Peace Hunter
Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Kembali ke tempat Rid, Irene dan yang lainnya berada.
Setelah mendengar perkataan senior Nadine sebelumnya, beberapa prajurit yang sebelumnya menyalahkanku karena aku yang telah membuat gereja Sancta Lux menyerang kediaman paman Louis pun mulai meminta maaf kepadamu.
"Rid Archie, aku minta maaf karena telah menyalahkanmu,"
"Aku juga minta maaf, padahal kamu telah banyak membantu keluarga San Lucia yang aku layani, tetapi aku malah menyalahkanmu dan berniat untuk memintamu pergi agar kediaman tuan Duke tidak diserang lagi oleh gereja Sancta Lux,"
"Aku juga minta maaf karena telah menyalahkanmu, Rid Archie," ucap beberapa prajurit itu.
Setelah mendengar permintaan maaf mereka, aku pun langsung menanggapi permintaan maaf mereka.
"Sudah, tidak apa-apa. Lagipula perkataan kalian tidak salah, aku sendiri pun berpikir kalau memang aku lah yang menyebabkan kediaman paman Louis diserang oleh gereja Sancta Lux karena aku saat ini tinggal di kediaman paman Louis. Justru aku lah yang seharusnya meminta maaf karena telah menimbulkan banyak masalah kepada kalian setelah aku tinggal di kediaman paman Louis," ucapku.
Beberapa prajurit yang sebelumnya meminta maaf kepadaku pun terdiam setelah mendengar perkataanku. Sementara Irene yang juga mendengar perkataanku langsung menanggapi perkataanku.
"Kamu tidak menimbulkan masalah sama sekali, Rid, jadi kamu tidak perlu meminta maaf. Lalu kamu juga tidak perlu merasa bersalah, bukan kamu lah yang menyebabkan kediaman ayahandaku diserang. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah gereja Sancta Lux, karena cara mereka dalam merekrut seseorang untuk menjadi bagian dari gereja Sancta Lux terlalu kasar. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan penyerangan atau tindakan kasar lainnya agar orang yang mereka incar mau menjadi bagian dari gereja Sancta Lux," ucap Irene.
"Seperti perkataan Irene, gereja Sancta Lux lah yang bersalah untuk masalah ini. Jadi lebih baik kamu tidak perlu terlalu memikirkan tentang masalah ini, Rid," ucap senior Nadine.
"Baiklah jika kalian berdua bilang begitu," ucapku.
Setelah itu, senior Nadine menoleh ke arah beberapa prajurit yang sebelumnya meminta maaf kepadaku.
"Karena kalian telah meminta maaf kepada Rid, apa itu berarti kalian masih mau untuk tetap menjadi prajurit Duke San Lucia?," tanya senior Nadine.
Beberapa prajurit itu lalu kompak menjawab pertanyaan senior Nadine.
"Benar, nona Nadine. Kami masih mau menjadi prajurit Duke San Lucia," ucap beberapa prajurit itu.
"Baiklah. Karena kalian masih mau menjadi prajurit Duke San Lucia, sekarang lakukanlah tugas kalian. Sekarang karena kondisi Irene baik-baik saja, kalian segera kembali ke gerbang depan kediaman paman Louis untuk membantu rekan-rekan kalian yang terluka atau yang sudah tumbang. Bawa dan kumpulkan mereka semua ke halaman depan kediaman paman Louis,"
"Tidak hanya rekan kalian saja, bawa juga para Priest yang terluka ataupun yang sudah tumbang ke halaman depan," ucap senior Nadine.
Beberapa prajurit itu terlihat bingung setelah mendengar perkataan senior Nadine yang bilang untuk membawa para Priest yang terluka juga.
"Kenapa kami juga harus membawa para Priest gereja Sancta Lux yang telah menyerang kami, nona Nadine?," tanya salah satu prajurit.
"Untuk sekarang bawa saja mereka dulu, kita akan menentukan apa yang harus kita lakukan ke mereka nanti," ucap senior Nadine.
"Baik, nona Nadine," ucap prajurit itu.
"Lalu bawa juga jasad High Priest Julian beserta Priest yang telah tumbang di dekatnya ke halaman depan," ucap senior Nadine.
"Baik, nona Nadine," ucap prajurit itu.
Setelah itu, senior Nadine menoleh ke arah beberapa prajurit yang sebelumnya setuju dengan perkataannya.
"Kalian juga, lakukanlah tugas kalian bersama mereka," ucap senior Nadine.
Beberapa prajurit itu pun langsung menanggapi perkataan senior Nadine.
"Baik, nona Nadine," ucap beberapa prajurit itu.
Para prajurit yang sebelumnya terpisah kubu itu kemudian berkumpul.
"Ayo semua kita lakukan tugas yang diberikan oleh nona Nadine. Pertama beberapa orang tolong bawa jasad High Priest Julian beserta Priest yang tergeletak di dekatnya itu. Lalu sisanya segera kembali ke gerbang depan kediaman tuan Duke. Ketika kembali, kalian jangan lupa untuk membawa rekan-rekan kita yang sebelumnya telah tumbang akibat tekanan udara yang tiba-tiba menjadi berat," ucap salah satu prajurit.
"Benar juga, kita sebelumnya terlalu fokus memikirkan putri Irene sampai lupa tentang mereka yang telah tumbang,"
"Sebelumnya aku juga hampir tumbang karena tekanan udara yang tiba-tiba menjadi berat itu,"
"Aku juga, sebenarnya apa penyebab tekanan udara yang tiba-tiba menjadi berat itu?," ucap prajurit yang lainnya.
Senior Nadine yang mendengar perkataan para prajurit itu pun baru mengingat kalau dia juga sebelumnya merasakan tekanan udara yang berat itu.
"Benar juga, aku terlalu fokus dengan Irene dan tewasnya High Priest Julian sampai aku lupa akan hal itu," pikir senior Nadine.
Setelah itu, tiba-tiba senior Nadine menoleh ke arahku dan Irene.
"Rid, Irene, apa sebelumnya kalian merasakan kalau tekanan udara yang ada di sekitar menjadi berat?," tanya senior Nadine.
Setelah mendengar pertanyaan senior Nadine, aku pun langsung menjawabnya.
"Aku tidak merasakan kalau tekanan udara di sekitar menjadi berat sebelumnya. Tidak ada yang berubah dari tekanan udara di sekitar tempat ini. Udaranya sama seperti sekarang," ucapku.
"...Aku juga tidak merasakannya," ucap Irene.
Setelah mendengar perkataanku dan Irene, senior Nadine pun langsung terdiam.
"Ini aneh. Sebelumnya, jelas-jelas kalau aku merasakan tekanan udara yang berat yang berasal dari tekanan aura milik seseorang berasal dari tempat mereka berada yaitu tempat ini. Tetapi kenapa mereka berdua tidak merasakannya? Apakah mereka berbohong tentang hal ini?,"
"Sebelumnya di tempat ini hanya ada Rid, Irene, High Priest Julian dan satu Priest yang bersama High Priest Julian. Itu berarti orang yang menggunakan tekanan aura adalah salah satu di antara mereka. Aku ragu kalau priest yang bersama High Priest Julian bisa mengeluarkan tekanan aura. Sementara untuk High Priest Julian, dia bisa saja menggunakannya, tetapi ada yang janggal jika memang dia bisa menggunakannya. Jika dia memang bisa menggunakannya, seharusnya dia menggunakannya dari awal saat pertama kali dia datang ke kediaman paman Louis untuk mengintimidasi kami, tetapi dia malah tidak menggunakannya. Jadi sepertinya bukan High Priest Julian yang mengeluarkan tekanan aura,"
"Itu berarti yang mengeluarkan tekanan aura sebelumnya antara Irene atau Rid. Tetapi jika melihat kekuatan mereka masing-masing, kemungkinan besar yang mengeluarkan tekanan aura adalah Rid karena dia memiliki kapasitas Mana yang sangat banyak. Aku bisa berpikiran begitu karena aku tidak pernah melihat dia kelelahan setelah menggunakan banyak sihir. Jika dia memiliki banyak Mana, tidak mengherankan kalau dia bisa mengeluarkan tekanan Aura. Jika benar Rid yang mengeluarkan tekanan aura itu, kenapa Irene tidak merasakannya? Apa mungkin Irene berbohong soal itu? ," pikir senior Nadine.
-
Sementara itu, di ruangan tempat Ratu Kayana, para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit berkumpul.
Orang-orang yang ada di ruangan itu selain Ratu Kayana, nona Violetta dan nona Karina terlihat terkejut setelah mendengar penjelasan Ratu Kayana.
"Jadi orang yang telah membunuh tuan Remy adalah seorang iblis berdarah murni, selain itu iblis itu merupakan salah satu dari komandan pasukan iblis. Aku tidak menyangka ini, tetapi bila itu memang benar maka itu masuk akal kenapa tuan Remy bisa berubah menjadi iblis dan merubah orang-orang menjadi iblis karena dia mendapatkan darah iblis dari komandan iblis itu," ucap Duke Louis.
"Saya tidak menyangka kalau tuan Remy bisa bekerja sama dengan komandan iblis itu untuk membunuh anda dan merebut kerajaan ini, Yang Mulia Ratu. Meskipun pada akhirnya tuan Remy sendiri lah yang dibunuh oleh komandan iblis itu karena beliau telah memancing kedatangan para Malaikat. Hal itu bertolak belakang dengan keinginan komandan iblis itu yang ingin merebut kerajaan ini secara diam-diam," ucap komandan Asier.
"Selain hal itu, saya tidak menyangka kalau ras iblis yang tinggal di benua Selatan, benua yang berbeda dari benua yang kita tinggali ini berniat untuk merebut kerajaan ini. Mereka berniat untuk menjadikan kerajaan ini sebagai tambahan kekuatan untuk berperang kembali dengan ras Malaikat," komandan Ivana.
"Saya pikir ’Great Holy War’ yang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu telah selesai dan ras Iblis serta ras Malaikat pun telah melakukan gencatan senjata dengan membagi 2 benua sebagai tempat yang masing-masing mereka pimpin. Tetapi ras Iblis berniat untuk mendeklarasikan perang besar itu lagi dengan melawan ras Malaikat. Jika ras Malaikat tahu soal ini, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai perang besar itu benar-benar terjadi," ucap Komandan Oliver.
"Jika perang besar itu terjadi lagi, kerajaan ini akan terkena dampaknya juga. Tidak hanya kerajaan ini, melainkan seluruh dunia. Aku tidak menyangka kalau kita akan mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan ini dari terbunuhnya tuan Remy," ucap Duchess Arlet.
"Maka dari itu, sebelumnya aku bilang kepada kalian untuk merahasiakan tentang hal ini. Jika kita menyebarkan tentang hal ini, seluruh kerajaan ini akan heboh dan gempar. Kerajaan ini masih belum pulih sepenuhnya setelah terjadinya penyerangan yang didalangi oleh tuan Remy, aku tidak mau membuat kerajaan ini dilanda kepanikan lagi akibat tersebarnya informasi ini," ucap Ratu Kayana.
"Anda tenang saja, Yang Mulia Ratu. Kami berjanji untuk tidak menyebarkan informasi ini," ucap Duke Louis.
Semua orang yang ada di ruangan itu selain Duke Louis dan Ratu Kayana pun mengangguk setuju dengan perkataan Duke Louis.
"Terima kasih atas kerja sama kalian. Karena aku sudah memberitahu rahasia tentang penyerangan yang dilakukan oleh tuan Remy kepada kalian, sekarang mari kita membahas tentang rencana pemulihan setelah terjadinya penyerangan itu," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap semua orang selain Ratu Kayana.
Ketika semua orang yang ada di ruangan itu mulai membahas tentang rencana yang dikatakan oleh Ratu Kayana, tiba-tiba dari saku pakaian Duke Louis muncul sebuah cahaya yang cukup terang. Semua orang yang ada di ruangan itu pun langsung terfokus ke arah cahaya yang muncul dari saku pakaian Duke Louis.
"Maaf, Yang Mulia Ratu, sepertinya ada seseorang yang mau menghubungi saya lewat kristal komunikasi. Bolehkah saya menjawab panggilannya terlebih dahulu?," tanya Duke Louis.
"Silahkan, tuan Louis. Kelihatannya anda sudah menaruh kembali kristal komunikasi yang sebelumnya anda tinggalkan ketika menghadiri pemakaman," ucap Ratu Kayana.
"Iya, Yang Mulia Ratu. Saya khawatir akan ada yang menghubungi saya, makanya saya taruh di saku pakaian saya lagi. Kalau begitu, saya mau menjawab panggilannya dulu," ucap Duke Louis.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
Duke Louis lalu mengambil kristal komunikasi yang ada di saku pakaiannya. Setelah mengambil kristal komunikasi itu, Duke Louis lalu mulai berbicara dengan orang yang menghubunginya.
"Halo," ucap Duke Louis.
"H-halo, tuan Duke. I-ini saya Hertha yang merupakan salah satu pelayan anda," ucap suara perempuan dari kristal komunikasi itu.
Perempuan itu memberitahu kalau namanya adalah Hertha.
"Ada apa, Hertha?!," ucap Duke Louis.
"S-saya ingin memberitahu anda sesuatu, tuan Duke. S-sebelumnya saya sempat menghubungi anda beberapa kali tetapi anda tidak menjawab panggilan saya," ucap Hertha.
"Maaf, sepertinya ketika kamu memberitahuku sebelumnya, aku sedang berada di pemakaman untuk menghadiri acara pemakaman. Ketika aku berada disana, aku tidak membawa kristal komunikasiku agar tidak mengganggu," ucap Duke Louis.
"A-anda tidak perlu minta maaf, tuan Duke," ucap Hertha.
"Baiklah. Jadi sesuatu apa yang ingin kamu beritahu, Hertha? Lalu, kenapa kamu kedengarannya seperti sedang panik?," tanya Duke Louis.
"A-ah itu, saya ingin memberitahu anda kalau kediaman anda saat ini sedang diserang oleh gereja Sancta Lux yang dipimpin oleh High Priest Julian," ucap Hertha.
Duke Louis yang mendengar hal itu pun langsung terkejut. Tidak hanya Duke Louis saja, semua orang yang ada di ruangan itu pun juga terkejut setelah mendengar perkataan Hertha. Alasan perkataan Hertha bisa didengar oleh mereka karena Duke Louis membiarkan suara yang berasal dari kristal komunikasinya juga terdengar oleh orang lain, bukan hanya dia saja.
"Kenapa High Priest Julian menyerang kediamanku? Apa alasannya?," tanya Duke Louis sambil terkejut.
"H-High Priest Julian menyerang kediaman anda untuk menculik putri Irene yang akan dijadikan umpan untuk memancing Rid Archie agar mau menemuinya," ucap Hertha.
"Apa katamu barusan? Yang benar saja!!!," ucap Duke Louis yang mulai terlihat marah.
"S-saat ini, putri Irene, nona Nadine dan beberapa prajurit anda sedang melawan mereka di gerbang depan kediaman anda. Saya tidak tahu kondisinya sekarang karena saya sedang berada di dalam kediaman anda bersama para pelayan yang lain," ucap Hertha.
"Begitu ya. Baiklah, kalian semua terus saja diam di dalam kediamanku. Aku dan Arlet akan segera kembali," ucap Duke Louis.
"B-baik, tuan Duke," ucap Hertha.
Setelah itu, Duke Louis mengakhiri panggilan dari kristal komunikasi itu. Dia lalu menaruh kembali kristal komunikasi itu di saku pakaiannya.
"Maaf, Yang Mulia Ratu. Seperti yang anda dengar barusan, kediaman saya sedang diserang oleh High Priest Julian yang merupakan High Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia. Mereka berniat untuk menculik putri saya agar bisa memancing Rid. Saya dan Arlet harus segera kembali untuk membantu," ucap Duke Louis.
"Baiklah, tuan Louis. Aku akan mengutus beberapa prajurit untuk ikut membantu anda," ucap Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Ayo kita segera kembali, sayang," ucap Duke Louis sambil menoleh ke arah Duchess Arlet.
"Iya," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis dan Duchess Arlet kemudian mulai berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu. Melihat Duke Louis dan Duchess Arlet bersiap meninggalkan ruangan itu, komandan Asier pun juga ikut berdiri.
"Tunggu ayahanda, ibunda. Izinkan aku untuk ikut bersama kalian," ucap komandan Asier.
Duke Louis dan Duchess Arlet yang bersiap untuk meninggalkan ruangan itu pun lalu menoleh ke arah komandan Asier.
"Ikut bersama kami? Tetapi Asier, kamu itu komandan yang menjaga wilayah lain," ucap Duke Louis.
"Tidak masalah, aku mengizinkannya apabila Asier mau ikut," ucap Ratu Kayana yang tiba-tiba memotong obrolan mereka.
"Yang Mulia Ratu?!," ucap Duke Louis yang terkejut setelah mendengar perkataan Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Asier.
"Sekarang, cepat kalian kembali ke kediaman kalian. Orang-orang di kediaman kalian sedang butuh bantuan kalian secepatnya," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Asier.
Setelah itu, mereka bertiga pun bersiap untuk meninggalkan ruangan itu. Mereka lalu bergegas menuju pintu keluar ruangan itu. Tetapi sebelum mereka sampai ke pintu keluar itu, tiba-tiba pintu keluar itu terbuka. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun terkejut ketika melihat pintu keluar itu tiba-tiba terbuka. Setelah pintu keluar itu terbuka, di depan pintu itu terlihat ada 4 orang yang mengenakan seragam seperti seragam Priest gereja Sancta Lux, tetapi 4 orang itu mengenakan tudung kepala yang membuat kepala serta wajah mereka tidak terlihat.
"Permisi, maaf karena telah mengganggu waktu kalian semua," ucap salah satu dari 4 orang itu.
Suara orang itu terdengar seperti suara seorang wanita. Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut setelah melihat 4 orang itu. Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Asier yang sebelumnya bersiap untuk meninggalkan ruangan itu pun langsung berhenti setelah melihat 4 orang itu.
Lalu setelah membuka pintu itu, 4 orang itu mulai masuk ke dalam ruangan itu dengan dipimpin oleh wanita yang berbicara sebelumnya. Melihat 4 orang itu mulai masuk ke dalam ruangan itu, komandan Oliver yang sebelumnya sedang duduk pun langsung berdiri. Dia berdiri sambil memegang pedangnya yang ada di pinggangnya.
"Siapa kalian? Seragam yang kalian kenakan terlihat seperti Priest gereja Sancta Lux, tetapi meski kalian berasal dari gereja Sancta Lux, kalian tidak bisa seenaknya masuk ke ruangan ini tanpa izin," ucap komandan Oliver.
"Saya minta maaf karena telah masuk ke ruangan ini seenaknya. Alasan saya masuk ke ruangan ini karena saya memiliki keperluan dengan para pemimpin di kerajaan ini," ucap wanita yang berbicara sebelumnya.
Wanita itu berbicara sambil terus berjalan masuk ke dalam ruangan bersama dengan 3 orang lainnya.
"Berhenti sampai disitu, jangan coba-coba kalian untuk mendekat lagi," ucap komandan Oliver sambil bersiap untuk menyerang.
Para komandan yang lain seperti komandan Keira, komandan Ivana, komandan Allister dan bahkan komandan Asier yang sudah berdiri pun juga terlihat bersiap untuk menyerang. Tetapi meski komandan Oliver sudah memperingati keempat orang itu, keempat orang itu tetap berjalan mendekat. Melihat keempat orang itu tetap berjalan, komandan Oliver dengan cepat langsung melesat ke arah mereka.
"Aku sudah bilang pada kalian untuk berhenti!," ucap komandan Oliver.
~Lightning Sword Art : Lightning Speed Slash~
Komandan Oliver lalu menyerang wanita itu dengan menggunakan pedangnya. Melihat wanita yang berada di depan akan diserang oleh komandan Oliver, 2 orang yang berada di belakangnya pun langsung bersuara untuk memperingati wanita itu.
"Nona!," ucap 2 orang yang ada di belakang wanita itu.
Suara 2 orang yang ada di belakang wanita itu juga terdengar seperti suara wanita. Lalu, ketika pedang komandan Oliver sudah hampir mengenai tubuh wanita itu, wanita itu tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat untuk menahan serangan komandan Oliver. Lalu....
*CLANK
Serangan komandan Oliver pun berhasil ditahan oleh wanita itu. Komandan Oliver terlihat terkejut begitu mengetahui serangan yang dia lesatkan dapat ditahan oleh wanita itu. Yang lebih membuatnya terkejut adalah wanita itu dapat menahan serangan komandan Oliver hanya dengan menggunakan telapak tangan kanan miliknya.
"A-apa,?!," ucap komandan Oliver yang terkejut.
Tidak hanya komandan Oliver saja yang terkejut, semua orang yang ada di ruangan itu pun juga terkejut.
"Serangan tuan Oliver ditahan?!," ucap Duke Dylan.
"Yang benar saja, dia bisa menahan serangan tuan Oliver?! Apalagi dia menahan serangan tuan Oliver hanya dengan menggunakan telapak tangannya saja?!," ucap Duke Neil.
Tetapi setelah dilihat dari dekat, wanita itu tidak menahan serangan komandan Oliver hanya dengan telapak tangan biasa, telapak tangannya terlihat diselimuti oleh sebuah air yang tipis. Jadi tangannya itu seolah seperti sedang menggunakan sarung tangan tipis yang terbuat dari air.
Lalu, pedang komandan Oliver dan telapak tangan kanan wanita itu pun terus beradu. Efek benturan yang dilakukan mereka membuat hembusan angin tercipta dan membuat seluruh ruangan itu terkena hembusan angin itu. Hembusan angin itu bahkan membuat tudung kepala yang dikenakan wanita itu terbuka. Setelah tudung kepala wanita itu terbuka, kepala dan wajah dari wanita itu pun terlihat dengan jelas. Komandan Oliver yang berada di hadapan wanita itu pun terkejut ketika melihat wajah wanita itu. Tidak hanya, komandan Oliver saja, semua orang yang ada di ruangan itu, khususnya nona Violetta terlihat terkejut setelah melihat wanita itu.
Tepat setelah tudung kepala wanita itu terbuka, komandan Oliver langsung mundur beberapa langkah setelah sebelumnya sempat beradu dengan wanita itu. Lalu setelah komandan Oliver mundur, wanita itu lalu mengangkat tangan kanannya. Air yang menyelimuti tangan kanannya secara perlahan mulai menghilang. Setelah air yang menyelimuti tangan kanannya menghilang, terlihat jelas wujud telapak tangannya. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun kembali terkejut ketika melihat telapak tangan kanan wanita itu. Itu karena wanita itu memiliki telapak tangan yang berselaput. Selain itu, wanita itu juga memiliki telinga panjang yang berbentuk seperti sirip ikan.
"Telinga panjang yang berbentuk seperti sirip ikan dan juga telapak tangan yang berselaput, bukankah itu ciri-ciri dari ras Siren?!," tanya Ratu Kayana yang terkejut.
"Ras Siren, ras langka yang jarang ditemui di permukaan karena mereka hidup di dalam laut. Kenapa seseorang dari ras Siren datang kesini?!," tanya komandan Oliver yang terkejut.
"Sesuai yang saya katakan sebelumnya, alasan saya datang kesini karena saya memiliki keperluan dengan para pemimpin di kerajaan ini," ucap wanita itu.
Sementara itu, nona Violetta yang sebelumnya sangat terkejut begitu melihat wajah wanita itu, kini mulai berbicara.
"N-nona Laviena?!," ucap nona Violetta.
Setelah mendengar perkataan nona Violetta, orang-orang yang ada di ruangan itu lalu menoleh ke arah nona Violetta.
"Kamu mengenal wanita itu dari ras Siren itu, Violetta?," tanya Ratu Kayana.
"I-iya, saya mengenalnya. B-beliau merupakan salah satu dari komandan Holy Knights yang berasal dari Holy Kingdom," ucap nona Violetta.
Semua orang yang berada di ruangan itu pun langsung terkejut setelah mendengar perkataan nona Violetta.
"Apa?! Salah satu komandan Holy Knights?! Kamu serius, Violetta?," tanya Ratu Kayana yang terkejut.
"Saya serius, Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu tentu tahu kalau sebelum saya kembali kesini, saya merupakan anggota dari Holy Knights. Maka dari itu saya mengenal beliau," ucap nona Violetta.
Ratu Kayana pun terdiam setelah mendengar perkataan nona Violetta. Dia terlihat masih tidak percaya dengan yang dikatakan oleh nona Violetta. Disaat situasi di tempat itu menjadi sunyi karena mereka semua masih terkejut dengan yang dikatakan oleh nona Violetta, nona Laviena tiba-tiba mulai berbicara.
"Saya minta maaf karena saya belum memperkenalkan diri saya. Nama saya adalah Laviena Aria Eldoris, seperti yang dikatakan oleh Violetta, saya merupakan salah satu dari Holy Knights yang berasal dari Holy Kingdom, Svetais. Alasan saya datang ke kerajaan ini adalah karena saya harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh nona Maiden," ucap nona Laviena sambil tersenyum.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments