Peace Hunter
Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Beberapa menit kemudian, di tempat Rid dan Elsie berada.
Aku kini sedang melihat 2 buah gelang yang sebelumnya melingkar di kedua tangan Elsie yang kini sudah tergeletak di permukaan salju. Setelah melihat 2 gelang itu, aku lalu mengambil kedua gelang itu dengan menggunakan tangan kananku. Setelah mengambil kedua gelang itu, aku lalu melihat Elsie yang saat ini sedang berada di depanku. Elsie saat ini sedang terduduk sambil menundukkan kepalanya. Ketika Elsie sedang menundukkan kepalanya, aku melihat tetesan air terjatuh di bawah kepalanya. Tetesan air itu adalah air mata yang berasal dari kedua mata Elsie, yang berarti saat ini Elsie sedang menangis sambil menundukkan kepalanya.
"Akhirnya!!!!, akhirnya aku bisa lepas dari gereja Sancta Lux!!," ucap Elsie dengan suara yang cukup keras.
Setelah mengatakan itu, Elsie kemudian mengangkat kepalanya dan melihat ke atas sambil tetap terduduk. Meski Elsie sedang menangis, tetapi wajahnya terlihat bahagia. Elsie sepertinya senang karena aku sudah berhasil melepaskan 2 gelang yang sebelumnya melingkar di kedua tangannya. Meski cara yang aku pakai untuk melepaskan kedua gelang itu adalah dengan memotong kedua lengannya, tetapi karena aku bisa menyambungkan lengannya kembali, Elsie pun tidak keberatan. Kini dengan dilepasnya gelang itu dari kedua tangannya, Elsie pun kini sudah terbebas dari gereja Sancta Lux karena posisi dia tidak akan bisa terlacak lagi apabila dia melarikan diri atau kabur dari gereja Sancta Lux.
Melihat Elsie yang sedang menangis bahagia sambil melihat ke atas, aku hanya diam saja sambil terus melihat ke arahnya.
Lalu, sekitar 3 menit kemudian, Elsie yang sebelumnya terduduk kini sudah mulai berdiri kembali secara perlahan. Elsie kembali berdiri sambil membasuh air mata yang membasahi wajahnya. Setelah Elsie sudah berdiri dan juga sudah selesai membasuh air mata yang membasahi wajahnya, Elsie lalu melihat ke arahku. Setelah melihat ke arahku, Elsie tiba-tiba mulai berlutut sambil menghadap ke arahku.
"Rid Archie, aku benar-benar sangat berterima kasih karena kamu telah melepaskan gelang yang melingkar di kedua tanganku. Gelang yang membuatku terikat dengan gereja Sancta Lux. Setelah gelang itu berhasil dilepas, aku pun kini sudah tidak terikat lagi dengan gereja Sancta Lux karena aku sudah bebas dari pengawasan mereka. Mereka pun tidak akan bisa mengetahui posisi dan keberadaanku lagi,"
"Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih, Rid Archie. Aku berjanji kalau aku akan membalas budi atas apa yang kamu lakukan ini. Meskipun aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu ini," ucap Elsie.
Aku pun terkejut setelah melihat Elsie yang mengatakan itu sambil berlutut menghadap ke arahku.
"Apa yang kamu lakukan, nona Elsie ? Aku paham kalau kamu ingin mengucapkan terima kasih kepadaku, tetapi kamu tidak perlu berlutut seperti itu," ucapku.
"Ini sebagai rasa terima kasih sekaligus rasa hormatku kepadamu, Rid Archie," ucap Elsie.
"Rasa hormat seperti itu seharusnya ditujukan kepada seorang pemimpin seperti pemimpin kerajaan atau negara, sementara aku bukanlah seorang pemimpin. Jadi tolong berhenti berlutut dan berdirilah kembali, nona Elsie. Aku merasa tidak nyaman melihatmu seperti itu," ucapku.
Elsie pun terdiam setelah mendengar perkataanku. Elsie terdiam sambil masih berlutut menghadapku. Namun, tidak lama kemudian, Elsie secara perlahan mulai berdiri kembali.
"Baiklah, Rid Archie. Aku minta maaf karena telah membuatmu tidak nyaman. Apa yang aku lakukan barusan hanya untuk menunjukkan rasa terima kasih dan rasa hormatku kepadamu. Kalau kamu bilang rasa hormat yang aku lakukan seharusnya ditujukan kepada seorang pemimpin seperti pemimpin kerajaan, maka yang kamu katakan memang benar karena rasa hormat yang aku tujukan kepadamu bernilai sama seperti rasa hormat terhadap suatu pemimpin," ucap Elsie.
"Kamu terlalu berlebihan, nona Elsie. Apa yang aku lakukan hanyalah melepaskan gelang yang membuatmu terus terikat dengan gereja Sancta Lux. Tindakanku yang aku lakukan itu tidak harus mendapatkan rasa hormat yang setara dengan seorang pemimpin," ucapku.
"Tidak, ini tidaklah berlebihan. Karena kamu telah melepaskan gelang yang mengikatku dengan gereja Sancta Lux, aku pun kini bisa bebas kembali dari mereka. Tindakan yang kamu lakukan tidak bisa dilakukan oleh semua orang bahkan bagi seorang pemimpin kerajaan. Kamu tahu sendiri kan ? Di benua ini tidak ada satupun orang atau pihak yang berani mencari masalah dengan gereja Sancta Lux, bahkan seorang pemimpin kerajaan pun tidak akan berani mencari masalah dengan mereka. Jadi mereka pun juga pastinya tidak akan berani mencari masalah seperti membebaskan para Priest yang terpaksa bekerja untuk gereja Sancta Lux," ucap Elsie.
"Tetapi aku melakukan ini secara diam-diam tanpa diketahui oleh gereja Sancta Lux. Karena aku melakukan ini tanpa diketahui oleh mereka, ini berarti aku tidak mencari masalah dengan mereka. Orang lain pun juga bisa melakukan hal ini jika tidak diketahui oleh mereka," ucapku.
"Kamu salah, Rid Archie. Meski dilakukan secara diam-diam, tidak semua orang berani mencari masalah secara diam-diam dengan gereja Sancta Lux karena ada resiko diketahui oleh gereja Sancta Lux di kemudian hari. Di kemudian hari itu bisa saja beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian," ucap Elsie.
"Ada resiko diketahui oleh gereja Sancta Lux di kemudian hari ? Itu berarti tindakanku yang melepaskan gelangmu ini meski tidak diketahui oleh gereja Sancta Lux saat ini, masih akan diketahui oleh mereka di kemudian hari ?," tanyaku.
"Iya, itu benar. Tetapi setidaknya, masih lebih baik daripada diketahui secara langsung oleh mereka karena kalau diketahui secara langsung, mereka akan langsung bergerak saat itu juga sementara jika baru diketahui di kemudian hari, mereka baru bergerak saat masalah ini diketahui. Jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan diri,"
"Tetapi resiko untuk diketahui di kemudian hari itu hanyalah 50%, sisa 50% lagi kemungkinan tidak akan diketahui oleh mereka sampai kapanpun. Karena itu, setelah aku sudah bebas dari mereka, aku sebisa mungkin tidak akan pergi ke tempat atau wilayah suatu negara yang memiliki gereja Sancta Lux. Aku tidak ingin mereka tahu atau menyadari kalau aku pernah bekerja sebagai seorang Priest," ucap Elsie.
"Apa mungkin Priest dari gereja Sancta Lux lain akan tahu kalau kamu merupakan seorang mantan Priest ? Jika kamu tetap berada di kerajaan San Fulgen, wajar jika Priest gereja Sancta Lux di kerajaan ini mengenalimu karena kamu merupakan Priest gereja Sancta Lux di kerajaan ini, tepatnya di kota San Lucia. Tetapi jika kamu pergi ke kerajaan lain yang belum pernah kamu datangi dan di kerajaan itu memiliki gereja Sancta Lux, aku pikir mereka tidak akan mengenalimu. Jadi seharusnya aman jika kamu mau pergi atau datang ke kerajaan itu," ucapku.
"Seharusnya memang aman karena tidak semua Priest gereja Sancta Lux mengenali aku, mungkin hanya para Priest gereja Sancta Lux di kerajaan ini atau di Holy Kingdom. Tetapi aku tetap harus waspada, Rid Archie," ucap Elsie.
Setelah mengatakan itu, Elsie lalu melihat ke arah 2 buah gelang yang sebelumnya melingkar di kedua lengannya yang saat ini sedang aku pegang dengan menggunakan tangan kananku.
"Gelang itu, meskipun gelang itu sudah tidak melingkar di kedua lenganku, gelang itu masih dapat menunjukan lokasi," ucap Elsie.
Setelah Elsie mengatakan itu, aku pun juga ikut melihat dan memperhatikan kedua gelang yang aku pegang. Aku terdiam selama beberapa saat sambil melihat ke arah kedua gelang itu. Tidak berselang lama, aku pun mulai berbicara kembali.
"Begitu ya. Gelang ini masih dapat menunjukkan lokasi meskipun gelang ini sudah tidak dipasang ke penggunanya. Jika gelang ini tetap berada disini, High Priest yang memantau lokasi gelang ini mungkin akan bingung karena lokasi gelang ini tetap berada disini dan tidak berpindah. Ada kemungkinan pengguna dari gelang ini yaitu kamu sedang berada dalam masalah karena lokasi gelangnya tidak berpindah. Karena itu, High Priest mungkin akan memerintah anak buahnya untuk datang kesini untuk memeriksa keadaanmu karena lokasi gelang yang kamu pakai tidak berpindah-pindah. Lalu begitu mereka datang kesini, mereka akhirnya menyadari kalau yang ada disini hanyalah kedua gelang ini saja, pengguna dari kedua gelang ini yaitu kamu tidak ada disini," ucapku.
"Iya. Begitu mereka tahu kalau yang ada disini hanyalah kedua gelang yang sebelumnya aku pakai saja, mereka pasti akan langsung melaporkan kepada tuan High Priest. Tuan High Priest pasti akan menganggap kalau aku telah melarikan diri karena hanya ada kedua gelang milikku saja sementara aku atau jasadku jika aku meninggal malah tidak ada. Kalau kedua gelang ini ditemukan bersamaan dengan jasadku, maka bisa disimpulkan kalau aku telah mati,"
"Jika tuan High Priest telah menganggap aku melarikan diri, mungkin beliau akan melaporkan tentang hal ini ke seluruh gereja Sancta Lux yang ada di benua ini. Mungkin beliau akan menyebarkan wajahku dalam bentuk poster ke seluruh gereja Sancta Lux yang ada di benua ini agar jika ada salah satu Priest yang melihat atau mengenali wajahku, mereka bisa langsung menangkapku. Cara ini sangat mungkin dilakukan oleh tuan High Priest karena beliau tidak bisa mencariku secara langsung karena aku sudah tidak mengenakan kedua gelang itu,"
"Tetapi itu semua hanyalah pemikiranku saja karena hingga saat ini tidak ada kasus dimana ada seorang Priest yang melarikan diri dengan gelang yang sudah terlepas dari kedua lengannya. Karena seperti yang kamu tahu untuk membuka atau melepas gelang itu sangatlah sulit, para Priest juga tidak mungkin memotong lengan mereka sendiri untuk melepas gelang yang dikenakan mereka. Mungkin hingga saat ini baru aku saja yang bisa melarikan diri dengan gelang yang sudah terlepas dari tanganku," ucap Elsie.
"Hmm begitu ya. Sepertinya sulit juga untuk bisa bebas dari mereka meskipun gelang ini sudah dilepas dari kedua tanganmu. Bahkan kamu masih harus hati-hati agar tidak bertemu dengan Priest gereja Sancta Lux lainnya agar mereka tidak mengenali dirimu," ucapku.
"Yah tetapi yang aku katakan tadi hanyalah kemungkinan saja kalau mereka akan melakukan itu. Meski begitu, tidak ada salahnya juga bagiku untuk terus berhati-hati dan waspada," ucap Elsie.
Setelah Elsie mengatakan itu, aku kembali melihat dan memperhatikan kedua gelang yang aku pegang.
"Aku akan coba menaruh gelang ini di dekat jasad dari orang-orang yang sebelumnya ikut bersamamu untuk mengejarku. Jika aku menaruh gelang ini disana, mungkin akan sedikit mengelabui kondisimu jika orang-orang dari gereja Sancta Lux datang untuk memeriksa gelang ini. Mereka mungkin akan berpikir kalau kamu juga ikut mati jika aku menaruh gelang ini di dekat jasad orang-orang itu," ucapku.
"Sebelumnya, ketika aku belum sampai kesini, aku melihat dan memperhatikan beberapa orang yang telah tewas akibat diserang oleh ketiga naga es ciptaanmu. Jasad dari orang-orang itu dalam kondisi yang mengenaskan. Beberapa anggota tubuh mereka ada yang sudah hilang atau hancur karena terkena serangan ketiga naga es itu. Jika kamu menaruh kedua gelang yang sebelumnya aku kenakan itu di dekat jasad mereka, mungkin orang-orang dari gereja Sancta Lux yang akan datang untuk memeriksa kondisi gelang yang sebelumnya aku kenakan akan berpikir kalau aku telah tewas dengan kondisi tubuh yang sudah hilang atau hancur. Kondisi jasad-jasad di sekitar ditemukannya gelang itu akan menguatkan tentang hal ini. Apa karena alasan ini lah kamu jadi berpikir untuk menaruh kedua gelang itu disana, Rid Archie ?," tanya Elsie.
"Iya. Setelah sebelumnya aku mendengar kalau beberapa dari orang yang ikut bersamamu sebelumnya telah tewas akibat serangan ketiga Naga es yang aku ciptakan, aku jadi terpikirkan tentang ide ini. Aku pun juga sudah menduga kalau mereka yang telah tewas itu pasti tewas dengan kondisi tubuh yang mengenaskan karena yang menyerang mereka adalah naga, meskipun hanya naga buatan dan bukan naga asli. Maka dari itu aku berpikir sepertinya ide yang bagus untuk menaruh gelang ini di dekat jasad-jasad mereka agar ketika gelang ini ditemukan oleh pihak gereja Sancta Lux, mereka akan berpikir kalau kamu juga telah mati," ucapku.
"Kamu benar-benar cerdas sampai bisa memikirkan ide seperti itu, Rid Archie. Jika kamu mau menaruh gelang itu disana, silahkan saja, Rid Archie," ucap Elsie.
"Baik, nona Elsie," ucapku.
"Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu karena telah membantuku, Rid Archie," ucap Elsie.
"Sama-sama, nona Elsie," ucapku.
"Aku benar-benar mengucapkan terima kasih karena kamu telah banyak membantuku kali ini. Aku berjanji kalau aku pasti akan membalas budi atas bantuanmu ini," ucap Elsie.
"Sudah cukup, nona Elsie. Kamu telah cukup banyak mengucapkan terima kasih kepadaku. Tolong jangan ucapkan terima kasih lagi," ucapku.
"Ah maaf, sepertinya kamu merasa tidak nyaman ya. Aku tidak bisa menahan diri karena akhirnya aku bisa terbebas dari gereja Sancta Lux setelah sekian lama aku terpaksa menjadi Priest di gereja Sancta Lux. Jadi aku minta maaf apabila aku terus mengucapkan terima kasih kepadamu," ucap Elsie.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf, nona Elsie. Aku paham kalau kamu tidak bisa menahan diri untuk mengucapkan terima kasih karena mungkin apa yang sebelumnya aku lakukan telah membuatmu terbebas dari gereja Sancta Lux. Kamu pun tidak akan terikat lagi dengan gereja itu. Aku pun senang karena apa yang aku lakukan telah membantu seseorang untuk meraih kebebasannya kembali. Hanya saja, aku juga merasa sedih," ucapku sambil menampilkan ekspresi yang sedikit sedih.
"Merasa sedih karena apa, Rid Archie ?," tanya Elsie yang bingung.
"Aku merasa sedih setelah mengetahui kalau ada 3 orang Priest yang ikut denganmu untuk mengejarku sebelumnya. 3 orang Priest itu saat ini mungkin telah tewas karena serangan 3 Naga es yang aku buat. Sebelumnya kamu bilang kalau bukan hanya kamu saja yang direkrut secara paksa oleh gereja Sancta Lux, tetapi ada beberapa Priest juga yang direkrut secara paksa. Itulah yang membuatku merasa sedih karena salah satu atau bahkan 3 orang Priest yang telah tewas akibat serangan naga es ciptaanku itu mungkin saja juga merupakan Priest yang direkrut secara paksa. Jika benar begitu, aku telah membunuh orang yang sepenuhnya tidak bersalah karena jika mereka adalah Priest yang direkrut secara paksa, mereka terpaksa untuk mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka dengan harapan kalau mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka, mereka mungkin bisa keluar dari pekerjaan mereka sebagai Priest suatu saat nanti. Sama seperti yang sebelumnya kamu harapkan ketika kamu baru menjadi seorang Priest, nona Elsie," ucapku.
Setelah mengatakan itu, aku lalu menoleh ke arah lain, tepatnya ke bagian selatan yaitu ke arah tempat dimana orang-orang yang mengejarku itu bertarung dengan 3 naga es ciptaanku. Lokasi tempatku berada saat ini dengan lokasi tempat orang-orang itu bertarung dengan 3 naga es ciptaanku berjarak cukup jauh. Bahkan aku tidak bisa melihat lokasi mereka dari tempatku berada saat ini. Tetapi aku terus melihat ke arah tempat itu sambil terus memegang kedua gelang yang sebelumnya dipakai Elsie.
Sementara itu, Elsie hanya terdiam setelah mendengar perkataanku. Namun tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.
"Mungkin kamu telah membunuh orang yang sepenuhnya tidak bersalah apabila memang salah satu atau 3 orang Priest yang terbunuh itu merupakan Priest yang direkrut paksa oleh gereja Sancta Lux. Tetapi jika benar begitu, aku yakin Priest yang terbunuh itu justru bersyukur. Karena dengan tewasnya mereka, mereka tidak perlu terpaksa lagi menjalani pekerjaan sebagai Priest gereja Sancta Lux. Sama seperti yang aku inginkan dulu, aku memilih untuk lebih baik mati dibunuh oleh orang lain daripada terus menjadi Priest,"
"Jadi kamu tidak perlu merasa sedih, Rid Archie. Mereka yang telah kamu bunuh dengan naga es ciptaanmu kini telah bebas dan pergi ke tempat lain," ucap Elsie.
Setelah mendengar perkataan Elsie, aku pun terdiam sesaat. Setelah itu, aku mulai menghela nafasku dan kemudian menoleh kembali ke arah Elsie.
"Kamu ada benarnya, nona Elsie. Lebih baik aku tidak perlu terlalu berpikir negatif tentang hal ini," ucapku.
"Baguslah kalau kamu mengerti, Rid Archie," ucap Elsie.
Setelah itu, aku mengangkat tangan kananku yang sedang memegang dua buah gelang yang sebelumnya dikenakan oleh Elsie. Aku mengangkat tanganku untuk melihat gelang itu dari dekat sekaligus menunjukan gelang itu kepada Elsie.
"Kalau begitu, aku akan langsung pergi ke tempat orang-orang yang telah tewas karena serangan naga es ciptaanku untuk menaruh kedua gelang ini. Bagaimana denganmu, nona Elsie ? Apa kamu akan langsung pergi meninggalkan kerajaan ini untuk pergi ke tempat tinggal orang tuamu ? Atau kamu akan pergi ke tempat lain terlebih dahulu ? Atau kamu malah akan kembali secara diam-diam ke gereja Sancta Lux terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangmu yang tertinggal ?," tanyaku.
"Mana mungkin aku akan kembali ke gereja Sancta Lux secara diam-diam. Aku tidak memiliki barang berharga disana jadi aku bisa segera langsung pergi dari tempat ini. Mungkin aku akan pergi ke tempat tinggal orang tuaku terlebih dahulu yang berada di utara kerajaan San Fulgen," ucap Elsie.
"Utara kerajaan San Fulgen, itu berarti kamu harus pergi melewati daerah lain untuk sampai ke tempat tinggal orang tuamu karena kamu tidak mungkin melewati pegunungan Orokho untuk pergi kesana," ucapku.
"Iya, jika aku melewati pegunungan Orokho, aku mungkin akan mati membeku di tengah jalan. Aku mungkin akan melewati jalur laut dengan menaiki kapal di pelabuhan San Quentine. Aku bisa saja pergi dengan melewati wilayah kerajaan Sedona yang berada di sebelah barat kerajaan San Fulgen, tetapi aku tidak mau mengambil resiko karena dari yang ku dengar di wilayah kerajaan Sedona tepatnya di sekitar wilayah perbatasan antara kerajaan Sedona dengan kerajaan San Fulgen merupakan tempat yang cukup liar. Demi-Human yang tinggal di tempat itu banyak melakukan aksi kejahatan salah satunya menjadi bandit. Jika aku melewati tempat itu dan bertemu dengan mereka, mungkin aku akan ditangkap oleh mereka dan dijual sebagai budak. Jadi lebih baik aku melewati jalur aman yaitu jalur laut," ucap Elsie.
"Begitu ya. Namun meski kamu melewati jalur yang aman, kamu masih harus tetap hati-hati dan waspada, nona Elsie. Mungkin diperjalanan nanti kamu bisa saja bertemu dengan orang yang kamu kenal," ucapku.
"Tenang saja, Rid Archie. Aku akan selalu waspada. Aku juga akan waspada begitu sampai di kerajaan tempat tinggal orang tuaku. Terakhir kali aku datang ke tempat tinggal mereka, di wilayah tempat tinggal mereka belum ada gereja Sancta Lux. Saat ini mungkin saja sudah ada, jadi aku akan waspada begitu sampai disana," ucap Elsie.
"Begitu ya. Kalau begitu, sepertinya ini waktunya kita untuk berpisah, nona Elsie, karena setelah aku menaruh gelang ini juga mau langsung kembali ke kediaman tuan Duke Louis," ucapku.
"Iya. Izinkan aku mengucapkan terima kasih untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi, Rid Archie. Terima kasih karena telah membantu untuk membebaskanku dari gereja Sancta Lux, Rid Archie," ucap Elsie sambil tersenyum.
"Iya, sama-sama, nona Elsie. Kalau begitu sampai jumpa lagi, nona Elsie. Hati-hati dalam perjalananmu," ucapku.
"Iya, sampai jumpa lagi, Rid Archie. Jika nanti kita bertemu lagi, aku berjanji kalau aku pasti akan membalas budi," ucap Elsie.
Setelah Elsie mengatakan itu, aku hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Lalu setelah itu, aku pun secara perlahan mulai membalikkan badanku untuk segera pergi ke tempat orang-orang yang sebelumnya bertarung dengan naga es ciptaanku. Namun baru sebentar aku membalikkan badan, tiba-tiba aku melihat ada sebuah cahaya terang yang muncul dari saku pakaian yang dikenakan oleh Elsie. Aku sedikit terkejut ketika melihat cahaya terang itu, begitupun dengan Elsie.
"Cahaya itu, sepertinya berasal dari kristal Komunikasi," pikirku.
Setelah memikirkan itu, aku berniat untuk mengatakan sesuatu kepada Elsie tetapi Elsie lebih dulu mengatakan sesuatu kepadaku.
"Rid Archie, sepertinya ada seseorang yang menghubungiku karena kristal komunikasi yang aku bawa sedang bercahaya. Aku dari awal memang membawa kristal komunikasi agar aku bisa berkomunikasi dengan tuan High Priest ataupun dengan Priest gereja Sancta Lux lainnya," ucap Elsie.
"Itu berarti yang sedang menghubungimu saat ini mungkin adalah High Priest atau Priest yang lainnya," ucapku.
"Iya, sepertinya begitu. Apa yang harus aku lakukan ? Apa aku harus mengabaikannya saja ?," tanya Elsie.
Aku pun terdiam sebentar setelah Elsie menanyakan hal itu. Namun tidak lama kemudian, aku mulai berbicara kembali.
"Lebih baik kamu angkat saja, nona Elsie. Mungkin High Priest atau Priest yang lain yang mencoba untuk menghubungimu ingin membagikan suatu informasi penting. Atau mungkin mereka menanyakan kondisimu dan yang lainnya karena kamu dan yang lain yang ditugaskan untuk mengejar dan menangkapku belum memberikan kabar kepada mereka. Aku sedikit penasaran dengan apa alasan mereka menghubungimu jadi lebih baik kamu angkat saja, nona Elsie. Aku tidak akan mengatakan apapun ketika kamu berkomunikasi dengan mereka, aku hanya akan mendengarkan percakapanmu dengan mereka saja," ucapku.
"Baiklah, kalau begitu aku akan respon panggilannya," ucap Elsie.
Elsie lalu mengambil kristal komunikasi yang ada di saku pakaiannya dan mulai merespon panggilan dari orang yang mencoba menghubunginya.
"Halo ?," ucap Elsie.
"Halo, Elsie. Lama sekali kamu mengangkat panggilanku," ucap orang yang memanggil Elsie lewat kristal komunikasi itu.
Dari suara orang itu, orang itu merupakan seorang laki-laki. Orang itu terdengar sedang marah karena Elsie lama menjawab panggilan itu.
"Edward ya, Ada apa ? Aku pikir yang memanggilku adalah tuan High Priest," ucap Elsie.
Elsie memanggil nama Edward yang kemungkinan adalah nama dari orang yang menghubungi Elsie. Elsie pun berbicara dengan orang itu secara santai yang berarti orang itu mungkin merupakan sesama Priest seperti Elsie dan bukan seorang High Priest.
"Kamu sekarang ada dimana ?," tanya orang itu.
Elsie terdiam sesaat namun tidak lama kemudian dia segera menjawab pertanyaan orang itu.
"Aku saat ini sedang berada di sebelah Utara kota San Lucia, tempat yang jarang didatangi orang lain karena cukup berbahaya," ucap Elsie.
"Apa ? Kenapa kamu bisa ada disana sekarang ? Bukannya kamu ditugaskan di belakang kediaman tuan Duke San Lucia untuk mengawasi Rid Archie yang kemungkinan tinggal di kediaman itu ?," tanya orang itu.
"Justru aku berada disini karena sekarang aku sedang mengejar Rid Archie yang sebelumnya aku lihat dia pergi melewati gerbang belakang kediaman tuan Duke San Lucia. Aku saat ini sedang mengejarnya bersama dengan yang lainnya," ucap Elsie.
"Begitu ya, jadi Rid Archie memang benar tinggal di kediaman Duke San Lucia," ucap orang itu.
"Iya. Daripada itu, ada apa menghubungiku ?," tanya Elsie.
"Soal itu, aku menghubungimu karena aku pikir kamu masih berada di belakang kediaman tuan Duke San Lucia. Jika iya, aku menghubungimu untuk meminta bantuan," ucap orang itu.
"Meminta bantuan untuk apa ?," tanya Elsie yang bingung.
Disaat Elsie terus berbicara dengan orang itu lewat kristal komunikasi, aku hanya diam saja sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Aku ingin meminta bantuanmu dan orang-orang yang bersamamu untuk segera datang ke gerbang depan kediaman tuan Duke San Lucia karena saat ini tuan High Priest Julian dan para Priest lainnya sedang bertarung dengan putri Irene dan para prajurit Duke San Lucia yang melindungi dan menjaga kediaman itu," ucap orang itu.
Aku yang sedang diam sambil mendengar perkataan orang itu pun langsung terkejut.
"Apa ?!," ucapku.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments