat kembali, orang-orang yang ada di pinggir tempat latihan merelihat ada 2 sosok siluet yang berada di balik kabut asap yang masih menyelimuti bagian tengah tempat latihan. 1 sosok siluet terlihat sedang terduduk di lantai tempat latihan, sementara 1 sosok lainnya sedang berdiri sambil mengacungkan sebuah rapier ke sosok yang sedang terduduk itu. Orang-orang yang berada di pinggir tempat latihan pun penasaran dengan kedua sosok siluet itu. Meski begitu, mereka bukan penasaran dengan wujud asli kedua sosok siluet itu karena mereka tahu kalau kedua sosok siluet itu adalah Irene dan Duchess Arlet. Mereka lebih penasaran dengan siapa yang berada dalam posisi terduduk dan siapa yang berada dalam posisi berdiri sambil mengacungkan rapiernya.
Lalu tidak lama kemudian, kabut asap yang menyelimuti bagian tengah tempat latihan pun mulai menghilang. Kedua sosok siluet yang berada di bagian tengah pun kini dapat terlihat jelas. Kedua sosok siluet itu memang adalah Irene dan Duchess Arlet. Begitu sosok mereka berdua sudah terlihat jelas, beberapa orang yang berada di pinggir lapangan terlihat terkejut, sementara sisanya terlihat kecewa. Mereka kecewa karena mungkin hasil latihan tanding itu tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka sepertinya mengharapkan Irene untuk menang dalam latihan tanding kali ini, namun malah sebaliknya. Dalam latihan tanding kali ini, Duchess Arlet lah yang kembali memenangkannya karena Duchess Arlet lah yang sedang mengacungkan rapiernya ke arah Irene yang sedang terduduk.
"Sial, lagi-lagi putri Irene kalah. Padahal sudah setahun penuh putri Irene terus berlatih tanding dengan nona Duchess, tetapi sampai sekarang putri Irene belum pernah menang sekalipun. Apakah mengalahkan nona Duchess memang sangat sulit bagi putri Irene?," ucap prajurit A.
"Yah mau bagaimana lagi, nona Duchess merupakan orang terkuat di keluarga San Lucia. Tentunya sangat sulit bagi putri Irene untuk mengalahkan beliau. Meski begitu, melihat pertandingan tadi, sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja bagi putri Irene untuk bisa mengalahkan nona Duchess," ucap prajurit B.
"Iya, kamu benar. Putri Irene sekarang sudah bisa membuat nona Duchess kelelahan dan bahkan terluka. Bisa dibilang, putri Irene sekarang sudah bisa mengimbangi nona Duchess. Jika putri Irene bisa mempertahankan performanya atau bahkan meningkatkan performanya ini untuk latihan tanding selanjutnya, maka bisa dipastikan kekalahan nona Duchess akan terjadi dalam waktu dekat,’ ucap prajurit C.
Sementara itu, ketika orang-orang yang berada di pinggir tempat latihan sedang terkejut dan kecewa, Duchess Arlet yang saat ini sedang mengacungkan rapiernya ke arah Irene yang sedang terduduk kemudian mengatakan sesuatu kepada Irene.
"Aku menang lagi, sayang sekali ya, Irene. Meski begitu, yang barusan itu hampir saja. Kamu hampir bisa mengalahkanku, Irene," ucap Duchess Arlet.
"Iya, benar-benar disayangkan. Tetapi di latihan tanding selanjutnya aku pasti akan menang, ibunda," ucap Irene sambil menatap serius ke arah Duchess Arlet.
Duchess Arlet pun tersenyum setelah mendengar perkataan Irene itu. Setelah itu, Duchess Arlet melihat ke pinggir tempat latihan. Di bagian pinggir tempat latihan yang dilihat oleh Duchess Arlet, terlihat ada Leandra dan Lily disana. Duchess Arlet lalu memanggil mereka berdua.
"Leandra, Lily, segera bantu dan rawat Irene," ucap Duchess Arlet.
Leandra dan Lily pun langsung menuruti perkataan dari Duchess Arlet itu.
"Baik, nona Duchess," ucap Leandra dan Lily.
Leandra dan Lily pun langsung berlari untuk menghampiri Irene yang masih terduduk di depan Duchess Arlet. Sementara Duchess Arlet, setelah memanggil Leandra dan Lily, dia lalu menaruh kembali rapiernya di pinggangnya.
Tidak lama kemudian, Leandra dan Lily pun sampai di tempat mereka berada. Leandra dan Lily lalu membantu Irene untuk berdiri kembali. Selain membantu Irene untuk berdiri kembali, Lily juga membantu mengambil rapier Irene yang tergeletak tidak jauh dari tempat Irene terduduk.
Lalu, Irene pun kini sudah berdiri kembali dengan dibantu oleh Leandra dan Lily. Irene kemudian mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua.
"Terima kasih karena telah membantuku, Leandra, Lily. Aku saat ini sangat lelah sampai tidak bisa bangun sendiri. Saking lelahnya, aku juga tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan untuk memulihkan tubuhku sendiri," ucap Irene.
"Tidak perlu berterima kasih, nona. Lagipula ini merupakan salah satu tugas kami sebagai asistenmu," ucap Leandra.
"Itu benar, nona," ucap Lily.
Setelah Leandra dan Lily sudah membantu Irene untuk berdiri, Duchess Arlet lalu kembali mengatakan sesuatu kepada Leandra dan Lily.
"Leandra, Lily, segera bawa Irene ke pinggir tempat latihan. Setelah itu, segera panggilkan pelayan yang bisa menggunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan Irene,"
"Ah benar juga, Leandra, panggilkan ibumu saja. Ibumu merupakan salah satu dari pelayan yang bisa menggunakan sihir penyembuhan," ucap Duchess Arlet.
Mendengar perkataan Duchess Arlet, Leandra langsung menanggapinya.
"Tidak perlu, nona Duchess," ucap Leandra.
Duchess Arlet terlihat sedikit bingung dengan perkataan Leandra.
"Tidak perlu? Kenapa?," tanya Duchess Arlet.
"Tidak perlu memanggil pelayan yang bisa menggunakan sihir penyembuhan karena saya sendiri bisa menggunakan sihir penyembuhan. Saya sendiri yang akan menyembuhkan nona Irene," ucap Leandra.
Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut setelah mendengar perkataan Leandra.
"Kamu bisa menggunakan sihir penyembuhan? Aku baru tahu soal ini. Apa mungkin kamu bisa menggunakan sihir penyembuhan berkat latihanmu dengan ibumu selama setahun ini?," tanya Duchess Arlet.
"Itu benar, nona Duchess. Saya bisa menggunakan sihir penyembuhan berkat latihan saya bersama dengan ibu saya. Ibu saya sendiri yang mengajari saya sihir penyembuhan," ucap Leandra.
"Begitu ya. Ya sudah, jika kamu sendiri yang ingin menyembuhkan Irene maka lakukan saja," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona Duchess," ucap Leandra.
"Iya, sekarang kalian segera bawa Irene ke pinggir tempat latihan," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona Duchess. Tetapi bagaimana dengan nona Duchess sendiri?," tanya Leandra.
Duchess Arlet terlihat bingung dengan pertanyaan Leandra.
"Bagaimana denganku sendiri? Apa maksudmu, Leandra?," tanya Duchess Arlet.
"Nona Duchess saat ini juga terluka dan kelelahan, sama seperti nona Irene. Jika saya dan Lily membawa nona Irene ke pinggir tempat latihan, bagaimana dengan nona Duchess sendiri? Siapa yang membantu nona Duchess untuk pergi ke pinggir tempat latihan disaat nona Duchess sedang terluka dan kelelahan seperti ini?," tanya Leandra.
"Benar kata Lea, nona Duchess. Jika diperbolehkan, saya dapat membantu nona Duchess untuk pergi ke pinggir tempat latihan. Sementara nona Irene bisa dibawa sendiri oleh Lea ke pinggir tempat latihan," ucap Lily.
"Benar kata Lily, nona Duchess. Saya bisa membawa nona Irene sendiri, sementara Lily bisa membantu anda untuk pergi ke pinggir tempat latihan," ucap Leandra.
"Begitu ya, jadi kalian berdua khawatir kepadaku setelah melihat kondisiku ini. Aku berterima kasih karena kalian telah khawatir kepadaku, tetapi kalian tenang saja, aku bisa jalan sendiri ke pinggir tempat latihan," ucap Duchess Arlet.
"Tetapi nona Duchess-," ucap Lily.
Sebelum Lily menyelesaikan perkataannya, Duchess Arlet telah lebih dulu memotong perkataannya itu.
"Kamu bantu Leandra untuk membawa Irene ke pinggir tempat latihan saja, Lily. Kamu tidak perlu membantuku, lagipula aku masih bisa berjalan sendiri," ucap Duchess Arlet.
Lily pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Tidak hanya Lily saja, Leandra yang sebelumnya juga mengkhawatirkan Duchess Arlet juga terdiam.
Lalu ketika mereka berdua sedang terdiam, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sedang berjalan menghampiri mereka. Suara langkah kaki itu kemudian diiringi oleh suara seorang pria.
"Jika kalian berdua masih khawatir maka kalian tenang saja, biar aku sendiri yang membantunya," ucap pria tersebut.
Duchess Arlet, Leandra, Lily dan Irene yang mendengar suara itu langsung menoleh ke asal suara pria itu. Suara pria itu berasal dari belakang Duchess Arlet. Ketika mereka sudah menoleh ke asal suara pria itu, mereka pun terlihat sedikit terkejut. Mereka sedikit terkejut karena pria yang berbicara barusan ternyata adalah Duke Louis. Mereka awalnya sudah menyadari kalau suara itu adalah suara Duke Louis, tetapi yang membuat mereka terkejut adalah karena Duke Louis tiba-tiba ada di tempat latihan itu. Biasanya ketika Irene dan Duchess Arlet sedang berlatih tanding, dia tidak datang ke tempat latihan untuk menonton karena dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang Duke. Tetapi kali ini Duke Louis datang ke tempat latihan dan itu membuat mereka terkejut.
"Ayahanda!?," ucap Irene.
"Tuan Duke!?," ucap Leandra dan Lily.
"Sayang!? ucap Duchess Arlet.
Duke Louis terlihat bingung ketika melihat mereka yang terkejut.
"Ada apa? Kenapa kalian terkejut ketika melihatku?," tanya Duke Louis.
"Wajar kalau kami terkejut karena kami baru melihatmu lagi datang ke tempat latihan ini ketika latihan tanding antara aku dan Irene sedang berlangsung," ucap Duchess Arlet.
Leandra dan Lily pun mengangguk setuju.
"Begitu ya, jadi itu yang membuat kalian terkejut," ucap Duke Louis.
"Daripada itu, bukannya kamu seharusnya ada pekerjaan yang harus dikerjakan? Apa tidak apa-apa bagimu untuk datang kesini?," tanya Duchess Arlet.
"Kebetulan tugas yang harus aku kerjakan hari ini dapat aku selesaikan dengan lebih cepat, jadi aku bisa meluangkan waktu untuk menonton latihan tanding kalian. Tetapi sayangnya begitu aku tiba, latihan tanding kalian malah sudah selesai. Ketika aku tiba, kamu sedang mengacungkan rapiermu itu ke arah Irene yang sedang terduduk," ucap Duke Louis.
"Maaf, jika aku tahu kalau kamu akan datang, mungkin aku akan sedikit memperpanjang durasi latihan tandingnya," ucap Duchess Arlet.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu minta maaf," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis lalu menoleh dan melihat ke arah Irene yang sedang dipapah oleh Leandra dan Lily.
"Sayang sekali ya, Irene. Padahal hari ini merupakan hari peringatan 1 tahun berlangsungnya latihan tandingmu dengan ibumu. Hari ini, tepat 1 tahun yang lalu merupakan hari pertama kamu memulai latihan dan berlatih tanding dengan ibumu. Meski sudah 1 tahun berlalu tetapi kamu masih belum bisa mengalahkan ibumu,"
"Yah menurutku itu wajar, selama 1 tahun ini bukan hanya kamu saja yang bertambah kuat, Irene. Tetapi ibumu juga bertambah kuat dari latihan tanding denganmu. Jika hanya kamu saja yang bertambah kuat, kamu mungkin sudah bisa mengalahkan ibumu hanya dalam beberapa bulan. Tetapi karena ibumu juga ikut bertambah kuat, hal itulah yang membuatmu kesulitan dalam mengalahkan ibumu meskipun kamu terus berlatih tanding dengan ibumu selama setahun ini," ucap Duke Louis.
Irene yang sebelumnya terdiam lalu menanggapi perkataan Duke Louis.
"Iya, aku tahu, ayahanda. Saat ini aku memang kalah lagi dari ibunda, tetapi selanjutnya aku pasti akan menang," ucap Irene.
Duke Louis pun tersenyum setelah mendengar perkataan Irene. Setelah itu, dia lalu berbicara kembali.
"Leandra, Lily, sekarang kalian segera bawa Irene ke pinggir tempat latihan. Setelah itu, tolong langsung rawat Irene. Tentang Arlet, kalian tidak perlu khawatir, aku yang akan membantunya untuk pergi ke pinggir tempat latihan," ucap Duke Louis.
"Baik, tuan Duke," ucap Leandra dan Lily.
Setelah itu, Leandra dan Lily pun langsung membawa Irene untuk pergi ke pinggir tempat latihan. Setelah Irene sudah dibawah pergi oleh Leandra dan Lily, Duke Louis lalu mulai memapah Duchess Arlet untuk membantunya berjalan menuju pinggir tempat latihan. Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut karena Duke Louis tiba-tiba memapahnya.
"Kamu tidak perlu membantuku, sayang. Aku masih bisa berjalan sendiri," ucap Duchess Arlet.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri, sayang. Kondisimu saat ini baik dari faktor kelelahan dan faktor luka itu hampir sama seperti Irene. Aku tahu sebenarnya kamu kesulitan untuk berjalan sendiri. Tidak hanya berjalan sendiri saja, bahkan untuk berdiri pun kamu juga kesulitan. Tetapi kamu memaksakan diri agar yang lainnya tidak khawatir," ucap Duke Louis.
Duchess Arlet pun terdiam setelah mendengar perkataan Duke Louis.
"Karena kamu hanya diam saja itu berarti apa yang aku katakan barusan itu adalah benar. Maka dari itu biarkan aku membantumu berjalan dengan memapahmu. Atau mungkin kamu mau aku gendong sampai ke pinggir tempat latihan?," tanya Duke Louis.
"T-tidak perlu, dipapah saja sudah cukup," ucap Duchess Arlet.
Ekspresi Duchess Arlet terlihat malu saat mengatakan itu. Sementara Duke Louis langsung tertawa setelah mendengar perkataan Duchess Arlet itu. Kemudian, Duke Louis lalu membantu Duchess Arlet berjalan menuju pinggir tempat latihan. Ketika sedang berjalan menuju pinggir tempat latihan, Duke Louis kembali berbicara dengan Duchess Arlet.
"Melihatmu yang babak belur seperti ini, sepertinya putri kita sudah menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya," ucap Duke Louis.
"Iya. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, Irene yang saat ini sudah menjadi sangat kuat. Meski kali ini aku berhasil menang lagi dari Irene, tetapi tadi ada suatu momen dimana Irene hampir saja bisa mengalahkanku,"
"Kali ini, bisa dibilang kalau aku menang secara beruntung. Tetapi di latihan tanding selanjutnya, bukan tidak mungkin kalau Irene akan benar-benar mengalahkanku," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.
"Jika Irene memenangkan latihan tanding denganmu, itu berarti kamu mengizinkan Irene untuk pergi dengan Rid dalam mewujudkan impiannya?," tanya Duke Louis.
"Iya. Lagipula itu adalah syarat yang aku berikan kepadanya. Tidak mungkin aku membatalkan syarat itu secara tiba-tiba. Jadi begitu Irene menang melawanku, aku akan mengizinkannya untuk pergi dengan Rid," ucap Duchess Arlet.
Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, Duke Louis pun kembali terdiam. Melihat Duke Louis yang terdiam, Duchess Arlet pun kembali berbicara dengan Duke Louis. Duchess Arlet tahu kenapa Duke Louis tiba-tiba terdiam kembali.
"Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Jika Irene bisa menang melawanku, itu berarti Irene sudah menjadi lebih kuat. Dengan dia yang sudah menjadi lebih kuat, kita sebagai orang tuanya seharusnya tidak perlu khawatir lagi apabila Irene ingin ikut pergi dengan Rid. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Selain itu, Rid sebagai pacarnya juga pasti akan menjaga dan melindungi dirinya dari bahaya," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis yang sebelumnya terdiam kini mulai berbicara kembali untuk menanggapi perkataan Duchess Arlet.
"Ya, kamu ada benarnya," ucap Duke Louis.
Tidak lama kemudian, Duke Louis dan Duchess Arlet pun sampai di pinggir tempat latihan. Bagian pinggir tempat latihan yang didatangi Duke Louis dan Duchess Arlet merupakan bagian pinggir tempat latihan yang berbeda dengan yang didatangi oleh Leandra, Lily dan Irene.
Setelah Duke Louis dan Duchess Arlet sampai di pinggir tempat latihan itu, para prajurit dan pelayan yang juga berada di tempat itu pun langsung menghampiri mereka berdua.
"Nona Duchess, apa anda tidak apa-apa?," tanya prajurit A.
"Anda terlihat kelelahan, apa anda butuh minum, nona Duchess? Kebetulan saya membawa air minum," ucap pelayan A.
Para prajurit dan pelayan yang menghampiri Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat khawatir dengan keadaan Duchess Arlet. Melihat mereka yang khawatir, Duchess Arlet pun mencoba untuk menenangkan mereka.
"Tenang semuanya. Aku saat ini baik-baik saja jadi kalian semua tidak perlu khawatir," ucap Duchess Arlet.
Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, sebagian dari prajurit dan pelayan itu pun menjadi tenang. Sementara sebagian sisanya terlihat masih khawatir. Mereka yang masih khawatir itu terus menanyakan tentang keadaan dan kondisi Duchess Arlet.
Lalu, ketika para prajurit dan pelayan itu masih sedang mengerumuni Duke Louis dan Duchess Arlet, sebuah cahaya yang bersinar terang tiba-tiba muncul dari dalam saku pakaian Duke Louis. Cahaya itu seperti cahaya yang muncul ketika ada yang melakukan panggilan lewat kristal komunikasi.
Begitu Duke Louis menyadari cahaya itu, Duke Louis pun langsung memeriksa saku pakaian tempat cahaya itu muncul. Duke Louis lalu mengambil benda yang bercahaya itu dari saku pakaiannya. Dan ternyata benar, benda yang bercahaya itu adalah kristal komunikasi. Duchess Arlet yang melihat kristal komunikasi itu sedang bercahaya lalu menanyakan sesuatu kepada Duke Louis.
"Siapa yang sedang menghubungimu itu?," tanya Duchess Arlet.
"Entahlah, mungkin Yang Mulia Ratu atau para Duke yang lain. Aku akan menjawab panggilan ini dulu, kamu tetap disini saja, sayang," ucap Duke Louis.
"Baiklah," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, Duke Louis melihat ke para prajurit dan pelayan yang sedang mengerumuni mereka.
"Kalian semua, bagi kalian yang bisa menggunakan sihir penyembuhan, tolong segera untuk menyembuhkan Arlet. Lalu bagi kalian yang tidak bisa melakukan apa-apa, aku minta tolong untuk tidak mengerumuni Arlet terlebih dahulu. Biarkan dia untuk istirahat sejenak," ucap Duke Louis.
Para prajurit dan pelayan itu pun langsung mematuhi perkataan Duke Louis.
"Baik, tuan Duke," ucap para prajurit dan pelayan.
Setelah itu, para pelayan atau prajurit yang bisa menggunakan sihir penyembuhan mulai menghampiri Duchess Arlet untuk menyembuhkannya. Sementara Duke Louis terlihat mulai berjalan menjauh dari tempat Duchess Arlet berada untuk menjawab panggilan dari kristal komunikasinya. Duke Louis pergi ke bagian pojok tempat latihan yang mana di tempat itu terlihat sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali di tempat itu kecuali Duke Louis. Setelah sampai di tempat itu, Duke Louis lalu mulai menjawab panggilan dari kristal komunikasi itu.
"Halo?," ucap Duke Louis.
"Tuan Louis, ini aku," ucap suara seorang wanita.
Suara wanita itu terdengar seperti suara Ratu Kayana.
"Yang Mulia Ratu? Ada apa, Yang Mulia Ratu?," tanya Duke Louis.
"Apa Rid saat ini ada di kediaman anda? Aku ada perlu dengannya," ucap Ratu Kayana.
"Rid? Rid saat ini sedang tidak berada di kediaman saya, Yang Mulia Ratu. Dia saat ini sedang latihan di luar kediaman saya," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Pantas saja ketika sebelumnya aku menghubungi dia dengan menggunakan kristal komunikasi, dia tidak menjawabnya. Jadi dia sedang latihan ya," ucap Ratu Kayana.
"Iya, ketika latihan Rid memang tidak membawa kristal komunikasinya. Dia benar-benar fokus untuk menjalani latihannya itu tanpa ingin diganggu," ucap Duke Louis.
"Ya, sebelumnya dia juga bilang kalau dia benar-benar ingin fokus untuk latihan sebelum menjadi komandan prajurit yang baru," ucap Ratu Kayana.
"Soal anda yang ada perlu dengan Rid, apa anda ingin membahas soal penunjukan komandan prajurit yang baru itu dengan Rid?," tanya Duke Louis.
"Iya, aku ingin membahas soal itu. Lagipula ini sudah setahun sejak Rid bilang kalau dia ingin latihan selama setahun penuh terlebih dahulu sebelum menjadi komandan prajurit yang baru. Ini waktunya untuk membahas kembali soal penunjukan komandan prajurit yang baru itu," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya. Karena anda tidak bisa menghubungi atau memberitahu Rid secara langsung, maka biar saya saja yang akan memberitahunya nanti, Yang Mulia Ratu. Saya akan memberitahunya nanti kalau anda ada perlu dengannya," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, tuan Louis," ucap Ratu Kayana.
"Sama-sama, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Ratu Kayana dan Duke Louis pun melanjutkan pembicaraannya.
"Ngomong-ngomong, apakah Rid masih latihan di dekat perbatasan pegunungan Orokho yang berada di sebelah utara kota San Lucia?," tanya Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu. Tetapi Rid bilang dia tidak hanya latihan di dekat pegunungan Orokho yang berada di sebelah utara kota San Lucia saja, dia juga pergi ke dekat pegunungan Orokho yang berada di barat laut dan timur laut dari kota San Lucia. Alasan dia berpindah tempat dari tempat awal yang berada di sebelah utara kota San Lucia karena sebelumnya dia bilang di tempat itu sudah tidak ada hewan buas atau monster lagi. Dia sudah menghabisi semua hewan buas atau monster yang ada di tempat itu," ucap Duke Louis.
Ratu Kayana yang mendengar perkataan Duke Louis pun langsung tertawa.
"Ahahaha, bisa-bisanya dia menghabisi semua monster dan hewan buas yang ada di tempat itu. Tetapi, monster dan hewan buas yang dia habisi adalah monster dan hewan buas yang berada di dekat atau perbatasan gunung Orokho saja kan? Dia tidak menghabisi hewan buas atau monster yang berada di pegunungan Orokho-nya?," tanya Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu. Sejak awal, saya sudah memperingati Rid untuk latihan di dekat atau perbatasan pegunungan Orokho saja. Saya melarang dia memasuki wilayah pegunungan Orokho karena wilayah itu sangat berbahaya. Selain karena suhu di pegunungan itu sangatlah dingin, para monster yang ada di pegunungan itu pun juga sangat buas dan berbahaya. Selain itu, ada juga ’makhluk menyerupai naga es’ yang masih tinggal di pegunungan itu," ucap Duke Louis.
"Makhluk yang telah menghabisi pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh nona Arlet itu ya," ucap Ratu Kayana.
"Iya, makanya saya melarang Rid untuk memasuki wilayah pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.
"Baguslah kalau anda telah melarang Rid untuk memasuki pegunungan Orokho. Jika anda tidak melarangnya, ditakutkan Rid malah pergi memasuki wilayah pegunungan Orokho karena para hewan buas dan monster yang berada di dekat perbatasan pegunungan Orokho sudah habis," ucap Ratu Kayana.
Duke Louis pun terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Ratu Kayana. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.
"Saya memang bilang kalau hewan buas dan monster yang berada di tempat awal Rid latihan yaitu di sebelah utara kota San Lucia telah habis dan musnah. Tetapi itu terjadi sekitar 2-3 bulan yang lalu. Kini dalam beberapa hari terakhir, monster dan hewan buas itu kembali muncul di tempat awal Rid latihan. Mereka datang dari pegunungan Orokho dan jumlah mereka kini sangatlah banyak,"
"Tidak hanya di tempat awal Rid latihan yang berada di sebelah utara kota San Lucia saja, tetapi monster dan hewan buas yang berasal dari pegunungan Orokho juga turun di perbatasan yang berada di sebelah barat laut dan timur laut kota San Lucia. Jumlah para monster dan hewan buas yang turun itu sama banyaknya dengan yang berada di perbatasan sebelah utara kota San Lucia," ucap Duke Louis.
"Apa!?," ucap Ratu Kayana.
Suara Ratu Kayana terdengar terkejut setelah mendengar perkataan Duke Louis.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di pegunungan Orokho sehingga membuat banyak monster dan hewan buas yang berasal dari pegunungan itu turun ke perbatasan? Apalagi monster dan hewan buas yang turun itu jumlahnya sangat banyak," ucap Ratu Kayana.
"Kemungkinan besar memang ada sesuatu yang terjadi, Yang Mulia Ratu. Jika para monster dan hewan buas yang turun ke perbatasan jumlahnya hanya sedikit, bisa dibilang itu hanyalah kejadian umum karena memang beberapa monster atau hewan buas yang berasal dari sana sering turun ke perbatasan. Tetapi jika jumlah yang turun sangatlah banyak, sudah jelas ada sesuatu yang terjadi di pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.
"Kenapa baru sekarang anda memberitahuku soal ini?," tanya Ratu Kayana.
"Meskipun monster dan hewan buas yang turun ke perbatasan jumlahnya sangat banyak, tetapi hingga saat ini tidak ada penyerangan yang dilakukan oleh monster dan hewan buas itu ke desa atau kota kecil yang berada di dekat perbatasan pegunungan Orokho. Itu karena para prajurit Storm Leopard yang dipimpin oleh komandan Allister sudah bersiaga di sekitar desa atau kota yang berada di dekat perbatasan pegunungan Orokho. Para prajurit yang bersiaga itu akan langsung menghabisi para hewan buas dan monster yang mendekat ke desa atau kota tempat mereka bersiaga,"
"Tentang monster dan hewan buas yang jumlahnya sangat banyak itu, komandan Allister mengatakan selama situasinya belum mengkhawatirkan, tidak perlu untuk melaporkannya kepada anda. Saat ini situasinya juga belum mengkhawatirkan. Alasan saya memberitahu kepada anda sekarang karena kebetulan kita sedang membicarakan tentang para monster dan hewan buas itu,"
"Saat ini meskipun monster dan hewan buas yang berada di perbatasan jumlahnya sangat banyak, situasinya masih terkendali. Karena selain para prajurit Strom Leopard yang bersiaga dan bersiap untuk membasmi para monster dan hewan buas itu, Rid sendiri juga turun tangan untuk membasmi para hewan buas dan monster itu sebagai bagian dari latihannya," ucap Duke Louis.
-
Sementara itu, di sebuah tempat yang dekat dengan pegunungan Orokho.
Tempat itu terlihat berbeda dengan tempat yang biasanya dijadikan tempat latihan oleh Rid. Meski begitu, melihat pegunungan Orokho yang terlihat jelas dari tempat itu, bisa dipastikan kalau tempat itu adalah daerah perbatasan pegunungan Orokho dengan kota San Lucia.
Di tempat itu terlihat ada beberapa prajurit yang mengenakan seragam berlambang macan tutul. Beberapa prajurit itu merupakan prajurit Storm Leopard. Beberapa prajurit itu terlihat dipimpin oleh seorang prajurit wanita yang tidak asing. Prajurit wanita itu adalah Agneta yang merupakan wakil komandan Storm Leopard.
Saat ini, Agneta dan beberapa prajurit Storm Leopard yang dipimpinnya terlihat sangat terkejut ketika sedang menyaksikan sesuatu di hadapan mereka. Di hadapan mereka ada banyak sekali mayat hewan buas dan monster yang berasal dari pegunungan Orokho. Kondisi mayat hewan buas dan monster itu sangat beragam. Ada yang bagian tubuhnya terpotong-potong, ada yang terbakar hingga hangus, ada yang membeku, ada yang tubuhnya masih utuh tetapi dipenuhi oleh banyak luka dan ada juga yang tubuhnya ditusuk-tusuk oleh banyak pedang yang terbuat dari berbagai sihir elemen yang masih menusuk tubuh mereka.
"Meskipun aku sudah beberapa kali melihat ini ketika sedang berpatroli di perbatasan pegunungan Orokho, tetapi tetap saja aku masih belum terbiasa dengan hal ini,"
"Rid Archie, lagi-lagi dia berhasil membunuh para monster dan hewan buas ini seorang diri dengan mudahnya," ucap wakil komandan Agneta.
-
Kembali ke tempat latihan keluarga San Lucia, tempat Duke Louis berada.
Duke Louis terlihat masih berbicara dengan Ratu Kayana lewat kristal komunikasi.
"Soal kemungkinan ada sesuatu yang terjadi di pegunungan Orokho, sepertinya keluarga San Lucia harus memeriksanya kesana. Karena ancaman terhadap keluarga San Lucia sudah tidak ada lagi, sepertinya sudah waktunya bagi keluarga San Lucia untuk kembali melakukan ’itu’," ucap Duke Louis.
"Melakukan ’itu’? Jangan-jangan anda berniat untuk kembali melakukan ekspedisi disana?," tanya Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu. Saya selalu kepala keluarga San Lucia berniat untuk kembali melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.
-
Sementara itu di jalanan ibukota San Estella.
Terlihat Alisha dan Sophie yang merupakan senior Rid dan yang lainnya saat di akademi sedang menjalankan tugas mereka sebagai prajurit dengan berpatroli di jalanan itu. Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalanan itu. Lalu di depan mereka, tepatnya di sisi kanan mereka ada sebuah jalan kecil. Mereka tidak memperdulikan jalan kecil itu, mereka hanya melewati jalan kecil itu dan tidak memasukinya. Alasannya karena tugas patroli mereka hanyalah di jalanan utama yang sedang mereka susuri itu, jalanan kecil yang ada di beberapa titik di samping jalanan utama bukan tempat mereka berpatroli.
Namun, ketika mereka sedang melewati jalanan itu, Sophie yang pandangannya ke depan sekilas melihat ada seseorang yang mengenakan jubah yang berada di jalan kecil itu. Setelah melewati jalan kecil itu, Sophie pun langsung berhenti. Alisha terlihat bingung kenapa Sophie tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Sophie? Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?," tanya Alisha.
"Di jalanan kecil yang berada di sisi kanan jalan yang barusan kita lewati. Aku sekilas melihat ada orang yang mengenakan jubah sedang berdiri di jalanan itu. Apa kamu melihatnya, Alisha?," tanya Sophie.
"Orang yang mengenakan jubah? Tidak, aku tidak melihatnya. Sejak tadi aku hanya melihat ke depan jadi aku tidak melihat ke jalan kecil yang berada di sisi kanan itu," ucap Alisha.
"Begitu ya," ucap Sophie.
"Apa kamu yakin kalau yang kamu lihat di jalan kecil itu adalah seseorang yang mengenakan jubah? Bisa saja kamu salah lihat," ucap Alisha.
"Tidak, aku tidak salah lihat. Aku akan memeriksanya lagi," ucap Sophie.
Setelah itu, Sophie tiba-tiba berlari ke belakang lagi tepatnya ke depan jalan kecil itu. Alisha yang melihat Sophie tiba-tiba berlari ke belakang pun terkejut.
"Tunggu, Sophie!," ucap Alisha.
Tak lama kemudian, Sophie pun tiba di depan jalan kecil itu. Dia pun langsung melihat ke jalan kecil itu. Di jalan kecil itu, terlihat tidak ada seorang pun termasuk orang yang mengenakan jubah yang sebelumnya sekilas dilihat oleh Sophie. Sophie pun langsung bingung ketika melihat tidak ada siapapun disana.
"Ini aneh. Meskipun hanya sekilas, aku yakin kalau barusan aku melihat ada seseorang yang mengenakan jubah di jalan kecil ini," ucap Sophie.
"Seperti yang aku katakan tadi, mungkin kamu hanya salah liat saja, Sophie," ucap Alisha yang kini sudah berada di dekat Sophie.
Setelah Sophie berlari tadi, Alisha langsung menyusulnya ke depan jalan kecil tempat mereka berada saat ini. Setelah itu, Sophie pun terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Aku akan memeriksa jalan kecil ini untuk membuktikan apakah aku salah lihat atau tidak. Mungkin saja aku sebenarnya tidak salah lihat tadi. Tetapi ketika aku memeriksanya lagi, orang itu tidak ada karena dia sudah bersembunyi lebih dulu,"
"Kalau tidak salah, jalan kecil ini bukanlah jalan lurus. Di ujung sana ada jalan lain di sebelah kanan. Kemungkinan dia sedang bersembunyi disana. Aku akan memeriksanya, kamu tunggu disini saja, Alisha," ucap Sophie.
"Aku rasa kamu tidak perlu memeriksanya karena aku tidak merasakan adanya kehadiran seseorang di jalan ini. Jadi sudah pasti tidak ada orang di jalan ini," ucap Alisha.
"Bagaimana jika orang itu memiliki kemampuan yang bisa menghapus atau menyembunyikan kehadirannya? Pokoknya aku akan tetap memeriksanya, kamu tunggu disini saja," ucap Sophie.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Aku akan tunggu disini," ucap Alisha.
"Oke," ucap Sophie.
Setelah itu, Sophie pun berjalan memasuki jalan kecil itu, sementara Alisha menunggu di depan jalan kecil itu. Sophie terus berjalan lurus menyusuri jalan kecil itu hingga akhirnya dia sampai di ujung jalan. Di ujung jalan itu hanya ada sebuah dinding, tetapi ada jalan lain di sebelah kanannya. Sophie pun kemudian berbelok ke kanan dan mulai menyusuri jalan itu. Sama seperti di jalan kecil yang baru Sophie lewati barusan, di jalan itu juga tidak ada siapapun.
"Ini aneh. Meski hanya sekilas, tetapi aku benar-benar melihat ada seseorang yang mengenakan jubah di jalan ini. Kemana dia pergi? Apa mungkin aku memang salah lihat?," tanya Sophie. 𝒇𝒓𝒆𝒆𝙬𝒆𝒃𝓷𝒐𝓿𝙚𝙡.𝒄𝓸𝒎
Meski Sophie mulai meragukan apa yang dia lihat sebelumnya, dia terus menyusuri jalan kecil itu. Lalu beberapa saat kemudian, ketika Sophie sedang menyusuri jalan kecil itu, muncul seseorang yang mengenakan jubah di belakang Sophie. Sophie sangat terkejut karena dia tiba-tiba baru merasakan kehadiran orang itu. Sophie yang sebelumnya melihat ke depan pun langsung menoleh ke belakang. Tetapi, belum sempat dia menoleh ke belakang, orang yang mengenakan jubah itu langsung menembaki Sophie dengan sihir elemen yang keluar dari 2 jari tangan kanannya. Tembakan sihir itu langsung mengenai serta melubangi dada kiri dan kepala Sophie. Sophie pun langsung tewas seketika. Sophie tewas dengan kondisi kepala dan dada kiri yang berlubang. Darah pun langsung mengalir keluar dengan deras dari bagian tubuh Sophie yang berlubang itu.
Setelah orang yang mengenakan jubah itu membunuh Sophie, orang itu lalu melepas jubah yang dikenakannya. Setelah jubah yang dikenakannya terlepas, terlihat dengan jelas siapa orang itu. Orang itu adalah seorang wanita yang memiliki telinga panjang seperti telinga Elf. Tetapi wanita itu bukanlah Elf, karena wanita itu memiliki sepasang sayap seperti sayap kupu-kupu berukuran besar dan berwarna hijau. Wanita itu adalah Fee, seorang dari ras Peri yang merupakan salah satu dari komandan Engill Forstorelse. Fee juga merupakan salah satu orang yang ikut dalam penyerangan di San Fulgen Akademiya sekitar 4 tahun yang lalu.
Setelah melepaskan jubahnya itu, Fee lalu menghampiri jasad Sophie yang sudah tergeletak di depannya. Setelah itu, dia lalu berjongkok dan memegang wajah Sophie dengan tangannya.
~Mimicry~
Setelah itu, tubuh Fee yang sebelumnya masih berwujud seperti Peri, tiba-tiba langsung berganti wujud menjadi wujud Sophie. Wujud Sophie yang digunakan Fee itu benar-benar sangat sempurna. Fee benar-benar terlihat seperti Sophie.
Lalu setelah Fee telah berubah menjadi Sophie, Fee lalu berdiri kembali. Setelah berdiri, dia kemudian mengarahkan tangan kanannya ke arah Sophie.
~Fire Magic : Funus Ignis~
Setelah itu, Fee membakar jasad Sophie dengan menggunakan sihir apinya. Jasad Sophie yang sedang terbakar itu lalu secara perlahan mulai hangus dan berubah menjadi abu. Tidak lama kemudian, seluruh jasad Sophie pun kini telah berubah menjadi abu. Setelah melenyapkan jasad Sophie, Fee yang kini memakai wujud Sophie lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, di depan jalan kecil tempat Alisha berada.
Alisha terlihat masih menunggu di depan jalan kecil itu. Dia terus menunggu sambil melihat ke arah jalan kecil itu. Beberapa saat kemudian, dia melihat ’Sophie’ yang baru saja kembali dari jalan yang berada di sisi kanan dari ujung jalan kecil yang dilihatnya itu. ’Sophie’ kemudian terus berjalan untuk menghampiri Alisha. Ketika ’Sophie’ sudah berada di dekatnya, Alisha lalu mengatakan sesuatu kepada ’Sophie’.
"Bagaimana, Sophie? Apa kamu menemukan orang yang mencurigakan itu?," tanya Alisha.
"Tidak, aku tidak menemukannya," ucap ’Sophie’.
"Aku sudah bilang tadi kalau kamu mungkin salah lihat. Tetapi kamu tidak percaya dan bersikeras untuk memeriksanya. Ya sudah karena orang mencurigakannya tidak ada, lebih baik kita lanjut berpatroli," ucap Alisha.
"Iya," ucap ’Sophie’.
Setelah itu, Alisha dan ’Sophie’ pun kembali berjalan menyusuri jalanan utama untuk berpatroli. Ketika mereka berdua sedang berjalan di jalanan utama itu, ’Sophie’ terlihat berjalan sambil melihat ke arah White Palace yang kebetulan bisa dilihat dari jalanan tempat mereka berada. ’Sophie’ melihat dan menatap White Palace dengan tatapan yang sangat tajam.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments