Peace Hunter
Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Beberapa menit kemudian, di sebuah lorong yang ada White Palace.
Karena pembicaraan yang kami lakukan sebelumnya telah selesai, kini aku, Ratu Kayana, nona Karina dan komandan Oliver sedang berjalan di lorong itu untuk menuju ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen. Sesuai janji Ratu Kayana sebelumnya, beliau akan memberikan sebuah pedang kepadaku sebagai hadiah kontribusi. Meskipun aku masih tidak menyangka kalau pedang yang akan diberikan kepadaku adalah salah satu harta kerajaan.
"Ngomong-ngomong, nona, apa tidak apa-apa anda ikut bersama kami? Bukankah saat ini anda merupakan orang asing bagi keluarga kerajaan? Bagaimana jika anda nanti dicurigai karena ikut masuk ke ruangan penyimpanan harta kerajaan?," tanyaku kepada nona Karina sambil terus berjalan menyusuri lorong itu.
Alasan aku menanyakan itu karena aku penasaran kenapa nona Karina yang saat ini merupakan seorang kepala akademi dan tidak memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan juga ikut pergi menuju ruangan penyimpanan harta kerajaan.
"Santai saja. Kalau ada prajurit atau orang-orang di kerajaan ini yang melihatku ikut masuk ke ruangan penyimpanan harta kerajaan, mereka paling berpikir kalau aku ikut masuk karena diundang oleh kakak. Jadi tidak akan ada masalah," ucap nona Karina.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, kami terus melangkahkan kaki kami menyusuri lorong itu. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di depan pintu sebuah ruangan yang berukuran cukup besar. Di depan pintu itu, ada 2 orang prajurit yang sedang berjaga. 2 orang prajurit itu nampak bingung dan heran ketika melihat kami khususnya Ratu Kayana tiba-tiba berhenti melangkah di depan pintu yang sedang mereka jaga.
"Kalian berdua," ucap Ratu Kayana kepada 2 orang prajurit yang berjaga di depan pintu itu.
2 orang prajurit itu pun dengan cepat langsung menanggapi perkataan Ratu Kayana.
"Siap!. Ada perlu apa, Yang Mulia Ratu?," tanya 2 orang prajurit.
"Aku ingin masuk ke dalam ruangan ini, bisakah kalian membuka kunci pintu ruangan ini?," tanya Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu.
Setelah itu, salah satu dari 2 orang prajurit itu lalu mengambil sebuah kunci dari saku seragam yang dia kenakan. Dia lalu membuka kunci pintu ruangan itu dengan kunci yang baru saja dia ambil. Setelah kunci pintu itu telah dibuka, 2 orang prajurit itu lalu membuka pintu ruangan itu.
"Silahkan masuk, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu setelah membuka pintu ruangan itu.
"Terima kasih,"
"Ayo kita masuk," ucap Ratu Kayana.
Ratu Kayana lalu mengajak aku, komandan Oliver dan nona Karina untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Ketika Ratu Kayana berjalan melewati 2 orang itu, Ratu Kayana lalu mengatakan sesuatu kepada 2 orang itu.
"Kalian berdua tolong tetap berjaga disini. Jangan biarkan orang lain masuk selagi kami masih berada di dalam ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu.
Setelah itu, kami pun melanjutkan langkah kami untuk memasuki ruangan itu. Ketika kami sudah berada di dalam ruangan itu, aku sedikit terkejut karena ruangan itu ternyata sangatlah luas. Di dalam ruangan itu ada banyak sekali barang. Ada banyak buku dan gulungan kertas yang tersusun rapi di sebuah rak. Lalu, ada banyak barang yang terbuat dari material yang berharga seperti perak, emas bahkan berlian di dalam ruangan itu. Melihat banyaknya barang-barang berharga di ruangan ini, tidak salah lagi kalau ruangan ini merupakan ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen.
"Ruangan ini merupakan ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen. Di ruangan ini tidak hanya menyimpan senjata atau barang-barang berharga saja, di ruangan ini juga menyimpan buku atau dokumen yang nilainya setara dengan barang-barang berharga di ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
Meski kami sudah berada di dalam ruangan itu, kami terus berjalan menyusuri ruangan itu sampai akhirnya kami sampai di ujung ruangan itu. Di ujung ruangan itu, ada banyak senjata yang telah tertata dengan rapi. Ada pedang, pedang besar, busur panah, belati, tongkat sihir, tombak dan lainnya. Beberapa senjata itu terlihat terbuat dari material atau bahan yang berharga.
Setelah kami sampai di ujung ruangan itu, kami pun langsung berhenti melangkahkan kaki kami.
"Kita sudah sampai di bagian penyimpanan senjata. Nah sekarang, silahkan pilih pedang yang kamu mau, Rid," ucap Ratu Kayana.
Setelah mendengar perkataan Ratu Kayana, aku pun langsung menanggapinya.
"Apa aku benar-benar boleh memilih salah satu pedang yang ada disini, Yang Mulia Ratu? Bagaimana jika aku memilih pedang yang paling berharga di ruangan ini?," tanyaku.
"Iya, kamu boleh memilih salah satu pedang yang ada disini, pedang apapun itu. Soal pedang yang paling berharga, pedang yang paling berharga yang merupakan harta kerajaan San Fulgen sudah menjadi milik Karina. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kamu bebas memilih pedang apapun di ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, aku lalu melihat pedang-pedang yang tertata dengan rapi di hadapanku itu. Ukuran pedang-pedang itu bervariasi, ada yang berukuran lebih pendek dari pedang pada umumnya dan ada juga yang berukuran lebih panjang dari pedang pada umumnya. Pedang-pedang itu pun juga memiliki warna yang bermacam-macam, tetapi pedang-pedang itu tidak ada yang memiliki warna yang mencolok seperti pedang milik kedua orang tuaku.
"Yang Mulia Ratu, bolehkah aku menyentuh dan memegang pedang-pedang ini?," tanyaku.
"Boleh, Rid," ucap Ratu Kayana.
Aku pun lalu mulai menyentuh dan memegang pedang-pedang itu satu persatu karena aku tidak puas hanya melihat dan memperhatikannya saja. Saat menyentuh dan memegang pedang-pedang itu satu persatu, aku sambil berbicara dengan Ratu Kayana.
"Ngomong-ngomong, Yang Mulia Ratu, jadi pedang yang dimiliki oleh nona Karina merupakan pedang paling berharga di antara pedang-pedang yang merupakan harta kerajaan. Aku sudah pernah melihat pedang yang dimiliki oleh nona Karina. Pedang itu berwarna putih dengan beberapa corak berwarna emas. Kalau boleh tahu, sebenarnya pedang apa itu sampai membuat pedang itu disebut sebagai pedang paling berharga di antara pedang-pedang yang merupakan harta kerajaan?," tanyaku. 𝕗𝕣𝐞𝐞𝘄𝐞𝚋𝚗𝗼𝘃𝗲𝗹.𝚌𝕠𝚖
"Pedang yang dimiliki oleh Karina merupakan pedang milik mendiang nenek buyut kami yang merupakan mantan Ratu kerajaan ini. Pedang itu bernama ’Sword of the Queen Ruler’. Pedang itu digunakan beliau untuk berperang ketika ’Great Holy War’ berlangsung,"
"Setelah nenek buyut kami meninggal, pedang itu terus diturunkan ke keturunannya. Pertama ke nenek kami, lalu ke ibu kami, dan sekarang pedang itu menjadi milik Karina. Seharusnya pedang itu menjadi milikku karena pedang itu seharusnya menjadi milik dari Ratu kerajaan San Fulgen. Tetapi keahlian berpedangku tidak sehebat Karina, maka dari itu aku memberikan pedang itu kepada Karina. Lagipula Karina juga merupakan keturunan dari nenek buyut kami," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya. Pantas saja pedang itu disebut sebagai pedang paling berharga diantara pedang-pedang yang merupakan harta kerajaan," ucapku.
"Iya, apalagi pedang itu juga merupakan pedang atau senjata asli milik kerajaan ini. Tidak semua senjata yang ada di ruangan ini merupakan senjata asli kerajaan ini, ada juga senjata yang berasal dari kerajaan atau negara lain yang diberikan sebagai hadiah. Dan ada juga senjata yang direbut atau diambil paksa sebagai rampasan perang. Senjata rampasan perang itu kebanyakan berasal dari ’Great Holy War’," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, aku lalu menoleh ke arah nona Karina.
"Aku tidak menyangka kalau pedang milik anda merupakan pedang paling berharga di kerajaan ini, nona Karina. Padahal anda sudah memutuskan untuk keluar dari keluarga anda yang merupakan keluarga bangsawan, tetapi bisa-bisanya anda memiliki pedang yang seharusnya dimiliki oleh Ratu kerajaan ini. Apa anda tidak khawatir identitas anda yang sebenarnya diketahui oleh orang lain karena anda memiliki pedang itu? Bagaimana jika ada orang lain yang mengetahui tentang pedang itu melihat anda yang sedang memegang pedang itu?," tanyaku.
"Tidak perlu khawatir, lagipula aku jarang mengeluarkan dan memakai pedang itu. Aku hanya memakai pedang itu disaat keadaan mendesak saja. Selain itu, meski pedang itu merupakan pedang paling berharga di kerajaan ini, tidak banyak orang yang tahu tentang pedang itu. Itu karena meskipun mendiang ibunda kami dan mendiang nenek kami juga pemilik pedang ini sebelumnya, mereka juga jarang mengeluarkan atau menggunakan pedang ini, jadi tidak banyak orang yang mengetahuinya," ucap nona Karina.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, aku kembali terus menyentuh dan mencoba pedang-pedang itu satu persatu. Beberapa menit kemudian, aku pun telah selesai menyentuh dan mencoba pedang-pedang itu. Setelah sudah selesai, aku pun terdiam sambil memikirkan sesuatu.
Ketika aku sedang terdiam, Ratu Kayana tiba-tiba menanyakan sesuatu kepadaku.
"Bagaimana, Rid, apa kamu sudah menentukan pedang mana yang cocok untuk kamu ambil?," tanya Ratu Kayana.
Setelah Ratu Kayana menanyakan itu, aku yang sebelumnya terdiam lalu mengambil salah satu pedang. Kemudian, aku menunjukkan dan memperlihatkan pedang yang aku ambil itu ke Ratu Kayana.
"Aku memilih pedang ini, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Pedang yang aku ambil ini memiliki ukuran normal seperti pedang pada umumnya. Pedang ini memiliki warna dominan biru dengan campuran warna putih. Pedang ini juga memiliki sarung pedang dengan warna yang sama.
Setelah aku menunjukkan pedang itu ke Ratu Kayana, Ratu Kayana lalu melihat dan memperhatikan pedang itu.
"Hmmmm pedang itu ya. Aku tidak tahu nama pedang itu karena pedang itu merupakan salah satu pedang rampasan yang didapatkan saat ’Great Holy War’. Jika kamu menginginkan pedang itu, silahkan ambil, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Karena pedang itu merupakan pedang rampasan, seharusnya pemilik sebelumnya dari pedang itu sudah tewas, jadi kamu bisa menggunakan pedang itu sesuka hati tanpa peduli dengan ’kontrak’ dari pemilik sebelumnya,"
"Lalu, karena pedang itu sekarang adalah milikmu, kamu harus membuat kontrak dengan pedang itu agar pedang itu menjadi milikmu dan apabila pedang itu dicuri atau diambil, orang yang mencuri atau mengambil pedang itu tidak bisa menggunakan pedang itu dengan sesuka hatinya. Kamu tahu kan cara membuat kontraknya, Rid?," tanya Ratu Kayana.
"Tahu, Yang Mulia Ratu. Yaitu dengan meneteskan sedikit darah dari penggunanya ke ujung pedang dan gagang pedangnya. Ini juga berlaku pada senjata yang lainnya, yaitu dengan meneteskan sedikit darah dari penggunanya ke bagian atas dan bagian bawah senjatanya," ucapku.
"Benar. Ya sudah kalau kamu sudah tahu sekarang kamu lebih baik segera membuat kontraknya," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, aku memegang pedang itu dengan tangan kananku. Kemudian, aku melukai ibu jari tangan kiriku dengan menggunakan gigiku. Lalu, darah yang berasal dari luka yang terdapat pada ibu jariku itu aku teteskan di ujung pedang dan gagang pedang itu. Setelah aku sudah meneteskan darahku di pegang itu, pedang itu tiba-tiba diselimuti aura yang berwarna seperti warna pedang itu. Tidak lama kemudian, aura pada pedang itu pun menghilang.
"Kelihatannya kontraknya sudah selesai," ucap Ratu Kayana yang sejak tadi terus melihatku yang sedang membuat kontrak dengan pedang itu.
"Iya, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Karena kontraknya telah selesai, pedang itu kini telah sepenuhnya menjadi milikmu, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Iya. Terima kasih karena telah memberikan pedang ini, Yang Mulia Ratu," ucap Ratu Kayana.
"Iya, sama-sama, Rid,"
"Karena aku sudah selesai berdiskusi denganmu dan aku pun juga telah memberikan hadiah kontribusi kepadamu berupa pedang itu, maka urusanku denganmu saat ini sudah selesai, Rid. Setelah ini, kamu boleh langsung kembali ke kediaman tuan Louis," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Tetapi sebelum aku kembali, aku ingin melihat Charles dan Chloe yang sedang berlatih terlebih dahulu, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Baiklah. Mereka biasanya berlatih di tempat latihan utama yang ada di istana ini. Jika kamu ingin kesana, kamu bisa minta tolong kepada prajurit atau pelayan yang ada di istana kediaman ini untuk mengantarkanmu kesana,"
"Aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkanmu kesana, Rid. Aku harus segera kembali ke ruanganku karena setelah ini ada hal penting yang harus aku lakukan," ucap Ratu Kayana.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Anda tidak perlu minta maaf. Aku awalnya memang berniat untuk pergi ke tempat latihan itu sendiri tanpa diantar oleh anda," ucapku.
"Baiklah kalau begitu. Karena urusan kita di ruangan ini sudah selesai, ayo kita segera tinggalkan ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Kemudian, kami semua pun langsung meninggalkan ruangan penyimpanan harta kerajaan itu. Setelah kami sudah meninggalkan ruangan itu, 2 orang prajurit yang berjaga di depan pintu ruangan itu pun langsung mengunci kembali pintu ruangan itu.
Setelah kami semua sudah keluar dari ruangan itu, kami pun berbincang sejenak di depan pintu ruangan itu.
"Jika kamu ingin ke tempat latihan untuk melihat Charles dan Chloe, pergilah ke arah sana, Rid," ucap Ratu Kayana sambil menunjuk jarinya ke lorong sebelah kanan dari pintu masuk ruangan tempat penyimpanan harta kerajaan.
"Kamu terus saja jalan lurus menyusuri lorong ini sampai ke ujung lorong. Begitu kamu mendekati atau sudah sampai di ujung lorong itu, apabila kamu bertemu dengan prajurit atau pelayan, kamu bisa minta tolong kepada mereka untuk mengantarkanmu ke lokasi tempat latihan itu," lanjut Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai nanti, Yang Mulia Ratu, komandan Oliver dan nona Karina," ucapku.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
"Sampai nanti, Rid," ucap nona Karina.
"Sampai nanti, tuan muda Rid," ucap komandan Oliver.
Setelah itu, aku pun terus berjalan menyusuri lorong itu untuk menuju ke ujung lorong itu.
Sementara itu, Ratu Kayana, komandan Oliver, dan nona Karina yang sebelumnya sedang melihat Rid, kini berbalik dan berjalan menyusuri lorong yang berbeda dengan Rid. Ketika sedang menyusuri lorong itu, nona Karina tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada Ratu Kayana.
"Setelah ini, apa kamu benar-benar akan melakukan itu, kakak? Apa kamu benar-benar akan menyerahkan jasad tuan Remy kepada ’mereka’?," tanya nona Karina.
"Iya. Tuan Remy selama ini menjadi dalang utama dari tewasnya banyak Elf yang jasadnya ditemukan di wilayah San Lucia. Jasad Elf itu ditemukan dengan kondisi jantung yang sudah tidak ada. Jantung itulah yang menjadi bahan eksperimen tuan Remy untuk membuat ’subjek’. Gara-gara itu hubungan kerajaan ini dengan kerajaan mereka menjadi renggang,"
"Untuk memperbaiki hubungan dengan kerajaan mereka, aku akan menyerahkan jasad tuan Remy beserta bukti-bukti yang menguatkan tentang tuan Remy yang merupakan dalang dari tewasnya banyak Elf itu,"
"Aku akan menyerahkan semua itu kepada kerajaan Elf, Seleria," ucap Ratu Kayana.
-
Sementara itu, di sebuah lorong sebuah bangunan.
Lorong itu berukuran cukup besar dan luas. Bahkan saking luasnya, di bagian samping lorong itu terdapat beberapa tiang penyangga langit-langit. Lorong itu saat ini dalam keadaan gelap, hanya ada sedikit cahaya yang menyinari lorong itu. Cahaya yang menyinari lorong itu berasal dari cahaya yang masuk dari jendela yang ada di dinding lorong itu. Lalu, di dekat ujung lorong itu, terlihat ada beberapa anak tangga. Dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu berukuran sangat besar. Bagi orang yang ingin menuju pintu itu harus menaiki beberapa anak tangga itu.
Sementara itu, di lorong itu terlihat ada seorang wanita yang sedang berjalan menuju anak tangga itu. Wanita itu adalah Leirion, salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’. Leirion nampaknya ingin memasuki ruangan yang ada di balik pintu berukuran besar itu. Namun, ketika Leirion sedang berjalan menuju pintu itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Jadi kamu juga datang ya, Leirion," ucap seseorang.
Suara itu terdengar seperti suara seorang pria. Leirion yang mendengar suara itu lalu menoleh ke asal suara itu. Suara itu berasal dari salah satu tiang penyangga yang ada di samping lorong itu. Ketika Leirion sudah menoleh ke salah satu tiang penyangga itu, dia melihat ada seorang pria yang sedang berdiri sambil bersandar di salah satu tiang penyangga itu. Pria itu terlihat seperti seorang remaja, wajahnya pun juga terlihat seperti seorang remaja. Pria itu memiliki 2 buah tanduk berwarna hitam di kepalanya. Pria itu juga memiliki telinga yang runcing, tetapi tidak seruncing telinga Elf. Selain itu, pria itu juga memiliki ekor berwarna hitam yang bersisik. Pria itu saat ini sedang memejamkan kedua matanya sambil bersandar di tiang penyangga itu.
"Tuan Firnen," ucap Leirion sambil melihat ke arah pria itu.
Setelah Leirion memanggil namanya, pria itu lalu membuka kedua matanya. Pria itu memiliki bola mata berwarna hitam pekat dan pupil mata berwarna merah. Pupil mata pria itu terlihat seperti pupil mata yang biasanya dimiliki oleh hewan reptil.
Nama pria itu adalah Firnen, Firnen Valkoin von Eragon. Sama seperti Leirion, Firnen juga merupakan salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’.
Lalu, setelah Firnen membuka matanya, dia lalu berjalan mendekati Leirion.
"Aku terkesan kamu masih bisa datang kesini, padahal dari yang aku dengar, kamu sudah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Padahal kamu hanya ditugaskan untuk merebut kerajaan yang lemah, tetapi kamu masih tetap gagal. Benar-benar memalukan," ucap Firnen sambil berjalan mendekati Leirion.
Setelah mendengar perkataan Firnen, Leirion langsung menanggapinya.
"Saya akui, saya memang telah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Tetapi sebagai salah satu ’Demon Sovereign Commanders’, saya harus tetap datang kesini untuk memenuhi panggilan Yang Mulia Raja Iblis," ucap Leirion.
Firnen tiba-tiba tertawa setelah mendengar perkataan Leirion
"Hahahaha, sebagai salah satu ’Demon Sovereign Commanders’ katamu? Kamu dipilih menjadi ’Demon Sovereign Commanders’ hanya sebagai pengganti dari ’Pangeran’ yang sedang diberi hukuman. Meskipun hanya sebagai pengganti, kamu aslinya tidak cocok menjadi ’Demon Sovereign Commanders’ karena kamu sangatlah lemah dibandingkan dengan ’Demon Sovereign Commanders’ yang ada saat ini. Jika ’pria itu’ yang merupakan bawahan terkuat ’Pangeran’ tidak menghilang, dia pasti yang akan ditugaskan untuk menjadi ’Demon Sovereign Commanders’ pengganti, bukan kamu," ucap Firnen.
Leirion pun terdiam setelah mendengar perkataan Firnen. Dia tidak berusaha untuk menanggapi perkataan Firnen sama sekali. Meski Leirion terdiam, Firnen terus melanjutkan perkataannya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ’Pangeran’ yang merupakan komandanmu sebelumnya? Apa dia baik-baik saja? Kapan masa tahanannya akan berakhir? Lebih baik kamu berharap agar ’Pangeran’ terus ditahan agar kamu bisa terus menjadi ’Demon Sovereign Commanders’,"
"’Pangeran’ ditahan karena telah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Selain itu, dia juga telah melanggar perintah Yang Mulia Raja Iblis. Dia rumornya memiliki hubungan dengan seorang malaikat. Jika benar begitu, masa tahanannya seharusnya sangatlah lama. Bahkan bisa saja dia ditahan seumur hidupnya,"
"Baik komandan dan bawahannya sama saja, sama-sama gagal menjalankan tugas. Memalukan sekali," ucap Firnen.
Mendengar itu, Leirion tampak marah.
"Saya tidak peduli apabila anda menjelek-jelekkan saya, tetapi saya tidak terima apabila anda menjelek-jelekkan ’Tuan Muda’, tuan Firnen," ucap Leirion.
Firnen pun kembali tertawa setelah mendengar perkataan Leirion.
"Hahahaha, terus kalau kamu tidak terima, kamu mau apa? Apa kamu mau melawanku? Kamu pikir kamu bisa menang melawanku?," tanya Firnen.
Leirion pun terdiam setelah mendengar perkataan Firnen. Meski begitu, Leirion masih menatap Firnen dengan tatapan marah.
Setelah itu, suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di lorong itu.
"Jika kalian berdua sudah ada disini, seharusnya kalian berdua langsung masuk ke dalam," ucap suara wanita itu.
Leirion dan Firnen langsung terkejut setelah mendengar suara wanita itu. Tidak hanya terkejut, mereka berdua juga terlihat takut setelah mendengar suara wanita itu. Mereka berdua lalu menoleh ke arah asal suara tersebut. Suara tersebut berasal dari pintu yang ada di ujung lorong tempat mereka berada. Benar saja, setelah mereka menoleh ke pintu tersebut, mereka melihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu itu. Wanita itu terlihat mengenakan gaun panjang berwarna hitam. Selain itu, wanita itu terlihat membawa sebuah pedang yang dibalut dengan sarung pedang berwarna hitam pekat di pinggangnya. Wanita itu terlihat mirip dengan wanita yang sebelumnya telah membantai para penduduk di sebuah desa sekaligus menghancurkan desa tersebut. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas karena di bagian depan pintu tersebut sangatlah gelap.
Setelah menoleh dan melihat ke arah wanita itu, Leirion dan Firnen lalu mengatakan sesuatu sambil ketakutan.
"S-saya minta maaf, putri," ucap Leirion.
"S-saya juga minta maaf, putri," ucap Firnen.
Wanita itu hanya terdiam setelah mendengar permintaan maaf mereka berdua. Wanita itu awalnya melihat ke arah mereka berdua yaitu Firnen dan Leirion. Tetapi setelah itu, wanita itu menoleh dan hanya melihat ke arah Firnen.
"Firnen," ucap wanita itu.
Firnen pun terkejut karena namanya tiba-tiba disebut oleh wanita itu.
"I-iya, putri," ucap Firnen.
"Barusan aku mendengar kalau kamu telah menjelek-jelekkan kakakku," ucap wanita itu.
Firnen pun kembali terkejut. Wajahnya terlihat semakin ketakutan.
"T-tidak, putri. S-saya tidak menjelek-jelekkan ’Pangeran’. M-mungkin anda salah dengar," ucap Firnen.
"Begitu ya. Jadi maksudmu aku telah salah mendengar perkataanmu," ucap wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu tiba-tiba memegang pedang miliknya yang ada di pinggangnya. Wanita itu lalu menarik sedikit pedang miliknya dari sarung pedangnya. Setelah itu, Firnen tiba-tiba mendapatkan luka yang cukup parah di badannya. Luka yang didapatkannya itu mirip seperti luka tebasan senjata tajam. Tidak hanya itu, kedua tangannya pun tiba-tiba telah terpotong. Bagian tangannya yang telah terpotong itu tiba-tiba sudah ada di lantai. Kemudian, darah langsung mengucur deras dari kedua tangannya yang telah terpotong itu. Firnen pun langsung berteriak kesakitan.
*AAAAHHHHHHH
Teriakan itu menggema di seluruh lorong itu. Leirion terlihat terkejut sekaligus ketakutan ketika melihat Firnen yang sedang terduduk sambil berteriak kesakitan. Dia tidak menyangka kalau Firnen telah terluka sangat parah hanya dalam sekejap. Sementara itu, wanita itu yang sebelumnya sedang memegang pedang miliknya, kini tidak lagi memegang pedang miliknya.
"Ini hukumanmu karena telah menjelekkan kakakku. Meskipun kakakku saat ini sedang ditahan atas perbuatannya, bukan berarti iblis rendahan sepertimu bisa seenaknya menjelekkan kakakku. Apa kamu paham?," tanya wanita itu.
Firnen yang sebelumnya berteriak kesakitan kini berusaha untuk menanggapi perkataan wanita itu.
"S-saya paham. S-saya minta maaf, putri Riena," ucap Firnen.
Wanita yang baru saja melukai dan memotong kedua lengan Firnen adalah putri Riena, salah satu putri dari Raja Iblis.
"Jika nanti aku mendengar kamu menjelek-jelekkan kakakku lagi, bukan hanya kedua tanganmu saja yang akan terpotong nanti, melainkan kepalamu juga," ucap putri Riena.
"B-baik, putri. S-saya berjanji untuk tidak menjelek-jelekkan ’Pangeran’ lagi," ucap Firnen.
"Baguslah kalau kamu mengerti,"
"Daruntia, cepat pulihkan Firnen," ucap putri Riena.
Setelah itu, di dekat Leirion dan Firnen tiba-tiba muncul sebuah pohon berukuran cukup besar. Tinggi pohon yang tiba-tiba muncul itu hampir mencapai tinggi langit-langit lorong itu. Lalu, setelah pohon itu tiba-tiba muncul, dari dalam pohon itu tiba-tiba muncul seorang wanita. Leirion dan Firnen terlihat tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan pohon itu dan juga wanita itu.
Wanita itu mengenakan sebuah gaun berwarna perpaduan hijau dan hitam. Terlihat ada sebuah batang pohon berukuran sedang beserta daun-daunnya yang melingkar di tubuh wanita itu layaknya seperti sebuah selendang. Selain itu, wanita itu juga memiliki bola mata berwarna hitam pekat dengan pupil mata berwarna merah. Pupil mata wanita itu berbentuk seperti sehelai daun.
Wanita itu bernama Daruntia. Sama seperti Leirion dan Firnen, dia juga merupakan salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’.
Setelah Daruntia keluar dari pohon yang tiba-tiba muncul itu, dia lalu menanggapi perkataan putri Riena.
"Baik, putri," ucap Daruntia.
Setelah itu, Daruntia mulai memulihkan tubuh Firnen.
"Aku serahkan Firnen kepadamu. Jika kamu sudah selesai memulihkannya, segera lah masuk ke dalam," ucap putri Riena.
"Baik, putri," ucap Daruntia.
Setelah itu, putri Riena lalu menoleh ke arah Leirion.
"Leirion, ayo kita masuk ke dalam. Yang Mulia Raja Iblis dan ’Demon Sovereign Commanders’ yang lainnya sudah menunggu," ucap Leirion.
Leirion awalnya terkejut karena namanya tiba-tiba disebut oleh putri Riena. Namun tidak lama kemudian, dia pun mulai menanggapi perkataan putri Riena.
"B-baik, putri," ucap Leirion.
Setelah itu, Leirion berjalan meninggalkan Firnen yang sedang dipulihkan oleh Daruntia untuk menghampiri putri Riena yang sedang berdiri di depan pintu berukuran besar itu. Tidak lama kemudian, Leirion pun kini sudah menghampiri dan berada dekat dengan putri Riena. Setelah itu, putri Riena lalu membuka pintu berukuran besar itu.
Ketika pintu berukuran besar itu telah terbuka, di dalamnya terlihat sebuah ruangan yang sangat besar. Ruangan itu terlihat sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya saja yang menyinari ruangan itu. Lalu, di beberapa titik ruangan itu terlihat ada 4 orang. 4 orang itu tidak terlihat dengan jelas karena ruangan yang gelap. Meski begitu, dari siluet 4 orang itu, 4 orang itu terdiri dari 2 orang pria dan 2 orang wanita.
Sementara di ujung dari ruangan itu, terlihat ada sebuah singgasana yang berukuran cukup besar. Di singgasana tersebut terlihat ada seorang pria yang sedang duduk. Pria itu kini sedang melihat ke arah putri Riena dan Leirion.
Setelah itu, pintu ruangan tempat mereka berada tiba-tiba mulai tertutup secara perlahan.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments