Peace Hunter
Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Pagi harinya, di asrama akademi.
Aku saat ini sedang bersiap untuk memakai seragam akademiku. Beberapa saat sebelumnya, aku mendapatkan informasi kalau semua murid tahun keempat harus segera berkumpul di lantai 5 gedung lobi akademi. Itu dikarenakan acara kelulusan akan diadakan di lantai itu. Benar, hari ini merupakan hari kelulusan bagi kami yang merupakan murid tahun keempat. Hari ini juga merupakan hari terakhir kami menjadi murid akademi dan sekaligus hari terakhir kami tinggal di akademi.
"Sudah hampir 4 tahun berlalu ya. Padahal aku merasa baru kemarin aku menjadi murid akademi, tetapi sekarang sudah tiba hari kelulusan saja. Dalam 4 tahun ini, banyak hal yang telah terjadi," ucapku.
Kemudian, aku pun selesai memakai seragamku. Setelah itu, aku langsung bergegas keluar dari kamar asramaku. Setelah aku keluar dari kamar asramaku, aku melihat Irene yang sedang berdiri sambil melihat ke bawah, tepatnya ke halaman asrama akademi. Melihat Irene sedang berdiri, aku pun langsung memanggilnya.
"Irene," ucapku.
Irene langsung menoleh ke arahku setelah aku memanggilnya.
"Rid, kamu sudah selesai bersiap-siap?," tanya Irene.
"Iya. Kamu pun juga kelihatannya sudah selesai. Kamu bahkan lebih dulu selesai daripada yang lainnya," ucapku sambil melihat ke lorong lantai asrama akademi tempat kami berada.
Terlihat di lantai ini hanya ada kami berdua saja, yang berarti orang lain seperti Noa, Charles dan Chloe yang berada di lantai yang sama dengan kami belum selesai bersiap-siap.
"Iya. Lagipula aku biasanya memang tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap," ucap Irene.
Setelah itu, Irene kembali melihat ke bawah dari lantai tempat kami berada. Melihat Irene yang sedang melihat ke bawah, aku pun juga ikut melihat ke bawah. Terlihat di lantai bawah, tepatnya di halaman asrama akademi sudah ada beberapa murid yang sedang berkumpul dan berbincang satu sama lain. Ada juga beberapa murid yang sedang berjalan menuju gerbang asrama akademi untuk pergi menuju gedung lobi akademi.
"Tidak terasa kalau hari ini merupakan hari terakhir kita di akademi," ucap Irene sambil terus melihat ke bawah.
"Iya, kamu benar," ucapku yang juga sambil terus melihat ke bawah.
Tidak lama kemudian, kami berdua mendengar ada suara pintu yang terbuka. Kami berdua pun langsung menoleh ke asal suara pintu yang terbuka itu. Ketika kami menoleh, ternyata suara pintu yang terbuka itu berasal dari pintu asrama tempat Chloe tinggal. Chloe baru saja keluar dari pintu asramanya itu. Begitu Chloe keluar, Chloe pun langsung menyapaku dan Irene.
"Pagi, Rid, Irene," ucap Chloe.
"Pagi, Chloe," ucapku dan Irene.
Tidak lama setelah itu, giliran Charles dan Noa yang baru saja keluar dari asrama mereka. Setelah mereka berdua keluar, kami pun mengobrol di lantai tempat kami berada itu. Namun baru beberapa menit kami mengobrol, tiba-tiba kami mendengar ada suara yang memanggil Irene dari bawah.
"Nona Irene!!," ucap suara itu.
Dari suaranya, suara itu terdengar seperti suara Lily. Kami yang mendengar suara itu pun langsung melihat ke bawah. Dan benar saja, di lantai bawah terlihat ada Lily yang terus memanggil nama Irene. Lily tidak sendiri karena ada Leandra, Julie, Lillian dan juga Kotaro yang sedang bersamanya. Melihat mereka berempat sudah berada di lantai bawah, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan kami sambil berjalan menuju lantai bawah.
Setelah sampai di lantai bawah dan menghampiri mereka berempat, kami pun melanjutkan langkah kami untuk menuju gerbang asrama akademi. Begitu sampai di gerbang asrama akademi, kami terus melanjutkan langkah kami menuju gedung lobi akademi.
Begitu sampai di gedung lobi akademi, kami melihat sudah ada cukup banyak murid tahun keempat di gedung itu. Sebagian besar dari mereka masih berada di lantai 1 gedung lobi akademi, sementara sisanya sedang berjalan menaiki tangga untuk menuju ke lantai 5 gedung lobi akademi tempat acara kelulusan diadakan. Melihat beberapa murid yang sedang menaiki tangga itu, kami pun ikut menyusul mereka untuk menuju ke lantai 5 gedung lobi akademi.
Begitu sampai di lantai 5 gedung lobi akademi, terlihat sudah ada beberapa murid yang ada di lantai itu. Mereka semua sedang berbincang satu sama lain. Kami pun juga langsung berbincang begitu kami sampai di lantai itu. Kami berbincang sambil melihat sekeliling lantai 5 gedung lobi akademi yang merupakan arena pertandingan.
"Benar-benar nostalgia. Sudah lama kita tidak datang kesini," ucap Charles.
"Terakhir kita datang kesini saat ujian masuk akademi tahap ketiga, saat ujian pertarungan itu. Itu sudah hampir 4 tahun yang lalu. Setelah itu, kita tidak lagi datang kesini," ucap Noa.
"Yah lagipula tempat ini memang hanya dikhususkan untuk ujian masuk akademi saja. Kita sebagai murid akademi sudah pasti tidak diizinkan datang ke tempat ini jika tidak ada keperluan. Namun sekarang akhirnya kita datang lagi ke tempat ini karena tempat ini akan menjadi tempat kelulusan bagi kita,"
"Tempat ini ternyata menjadi awal dan akhir dalam perjalanan kita sebagai murid akademi," ucapku.
"Ya, kamu benar juga. Pasti itu alasan kenapa nona Karina menjadikan tempat ini sebagai tempat kelulusan bagi kita," ucap Charles.
Setelah itu, kami pun lanjut berbincang-bincang. Seiring waktu, murid tahun keempat yang lain pun mulai berdatangan sampai akhirnya seluruh murid tahun keempat pun sudah berkumpul di lantai 5 gedung lobi akademi. Setelah para murid sudah berkumpul, giliran beberapa staf dan pengajar akademi yang berdatangan. Tidak semua pengajar akademi yang datang, hanya pengajar untuk murid tahun keempat saja yang datang. Itu karena pengajar akademi yang lain, khususnya pengajar akademi untuk murid tahun pertama sampai tahun ketiga saat ini sedang melaksanakan acara kenaikan untuk murid-murid yang diajarinya. Di antara pengajar murid tahun keempat yang datang, aku melihat tuan Alan dan juga nona Nora.
Tidak lama setelah para staf dan pengajar murid tahun keempat datang, giliran nona Karina beserta tuan Frederick yang merupakan wakil kepala akademi yang datang. Setelah nona Karina datang, nona Karina lalu berdiri di depan kami semua dan mulai mengatakan sesuatu.
"Selamat pagi, semuanya," ucap nona Karina.
Kami semua pun langsung membalas sapaan nona Karina.
"Selamat pagi, nona," ucap para murid.
"Tidak terasa ya sudah hampir 4 tahun berlalu dan kini sudah waktunya bagi kita semua untuk berpisah," ucap nona Karina.
Terlihat beberapa murid mulai bersedih dan menitikkan air mata setelah nona Karina mengatakan itu.
"Aku memuji dan menghargai kerja keras dan perjuangan kalian selama hampir 4 tahun ini. Kalian tentu sudah berjuang dengan sangat keras sejak awal menjadi murid akademi sampai ke titik ini. Perjuangan yang kalian lalui pun juga tidak mudah. Ada kalanya kalian kalah dalam pertandingan atau gagal dalam ujian yang membuat kalian kehilangan poin yang dibutuhkan untuk naik kelas ketika kalian masih di tahun pertama sampai tahun ketiga atau untuk lulus dari akademi ketika kalian sudah di tahun keempat. Meski begitu, kalian tetap tidak menyerah, ini dibuktikan dengan kalian yang sudah sampai di titik ini," lanjut nona Karina.
Beberapa murid pun terdengar sedang menangis ketika nona Karina mengatakan itu.
"Selain itu, dalam hampir 4 tahun perjalanan kalian di akademi ini pun juga terjadi beberapa kejadian yang sangat tidak terduga. 3 tahun yang lalu, ketika kalian masih menjadi murid tahun pertama, akademi ini diserang oleh sekelompok manusia dan Demi-Human. Lalu, beberapa hari yang lalu, penyerangan besar-besaran terjadi lagi di akademi. Namun saat itu, bukan hanya akademi saja yang diserang, seluruh wilayah kerajaan San Fulgen pun juga ikut diserang. Meski ada banyak orang yang menjadi korban jiwa dalam penyerangan itu, salah satunya beberapa murid akademi yang mungkin diantaranya merupakan teman kalian, tetapi aku memuji kalian karena kalian bisa melewati kejadian-kejadian yang tidak terduga itu. Meski beberapa dari kalian mungkin belum bisa melupakan tentang kejadian itu, tetapi aku yakin kalau kalian secara perlahan bisa melupakan kejadian itu dan melangkah maju," lanjut nona Karina.
Suara tangisan dari beberapa murid pun semakin terdengar jelas.
"Perjalanan kalian di akademi ini mungkin sudah berakhir, tetapi perjalanan kalian yang sebenarnya baru akan dimulai. Setelah lulus dari akademi ini, kalian akan memulai perjalanan kalian dalam mewujudkan impian atau cita-cita kalian. Setelah lulus dari akademi, beberapa dari kalian mungkin akan ada yang menjadi prajurit, pedagang, pengelana atau petualang, atau bisa juga menjadi seseorang yang bisa mengubah sesuatu. Aku menantikan masa depan apa yang akan diraih dan dicapai oleh kalian,"
"Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku akan segera mengakhiri sambutanku ini, tetapi sebelum itu, izinkan aku untuk mengatakan sesuatu,"
"Aku, Karina Stella, sebagai kepala akademi menyatakan dengan bangga bisa memiliki murid seperti kalian semua," ucap nona Karina.
Setelah itu, semua murid yang ada disitu pun langsung bertepuk tangan. Tidak hanya para murid saja, para staf dan pengajar akademi yang hadir juga ikut bertepuk tangan.
"Setelah ini, mari kita dengarkan sambutan dari perwakilan para Murid. Rid Archie, silahkan maju," ucap nona Karina.
Aku sedikit terkejut ketika mendengar perkataan nona Karina. Nona Karina sebelumnya tidak memberitahuku kalau aku harus memberikan sambutan di acara kelulusan ini. Meski begitu, karena namaku telah dipanggil, mau tidak mau aku harus tetap maju ke depan untuk memberikan sambutan.
Kemudian, aku pun langsung maju ke depan ke tempat nona Karina berdiri. Setelah sampai di tempat itu, aku lalu melihat ke arah para murid dan kemudian mulai berbicara.
"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya ini. Seperti yang nona Karina katakan sebelumnya, tidak terasa kalau sudah hampir 4 tahun kami menjadi murid akademi. Suka dan duka pun telah kami lalui saat kami menjadi murid akademi. Saya mewakili para murid tahun keempat ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengajar, staf, tuan Frederick dan juga nona Karina yang telah membimbing kami dari mulai kami baru menjadi murid akademi hingga ke titik ini. Tanpa bimbingan kalian, kami tentunya tidak akan bisa melalui semua ini. Kalian juga membimbing kami disaat terjadi kejadian-kejadian yang tidak terduga di akademi ini. Kami benar-benar bersyukur karena kalian lah yang telah membimbing kami,"
"Itu saja yang ingin saya sampaikan sebagai perwakilan dari para murid. Saya akan segera mengakhiri ini tetapi sebelum itu, izinkan saya mengatakan sesuatu sebagai perwakilan para murid,"
"Kami sangat bangga karena telah menjadi murid San Fulgen Akademiya," ucapku.
Setelah itu, para murid, staf dan pengajar akademi pun kembali bertepuk tangan. Nona Karina pun juga ikut bertepuk tangan. Setelah itu, aku pun berniat untuk kembali ke tempatku berdiri sebelumnya sebelum dipanggil oleh nona Karina. Tetapi begitu aku ingin kembali, nona Karina tiba-tiba menghentikanku.
"Mau kemana kamu, Rid?," tanya nona Karina.
"Aku mau kembali ke tempatku sebelumnya," ucapku.
"Tunggu dulu. Tetaplah disini karena akan ada pemberian dokumen kelulusan dari pihak akademi untuk para murid. Karena kamu merupakan murid peringkat pertama dari keseluruhan murid tahun keempat, maka kamu yang pertama kali akan diberikan. Jadi kamu tetaplah disini," ucap nona Karina.
"Baik, nona," ucapku.
Aku pun akhirnya menuruti perkataan nona Karina untuk tetap berada di tempat itu. Tidak lama kemudian, beberapa staf akademi mulai menghampiri nona Karina sambil membawakan banyak gulungan kertas. Gulungan kertas itu bukan gulungan kertas biasa karena di beberapa bagian kertas itu terlihat ada dekorasi berwarna emas. Setelah itu, nona Karina lalu mengambil salah satu gulungan kertas yang dibawakan oleh beberapa staf akademi itu.
"Rid Archie, silahkan kemari," ucap nona Karina.
Mendengar nona Karina yang memanggilku, aku pun langsung menghampiri nona Karina. Nona Karina lalu memberikan gulungan kertas ini kepadaku.
"Ini bukti kalau kamu telah lulus dari San Fulgen Akademiya," ucap nona Karina.
"Terima kasih, nona," ucapku.
Setelah itu, nona Karina mengizinkanku untuk kembali ke tempatku semula. Karena nona Karina sudah mengizinkan, aku pun langsung kembali. Setelah itu, nona Karina memanggil nama Irene untuk menghampirinya. Dia terus memanggil nama-nama murid tahun keempat untuk maju menghampirinya.
-
Sekitar 1 jam kemudian.
Seluruh murid tahun keempat yang hadir pun sudah menghampiri nona Karina dan menerima gulungan kertas yang diberikan oleh nona Karina.
Setelah itu, nona Karina kembali berdiri di hadapan para murid dan kembali mengatakan sesuatu.
"Karena kalian semua sudah menerima dokumen kelulusan dari San Fulgen Akademiya, maka aku nyatakan kalau acara kelulusan ini telah selesai," ucap nona Karina.
Semua orang yang ada di tempat itu pun langsung bertepuk tangan. Beberapa murid terlihat kembali menangis setelah nona Karina mengatakan itu.
"Sebelum aku mengakhiri acara kelulusan ini, izinkan aku mengatakan sesuatu lagi kepada kalian. Senjata milik akademi yang diberikan kepada kalian selama kalian menjadi murid akademi boleh kalian simpan. Anggap saja sebagai kenang-kenangan ketika kalian menjadi murid akademi. Lalu, setelah kalian lulus dari akademi, entah apa impian dan cita-cita kalian, aku berharap kalian menjadi orang yang baik dan berguna bagi orang lain,"
"Sekarang, waktunya bagi kita semua untuk berpisah. Tetapi meski kita berpisah, kita masih akan bertemu lagi suatu saat nanti. Kalian juga boleh mengunjungi akademi kembali apabila kalian rindu dan kangen dengan akademi. Tetapi kalian hanya boleh datang ketika turnamen akademi apabila kalian diundang dan juga ketika festival akademi. Kalian tidak boleh datang seenaknya ke akademi kecuali ketika 2 event itu sedang berlangsung,"
"Itu saja yang ingin aku katakan. Aku, Karina Stella sebagai kepala akademi dengan ini menyatakan acara kelulusan untuk murid tahun keempat San Fulgen Akademiya telah resmi berakhir," ucap nona Karina.
Semua orang pun kembali bertepuk tangan setelah mendengar perkataan nona Karina itu. Selain itu, suara tangisan pun kembali terdengar dengan jelas. Acara kelulusan untuk murid tahun keempat pun telah resmi berakhir.
Meski acara kelulusan telah selesai, kami semua belum meninggalkan lantai 5 gedung lobi akademi. Itu karena kami harus menyapa para staf dan pengajar akademi terlebih dahulu sebelum kami pergi meninggalkan lantai itu. Aku dan yang lainnya saat ini sedang menyapa tuan Alan dan juga nona Nora.
"Selain Rid, Charles, Chloe dan Irene yang sudah pasti tidak melakukan itu, aku berharap kalian semua menjadi orang yang baik dan tidak terjerumus dalam kejahatan setelah kalian lulus nanti," ucap tuan Alan.
"Anda berkata seperti itu seolah kami akan menjadi orang yang jahat saja, tuan," ucap Noa.
"Yah siapa yang tahu tentang masa depan," ucap tuan Alan.
Kami pun tertawa setelah mendengar percakapan tuan Alan dan Noa. Saat kami masih berbincang dengan tuan Alan dan nona Nora, aku melihat nona Karina tiba-tiba menggerakkan tangannya sebagai kode untuk memanggilku. Aku pun langsung menghampiri nona Karina begitu melihat kode darinya.
"Ada apa, nona?," tanyaku.
"Tidak ada, aku hanya ingin berbincang untuk terakhir kalinya denganmu," ucap nona Karina.
"Berbincang untuk terakhirnya? Itu seperti diantara kita sebentar lagi akan mati saja. Lagipula setelah ini pun kita masih bisa berbincang lagi, nona. Nona sendiri bisa menghubungiku lewat kristal komunikasi apabila ingin berbincang," ucapku.
"Memang, tetapi aku tidak tahu harus berbincang tentang apa nantinya setelah kamu lulus. Selama ini, kita berbincang untuk membahas masalah akademi karena aku merupakan kepala akademi dan kamu merupakan murid akademi. Apalagi sebelumnya kamu juga merupakan ketua Elevrad, jadi wajar kalau kita sering berbincang untuk membahas masalah akademi. Tetapi setelah kamu lulus dari akademi dan sudah tidak menjadi murid lagi, entah apa yang harus aku perbincangkan," ucap nona Karina.
"Kita bisa mengobrol santai atau nona bisa curhat tentang apa yang terjadi di akademi. Mungkin aku bisa membantu," ucapku.
"Hmmmm, ya sudah aku coba nanti. Daripada itu, tidak terasa ya sekarang kamu sudah lulus saja. Aku ingat pertama kali aku berinteraksi denganmu adalah dengan menjadikanmu umpan untuk melawan Javier. Aku benar-benar minta maaf karena sudah menjadikanmu sebagai umpan untuk penyelidikanku," ucap nona Karina.
"Tidak apa-apa, nona. Lagipula berkat itu kita tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini. Kejadian Javier itu adalah awal dari terbongkarnya semua kejahatan tuan Remy," ucapku.
"Iya, kamu benar. Ya sudah, itu saja yang ingin aku katakan. Lebih baik sekarang kamu pergi untuk menghampiri teman-temanmu," ucap nona Karina.
"Baik, nona," ucapku.
"Jika kamu ada waktu, datanglah ke turnamen dan festival akademi tiap tahunnya setelah kamu lulus," ucap nona Karina.
"Baik, nona. Akan kuusahakan," ucapku.
"Ya sudah. Kalau begitu sampai jumpa di lain waktu, Rid," ucap nona Karina.
"Sampai jumpa juga, nona," ucapku.
Setelah itu, aku meninggalkan nona Karina untuk kembali menghampiri teman-temanku. Setelah aku sudah kembali menghampiri teman-temanku, kami semua kemudian pergi untuk meninggalkan lantai ini. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di lantai 1 gedung lobi akademi. Begitu sampai, kami semua langsung keluar dari gedung lobi akademi untuk menuju ke asrama akademi. Alasannya karena kami ingin merapihkan dan membereskan barang-barang kami. Setelah itu baru lah kami pergi meninggalkan akademi.
Di sepanjang jalan menuju ke asrama akademi, kami dihampiri oleh beberapa murid tahun pertama sampai tahun ketiga yang ingin mengucapkan selamat atas kelulusan kami. Kami pun menanggapi ucapan selamat mereka dengan mengucapkan ’terima kasih’.
Tidak lama kemudian, kami pun sampai di asrama akademi. Kami lalu langsung masuk ke kamar asrama kami masing-masing, begitu pun juga denganku. Begitu aku masuk ke kamar asramaku, aku langsung merapihkan dan membereskan barang-barangku di kamar asramaku. Sesekali aku melihat dan memperhatikan ke sekeliling asramaku untuk mengingat tentang kenangan yang ada di asramaku itu selama hampir 4 tahun.
"Sudah waktunya bagiku untuk meninggalkan asrama ini," ucapku.
Beberapa menit kemudian, aku pun telah selesai merapihkan dan membereskan barang-barangku. Aku kemudian pergi menuju pintu keluar asramaku sambil membawa barang-barangku. Setelah itu, aku langsung membuka pintu itu untuk keluar. Ketika aku sudah berada di luar, aku lalu melihat ke dalam asramaku selama beberapa saat. Aku lalu tersenyum dan kemudian aku menutup pintu asramaku itu dari luar.
Ketika aku sudah di luar kamar asramaku, aku melihat Irene yang kembali sedang melihat ke bawah, tepatnya ke lantai 1 asrama akademi. Irene terlihat sudah merapihkan dan membereskan barang-barangnya karena barang-barangnya itu saat ini sudah dia bawa. Hanya Irene saja yang ada disana, tidak ada Charles, Chloe dan Noa yang berarti mereka belum selesai merapihkan dan membereskan barang-barang mereka.
Ketika aku melihat Irene yang sedang melihat ke bawah, aku memutuskan untuk menghampirinya dan kemudian berbincang dengannya.
Tidak lama kemudian, Noa, Charles dan Chloe pun mulai keluar dari kamar asrama mereka sambil membawa barang-barang mereka. Tidak lama setelah mereka keluar, Leandra, Lily, Lillian, Julie beserta Kotaro lalu memanggil kami dari lantai 1 asrama akademi. Terlihat mereka juga sudah membawa barang-barang mereka yang telah dibereskan. Melihat mereka yang sudah ada di bawah, kami yang masih berada di lantai asrama tempat kami tinggal pun memutuskan untuk turun dan menghampiri mereka.
Setelah kami sudah menghampiri mereka, kami semua lalu berbincang sejenak. Setelah itu, kami secara perlahan mulai berjalan pergi menuju gerbang asrama akademi. Begitu kami sudah melewati gerbang asrama akademi, kami lalu menoleh ke belakang untuk melihat gedung asrama akademi. Kami terus melihat ke arah gedung asrama akademi selama beberapa saat. Tidak lama kemudian, kami pun kembali melanjutkan langkah kami. Kami terus berjalan untuk menuju ke gerbang akademi karena kami akan meninggalkan akademi.
Kami terus berjalan secara perlahan sambil melihat sekeliling jalan yang kami lewati. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di depan gedung lobi akademi. Kami lalu melihat ke arah gedung itu selama beberapa saat seperti yang kami lakukan terhadap gedung asrama akademi sebelumnya. Setelah melihat gedung lobi akademi, kami kembali melanjutkan langkah kami. Sekarang, kami hanya perlu berjalan lurus untuk menuju ke gerbang akademi.
Kami terus berjalan dan melihat ke sekeliling. Ketika kami melihat ke sekeliling, kami jadi teringat tentang kenangan ketika kami masih menjadi murid akademi. Saking fokusnya kami melihat sekeliling dan mengingat tentang kenangan kami, kami tahu-tahu sudah berada di gerbang akademi.
Di gerbang akademi, ada banyak sekali murid tahun pertama sampai murid tahun ketiga yang datang untuk mengucapkan selamat atas kelulusan kami, sekaligus mengucapkan salam perpisahan kepada kami yang merupakan murid tahun keempat. Di antara mereka, ada Elaina dan anggota Elevrad yang lain. Ketika kami melihat mereka, kami memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Senior Rid, senior Irene, senior Charles, senior Chloe dan senior yang lainnya. Selamat atas kelulusan kalian," ucap Elaina.
"Terima kasih, Elaina," ucapku.
Teman-temanku yang lain pun juga mengucapkan terima kasih. Tidak hanya Elaina saja yang mengucapkan selamat atas kelulusan kami, anggota Elevrad yang lain juga mengucapkan selamat. Kami pun langsung membalas ucapan selamat yang disampaikan mereka.
"Terima kasih karena kalian telah datang kesini. Meski kami sudah tidak menjadi murid akademi lagi, kami tidak akan melupakan kalian. Kalau begitu, kami pamit dulu. Tolong jaga diri kalian semua," ucapku.
"Iya, para senior juga tolong jaga diri kalian semua," ucap Elaina.
"Iya. Sampai jumpa di lain waktu kalian semua," ucapku.
"Sampai jumpa, senior," ucap Elaina.
Kami pun berpamitan dengan Elaina dan anggota Elevrad lainnya. Setelah itu, kami kembali melangkah menuju gerbang akademi. Setelah melewati gerbang akademi, kami pun tiba di pinggir jalan yang ada di depan gerbang akademi. Kami lalu diam disitu sambil menunggu kereta kuda yang akan menjemput kami. Sambil menunggu, kami pun saling berbincang.
"Setelah lulus, apa yang akan kamu lakukan, Noa?," tanya Charles.
"Aku ingin mendaftar menjadi prajurit. Kalau bisa aku ingin menjadi prajurit Duke San Minerva atau menjadi prajurit pasukan Silver Peacock. Dengan begitu, aku tidak akan jauh dari Lillian karena aku akan ditugaskan di sekitar wilayah San Minerva," ucap Noa.
"Benar juga. Tempat tinggal Lillian itu di kota Bibury yang ada wilayah San Minerva. Apalagi ayahnya merupakan penguasa kota Bibury. Pantas saja, kamu ingin ditugaskan di wilayah San Minerva," ucap Charles.
"Iya. Bagaimana denganmu, Charles? Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti? Karena kamu merupakan seorang pangeran, apakah kamu akan mulai menjabat dan mengerjakan tugas kerajaan sebagai seorang pangeran?," tanya Noa.
"Iya. Aku akan langsung melaksanakan tugasku sebagai seorang pangeran. Aku ingin membantu Ibunda dalam memimpin dan mengelola kerajaan San Fulgen. Chloe pun juga sama, dia akan langsung melaksanakan tugasnya sebagai seorang putri kerajaan. Setelah Ayahanda meninggal, sudah kewajiban kami sebagai putra dan putri Ibunda untuk membantu beliau," ucap Charles.
"Begitu ya. Semoga kamu bisa melaksanakan tugasmu sebagai pangeran dengan baik, Charles," ucap Noa.
"Iya, kamu pun juga, Noa," ucap Charles.
Setelah itu, mereka pun masih saling berbincang tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus nanti. Tidak lama kemudian, mereka tiba-tiba menoleh ke arahku.
"Aku penasaran dengan impianmu itu, Rid. Di pertemuan Elevrad semalam, kamu bilang kalau impianmu bukan untuk menjadi prajurit atau komandan prajurit di kerajaan ini. Kamu bilang juga kalau impianmu itu mengharuskan kamu untuk mendatangi seluruh kerajaan atau negara yang ada di dunia ini. Intinya kamu harus mengelilingi dunia ini. Sebenarnya impianmu itu apa?," tanya Charles.
"Iya. Aku juga penasaran tentang itu," ucap Noa.
Mereka semua terlihat penasaran dengan impianku. Hanya Irene, Leandra dan Lily saja yang tidak terlihat penasaran karena mereka sudah tahu tentang impianku.
"Aku sudah bilang semalam kalau kalian pasti akan sangat terkejut setelah mengetahui tentang impianku," ucapku.
"Justru karena kamu bilang begitu, itu membuat kami semakin penasaran," ucap Charles.
"Itu benar," ucap Noa.
Aku pun terdiam sambil melihat ke arah mereka yang masih terlihat penasaran. Tidak lama kemudian, aku pun mulai berbicara kembali.
"Baiklah, aku akan memberitahu tentang impianku," ucapku.
Setelah aku mengatakan itu, wajah mereka semua terlihat antusias.
"Sebenarnya, aku awalnya ingin menjadi salah satu dari komandan prajurit di kerajaan ini. Tetapi menjadi komandan prajurit bukanlah impian utamaku, melainkan sebagai jalan untuk mewujudkan impian utamaku. Alasan aku ingin menjadi komandan prajurit adalah untuk merubah kerajaan ini. Dulu, tentu kalian ingat kalau kerajaan ini masih menganut sistem perbudakan. Tetapi sekarang sistem perbudakan itu sudah dihapuskan. Beberapa kebijakan yang diskriminasi pun telah dihapus dan diganti dengan kebijakan anti diskriminasi oleh kerajaan ini. Jadi, aku sudah tidak perlu lagi untuk merubah kerajaan ini karena kerajaan ini sudah berubah dari yang sebelumnya,"
"Selain itu, aku berpikir kalau menjadi komandan prajurit sepertinya dapat membuatku bisa menjalin hubungan dengan kerajaan lain. Tetapi setelah aku perhatikan selama ini, pergerakan sebagai komandan prajurit hanya terbatas di kerajaan ini saja. Aku jarang melihat komandan prajurit pergi ke kerajaan atau negara lain. Maka dari itu, aku mengurungkan niatku untuk menjadi komandan prajurit karena aku ingin bergerak dengan bebas dan mengelilingi dunia ini,"
"Impianku yang sebenarnya adalah untuk membuat seluruh dunia ini menjadi damai. Untuk itu, aku harus mendatangi seluruh kerajaan atau negara yang ada di seluruh dunia ini," ucapku.
Setelah mendengar perkataanku, mereka semua selain Irene, Leandra dan Lily terlihat sangat terkejut.
"Membuat dunia ini menjadi damai!?," ucap Noa.
"Saat ini, dunia ini sedang terbagi menjadi 2 yaitu benua utara yang dikuasai oleh ras Malaikat dan benua selatan yang dikuasai oleh ras Iblis. Jika tujuanmu adalah untuk membuat seluruh dunia ini menjadi damai, apa itu berarti kamu akan menyatukan seluruh dunia ini!?," tanya Charles.
"Iya, itu benar," ucapku.
Mereka semua pun kembali terkejut setelah mendengar perkataanku.
"Aku sudah bilang kalau kalian pasti akan sangat terkejut setelah mengetahui tentang impianku," ucapku sambil melihat ke arah mereka yang terkejut.
"Itu mustahil, Rid. Menyatukan seluruh dunia ini adalah yang mustahil!," ucap Charles.
"Memang. Tetapi meskipun mustahil, aku akan tetap mewujudkan impianku itu," ucapku sambil tersenyum kearah mereka.
Mereka pun terdiam setelah mendengar perkataanku. Meski begitu, ekspresi terkejut mereka masih belum hilang.
-
Beberapa saat kemudian, beberapa kereta kuda pun mulai berdatangan untuk menjemput kami. Charles dan Chloe menaiki kereta kuda milik kerajaan yang datang untuk menjemput mereka. Noa, Lillian, Kotaro dan Julie menaiki kereta kuda yang berbeda yang sesuai dengan tujuan mereka masing-masing. Sedangkan aku, Irene, Leandra dan Lily menaiki kereta kuda milik Duke Louis yang datang untuk menjemput kami. Ketika kereta kuda milik Duke Louis telah datang, senior Nadine tiba-tiba keluar dari kereta kuda itu. Ternyata senior Nadine ditugaskan oleh Duke Louis untuk menjemput kami.
Begitu kereta kuda yang menjemput kami sampai, kami pun langsung berpamitan satu sama lain. Saat berpamitan, situasiku dan yang lainnya sedikit canggung setelah mereka mengetahui tentang impianku. Sebelumnya, setelah mengetahui tentang impianku, mereka tidak membahas lebih lanjut tentang impianku itu dan beralih untuk membicarakan tentang hal lain. Tetapi saat membicarakan tentang hal lain itu lah, situasi canggung itu tercipta. Situasi itu terus bertahan sampai kami berpamitan.
Setelah berpamitan, kami semua pun langsung menaiki kereta kuda yang menjemput kami masing-masing. Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine telah menaiki kereta kuda milik Duke Louis terlebih dahulu. Kini, giliranku yang sedang bersiap untuk menaiki kereta kuda itu. Tetapi sebelum aku menaiki kereta kuda itu, aku menoleh terlebih dahulu ke belakang, tepatnya ke gerbang akademi.
"Terima kasih atas 4 tahunnya," ucapku.
Setelah itu, aku lalu menaiki dan masuk ke dalam kereta kuda milik Duke Louis. Pintu kereta kuda pun langsung ditutup dan kereta kuda yang kami naiki pun mulai bergerak. Tidak hanya kereta kuda yang kami naiki saja, kereta kuda yang dinaiki Charles, Chloe dan yang lainnya juga mulai bergerak. Kereta kuda yang kami semua naiki terus bergerak membawa kami pergi meninggalkan San Fulgen Akademiya.
~Arc San Fulgen Akademiya - Selesai~ 𝒻𝑟𝘦𝘦𝘸ℯ𝒷𝑛𝘰𝓋ℯ𝘭.𝘤𝘰𝘮
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments