Peace Hunter
Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Nexus pun terkejut ketika melihat seluruh lengan tangannya telah mengering dan hanya tersisa tulang dan kulit saja. Pengeringan yang terjadi itu mulai menjalar hingga ke bahu dan badannya. Tetapi sebelum itu terjadi, Nexus dengan cepat langsung menembak tangkai bunga yang menusuk pergelangan tangan kanannya hingga terpotong menjadi 2. Setelah tangkai bunga itu terpotong menjadi 2, pengeringan yang terjadi itu pun mulai berhenti. Itu dikarenakan tangkai bunga itu tidak lagi tersambung dengan nona Leirion karena sudah terpotong. Meski begitu, bagian tangkai bunga yang telah terpotong itu masih menusuk pergelangan tangan kanan Nexus. Sementara untuk bagian tangkai bunga yang lain, nona Leirion terlihat kembali memasukkan bagian tangkai bunga yang telah terpotong itu ke dalam telapak tangan kanannya.
Setelah itu, Nexus lalu mencabut potongan tangkai bunga yang masih menusuk pergelangan tangan kanannya itu dengan tangan kirinya. Setelah tangkai bunga itu telah dicabut, Nexus mencoba untuk menggerakkan lengan kanannya yang telah mengering itu, tetapi tidak bisa. Lengan kanannya benar-benar tidak bisa digerakkan.
"Lengan kananku tidak bisa digerakkan. Meski lengan kananku masih menyatu dengan badanku, tetapi jika kondisinya seperti ini, ini sama saja aku sudah kehilangan lengan kananku," pikir Nexus.
Setelah mencoba beberapa kali untuk menggerakkan lengan kanannya, Nexus pun memilih untuk berhenti. Dia kemudian menaruh senapan kecil yang dipegangnya dengan tangan kirinya ke pinggangnya. Setelah itu, dia mengambil pedang miliknya yang terlepas dari tangan kanannya. Pedang miliknya itu terlepas tepat setelah tangan kanannya itu mengering.
Setelah mengambil pedang miliknya dan memegangnya dengan tangan kirinya, Nexus lalu melihat ke arah nona Leirion. Terlihat nona Leirion sudah selesai memasukkan kembali tangkai bunga yang sebelumnya keluar dari telapak tangan kanannya itu. Nona Leirion kini sedang terdiam sambil melihat ke arah Nexus.
"Kenapa nona iblis itu masih hidup? Lalu kenapa tubuhnya yang sebelumnya berhasil aku kalahkan berubah menjadi kelopak-kelopak bunga? Hal itu mirip dengan yang biasanya para Roh Elemental lakukan apabila tubuh mereka hancur atau terpotong. Mereka akan langsung berubah menjadi elemen dan kemudian membentuk tubuh mereka kembali,"
"Hal itu memang mirip dengan yang dilakukan oleh Roh Elemental, tetapi nona iblis itu bukanlah Roh Elemental. Aku sangat yakin dengan hal itu karena aku tidak melihat dan merasakan adanya ’Spirit Core’ yang biasanya dimiliki oleh para Roh pada tubuh nona iblis itu. Lagipula para Roh tidak mungkin memihak ras Iblis. Satu-satunya tempat para Roh tinggal adalah di ’Geestenland’ yang berada di tengah hutan ’Himnaskogur’. Hutan itu berada di benua utara, bukan di benua selatan yang dipimpin oleh ras iblis. Jadi tidak mungkin ada Roh yang memihak ras iblis dan jelas kalau nona iblis itu bukanlah seorang roh,"
"Jadi sebenarnya kenapa tubuhnya bisa berubah menjadi kelopak-kelopak bunga lalu tiba-tiba dia muncul di tempat lain? Apa tubuhnya yang aku kalahkan sebelumnya adalah sebuah klon? Atau itu adalah sebuah ilusi?," pikir Nexus.
Nexus terus memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh nona Leirion sebelumnya. Ketika Nexus sedang memikirkan itu, tangkai-tangkai bunga yang ada di sekitarnya kembali bergerak ke arahnya untuk menyerangnya. Nexus yang melihat dan menyadari hal itu pun langsung berhenti berpikir dan bersiap untuk menyerang.
"Tidak ada gunanya memikirkan itu. Sekarang yang terpenting bagaimana aku bisa bertahan dalam situasi ini dengan kondisiku yang sekarang," ucap Nexus.
Nexus lalu bersiap melancarkan sebuah serangan tebasan dengan menggunakan pedang miliknya.
~Light Magic : Full Moonlight Slash~
Nexus melancarkan sebuah tebasan dengan memutar dan membentuk lingkaran penuh. Tangkai-tangkai bunga yang menyerang Nexus dari segala arah pun langsung terpotong oleh tebasan itu. Setelah tangkai-tangkai bunga itu terpotong, tidak lama kemudian tangkai-tangkai bunga itu mulai pulih kembali.
Disaat yang sama ketika tangkai-tangkai bunga itu mulai pulih, nona Leirion tiba-tiba kembali menghampiri Nexus dan menyerangnya dengan menggunakan serangan tusukan seperti yang sebelumnya dia lakukan. Kali ini, nona Leirion kembali mengincar kepala Nexus untuk diserang. Nexus menyadari hal itu dan dia pun langsung menghindari serangan tusukan itu. Namun lagi-lagi dia tidak berhasil menghindari serangan itu dengan sempurna karena serangan itu berhasil mengenai pipi kanannya lagi. Pipi kanannya pun kembali terluka cukup parah setelah terkena serangan itu.
Namun meski pipi kanannya itu kembali terluka, Nexus terlihat tidak panik sama sekali karena memang dia mengincar momen ini. Dia mengincar momen ini karena satu-satunya momen dimana dia bisa menyerang nona Leirion adalah setelah nona Leirion menyerangnya secara langsung. Lalu, setelah Nexus menghindari serangan tusukan nona Leirion, Nexus lalu melancarkan sebuah serangan tusukan dengan menggunakan pedangnya.
~Light Magic : Sanctus Gladius - Foratura~
Awalnya pedang Nexus tidak bisa menusuk nona Leirion secara langsung karena jarak antara nona Leirion dengan Nexus masih sedikit jauh meskipun mereka berada cukup dekat. Namun, pedang Nexus yang masih diselimuti oleh sihir cahaya secara tiba-tiba bertambah lebih panjang dari yang sebelumnya. Karena pedang itu menjadi lebih panjang, pedang itu pun langsung bisa mengenai dan menusuk tubuh nona Leirion. Nona Leirion tertusuk tepat di dada kirinya oleh pedang itu. Wajah nona Leirion terlihat terkejut ketika pedang itu berhasil menusuknya, sementara wajah Nexus terlihat biasa saja. Dia tidak terlihat puas atau senang karena dia tahu nona Leirion yang saat ini berhasil ditusuk olehnya bisa saja menjebaknya seperti sebelumnya.
Dan benar saja, tidak lama setelah Nexus menusuk nona Leirion, tubuh nona Leirion yang telah tertusuk itu tiba-tiba kembali berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam.
"Lagi-lagi nona iblis itu berubah menjadi kelopak-kelopak bunga," ucap Nexus.
Nexus kali ini terlihat tidak terkejut sama sekali karena dia memang sudah bisa menebak kalau nona Leirion mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan sebelumnya, yaitu merubah tubuhnya menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam setelah terkena serangan. Kelopak-kelopak bunga yang berasal dari tubuh nona Leirion itu lalu mulai beterbangan ke salah satu tempat yang ada di hutan itu.
Setelah kelopak-kelopak bunga itu pergi beterbangan, Nexus kembali waspada dengan sekitarnya. Karena jika mengingat dari kejadian sebelumnya, setelah tubuh nona Leirion berubah menjadi kelopak-kelopak bunga, akan ada serangan lagi yang dilancarkan oleh tubuh nona Leirion yang lain. Dan benar saja, tidak lama kemudian, sebuah tangkai bunga berwarna hitam melesat dengan sangat cepat ke arah Nexus. Nexus yang melihat dan menyadari itu pun langsung bersiap untuk mengatasi tangkai bunga itu. Kali ini Nexus tidak berniat untuk menghindari serangan tangkai bunga itu, melainkan berniat untuk menghadapi tangkai bunga itu secara langsung dengan menyerangnya.
Ketika tangkai bunga itu sudah berada dalam jarak yang dekat dengannya, Nexus langsung melancarkan serangan tebasan ke tangkai bunga itu.
~Great Light Slash~
Nexus melancarkan tebasan cahaya secara horizontal dengan menggunakan pedang miliknya yang masih berukuran panjang seperti sebelumnya. Karena ukuran pedangnya itu, tebasan yang dikeluarkan oleh pedang itu pun juga menjadi lebih besar. Tebasan itu pun langsung memotong tangkai bunga yang melesat dengan cepat ke arahnya.
Meski tebasan cahaya itu berhasil memotong tangkai bunga itu, tebasan itu tidak berhenti sampai disitu saja. Tebasan itu terus melesat ke depan, ke arah munculnya tangkai bunga yang melesat dengan cepat itu. Sama sepertinya sebelumnya, tangkai bunga yang melesat dengan cepat itu muncul dari dalam telapak tangan kanan nona Leirion. Saat ini nona Leirion berada cukup jauh di depan Nexus. Dan sekarang tebasan yang dilancarkan oleh Nexus itu sedang melesat ke arah nona Leirion dengan cepat.
Nona Leirion tidak sempat untuk bereaksi terhadap tebasan cahaya itu. Dia pun terkena tebasan itu dengan telak. Ini pertama kalinya Nexus berhasil menyerang nona Leirion tanpa menyerangnya dari jarak dekat.
Lalu, tebasan itu pun memotong tubuh nona Leirion menjadi 2. Tidak hanya nona Leirion saja, objek-objek yang ada di samping nona Leirion seperti pepohonan dan tankai-tangkai bunga yang muncul pun juga terpotong menjadi 2.
Setelah memotong tubuh nona Leirion, tebasan cahaya itu terus melesat dan memotong objek apapun yang berada di jalur lintasannya. Tidak lama kemudian, tebasan cahaya itu pun mulai mengecil dan secara perlahan mulai menghilang.
Sementara itu, tubuh nona Leirion yang sudah terpotong menjadi 2 pun jatuh dan tergeletak di tanah. Nexus terus melihat ke arah tubuh nona Leirion yang sudah tergeletak itu. Tidak lama kemudian, tubuh nona Leirion itu pun kembali berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam.
"Lagi-lagi sama seperti sebelumnya. Sebenarnya apa itu? Apakah itu sebuah klon atau aku sedang berada dalam sebuah ilusi?," pikir Nexus ketika melihat tubuh nona Leirion kembali menjadi kelopak-kelopak bunga.
Setelah tubuh nona Leirion kembali menjadi kelopak-kelopak bunga, kelopak-kelopak bunga itu pun lalu beterbangan ke suatu tempat yang ada di hutan itu.
Setelah itu, Nexus kembali waspada karena dia tahu setelah ini akan ada serangan lagi dari nona Leirion. Dan benar saja, tidak lama kemudian, tangkai-tangkai bunga yang muncul di seluruh hutan itu kembali bergerak ke arah Nexus untuk menyerangnya. Nexus yang melihat hal itu pun langsung menyerang tangkai-tangkai bunga itu dengan menggunakan pedang miliknya. Ketika Nexus sedang menyerang tangkai-tangkai bunga itu, nona Leirion kembali menyerang Nexus dari jarak dekat. Nexus berhasil menghindari serangan nona Leirion itu meskipun lagi-lagi dia tidak berhasil menghindari serangan itu dengan sempurna karena serangan itu tetap berhasil melukainya. Lalu setelah Nexus menghindari serangan itu, Nexus kembali menyerang nona Leirion. Nona Leirion pun terkena serangan yang dilancarkan oleh Nexus. Namun tidak lama setelah terkena serangan oleh Nexus, tubuh nona Leirion kembali berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam. Kelopak-kelopak bunga itu pun juga kembali beterbangan ke suatu tempat yang ada di hutan itu.
Kejadian-kejadian yang dialami oleh Nexus itu terus berulang. Mulai dari tangkai-tangkai bunga yang menyerangnya, nona Leirion yang ikut menyerang baik dari jarak dekat ataupun jarak jauh, lalu Nexus yang berhasil menghindari atau menahan serangan yang dilancarkan oleh nona Leirion, kemudian menyerang balik nona Leirion dan diakhiri dengan tubuh nona Leirion yang berubah menjadi kelopak-kelopak bunga. Nexus terus mengalami hal itu hingga membuatnya sangat kelelahan saat ini.
"Haaaahhh...Haaahhhhh...ini benar-benar tidak ada habisnya. Nona Iblis itu sepertinya sedang mempermainkanku saat ini," ucap Nexus dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan.
-
Sementara itu, di suatu tempat yang ada di hutan tempat Nexus dan nona Leirion berada.
Nona Leirion terlihat sedang berada di tempat itu. Nona Leirion sedang berdiri sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan. Di sekitar tangan kanannya yang sedang di arahkan ke depan itu, ada banyak kelopak bunga berwarna hitam yang beterbangan. Tidai hanya di sekitar tangan kanannya saja, tetapi di sekitar tempatnya berada saat ini juga terdapat banyak kelopak-kelopak bunga. Seiring waktu, kelopak-kelopak bunga itu mulai bertambah banyak karena ada beberapa-beberapa kelopak bunga lagi yang berdatangan. Kelopak-kelopak bunga yang baru berdatangan itu berasal dari ’tubuh-tubuh’ nona Leirion yang berhasil diserang oleh Nexus. Kelopak-kelopak bunga yang berasal dari tubuh-tubuh itu kini sedang berkumpul di tempat nona Leirion berada saat ini.
Kelopak-kelopak bunga itu awalnya hanya beterbangan saja di sekitar nona Leirion, tetapi ketika kelopak-kelopak bunga itu sudah bertambah banyak, kelopak-kelopak bunga itu secara perlahan mulai mendekat ke tangan kanan nona Leirion yang sedang di arahkan ke depan. Kelopak-kelopak bunga itu lalu mulai menyatu untuk membentuk sesuatu.
~Dark Flower Creation Magic : Dark Flower Petal Sword - Negrum Lilium~
Kelopak-kelopak bunga yang beterbangan itu pun saling menyatu di tangan kanan nona Leirion. Kelopak-kelopak bunga itu terus menyatu hingga membentuk sebuah pedang berwarna hitam pekat. Meski sudah terbentuk menjadi sebuah pedang berwarna hitam pekat, tetapi pembentukan yang dilakukan oleh kelopak-kelopak bunga itu masih belum selesai karena kelopak-kelopak itu masih menyatu ke pedang itu. Tidak lama kemudian, pembentukan itu pun selesai tepat setelah kelopak bunga terakhir yang beterbangan di tempat itu telah menyatu ke pedang itu. Pedang yang terbentuk dari kelopak-kelopak bunga itu pun berhasil dibuat. Pedang itu awalnya hanya berwarna hitam pekat tetapi sekarang pedang itu memiliki corak bergambar bunga dengan warna merah yang samar-samar menghiasi bilah dan gagang pedang itu.
Karena pedang itu terbentuk tepat di tangan kanan nona Leirion, pedang itu pun kini sudah dipegang oleh nona Leirion dengan menggunakan tangan kanannya. Setelah itu, nona Leirion menatap tajam ke arah depannya sambil memegang pedang itu.
"Sudah waktunya untuk mengakhiri permainan ini," ucap nona Leirion.
Setelah itu, nona Leirion langsung melesat dengan cepat ke depan.
-
Kembali ke tempat Nexus berada.
Nexus baru saja mengalahkan tubuh nona Leirion yang lain di tempatnya berada saat ini. Setelah dikalahkan, tubuh nona Leirion itu lagi-lagi berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam. Nexus tidak mengatakan apa-apa setelah melihat tubuh nona Leirion yang berubah menjadi kelopak-kelopak, mungkin karena dia sudah sering mengalami ini sebelumnya. Dia hanya melihat ke arah tubuh nona Leirion dengan nafas yang terengah-engah karena dia sudah sangat kelelahan.
*Haaaahh *Haaaahhhh
Setelah tubuh nona Leirion sudah berubah menjadi kelopak-kelopak bunga seluruhnya, Nexus yang kelelahan pun bersiap untuk melawan tangkai-tangkai bunga yang kembali bergerak untuk menyerangnya. Lalu, ketika Nexus sedang bersiap, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang melesat dengan cepat dari arah kanannya. Nexus pun langsung menoleh ke arah kanannya dan kemudian dia melihat nona Leirion yang sedang melesat dengan cepat sambil memegang sebuah pedang di tangan kanannya. Nexus pun terkejut ketika melihat nona Leirion yang sedang memegang pedang itu.
"Apa?! Sebuah pedang?!,"
"Aku merasakan adanya bahaya yang sangat besar dari pedang itu. Aku harus melakukan sesuatu," pikir Nexus.
Setelah itu, Nexus langsung memegang pedang miliknya itu dan menempatkannya di depannya. Nexus melakukan itu karena dia ingin menahan serangan yang dilakukan oleh nona Leirion dengan pedangnya itu. Dia tahu kalau dia tidak akan sempat untuk menghindar, jadi dia memilih untuk menahan serangan yang dilakukan oleh nona Leirion nanti dengan pedangnya. Dia juga meningkatkan kekuatan sihir cahaya yang menyelimuti pedangnya itu agar bisa menahan serangan nona Leirion.
Lalu, tepat setelah Nexus sudah bertahan dengan menggunakan pedangnya, nona Leirion pun kini sudah berada di hadapan Nexus. Setelah itu, dia bersiap untuk menyerang Nexus dengan menggunakan pedangnya.
"Maafkan aku, tuan muda. Izinkan aku untuk meminjam teknik berpedang milikmu," ucap nona Leirion.
Setelah itu, sebuah sihir kegelapan yang sangat pekat tiba-tiba menyelimuti pedang yang dipegang oleh nona Leirion. Kemudian, nona Leirion pun melancarkan sebuah serangan tebasan ke arah Nexus.
~Secret Demonic Sword Art : Hel Snijder~
Nona Leirion pun menebas Nexus mulai dari sisi kanan tubuhnya hingga ke sisi kiri tubuhnya. Tepat setelah nona Leirion selesai melakukan serangan tebasan, objek yang berada di sebelah kanan Nexus hingga ke sebelah kirinya seperti pepohonan ataupun tangkai-tangkai bunga yang muncul di seluruh hutan itu tiba-tiba terbelah menjadi 2 secara bersamaan. Objek yang terbelah menjadi 2 itu tidak hanya objek yang berada di dekat Nexus saja, tetapi semua objek yang berada dalam radius 100 hingga 200 meter dari sebelah kanan Nexus hingga ke sebelah kirinya juga ikut terbelah menjadi 2.
Disaat yang bersamaan dengan terbelahnya objek-objek yang berada di sebelah kanan hingga sebelah kiri Nexus, pedang Nexus yang sudah diselimuti oleh sihir cahaya pun ikut terbelah menjadi 2. Tubuhnya yang tidak terlindungi oleh pedangnya itu karena pedangnya sudah terbelah menjadi 2 pun terkena serangan tebasan yang dilancarkan oleh nona Leirion dengan telak. Bagian bawah dadanya mengalami luka robek yang sangat parah setelah terkena serangan tebasan nona Leirion. Bahkan saking parahnya, luka robek yang dialaminya itu sudah memperlihatkan bagian dalam dari bagian bawah dadanya itu. Tidak hanya bagian bawah dadanya saja yang mengalami luka robek yang cukup parah itu, lengan kirinya pun juga mengalami luka robek yang cukup parah hingga hampir putus karena ikut terkena serangan tebasan yang dilakukan oleh nona Leirion. Nexus pun juga mengalami muntah darah setelah terkena serangan tebasan itu.
"Apa-apaan serangan tebasannya itu?! Aku tidak bisa menahannya sama sekali?!," pikir Nexus dengan ekspresi yang terkejut.
Lalu setelah terkena serangan tebasan itu dengan telak, Nexus pun langsung terhempas beberapa meter ke belakang. Dia berhenti terhempas setelah menabrak dan menghantam pepohonan yang sudah tumbang karena terkena efek serangan tebasan yang dilancarkan oleh nona Leirion.
Nexus pun lalu duduk bersandar di pepohonan yang dihantamnya itu. Dia terlihat masih tersadar meskipun sudah terkena serangan nona Leirion. Tetapi dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Wajahnya pun terlihat sangat lemas.
"Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Apakah ini akhir dari hidupku?," pikir Nexus.
Setelah Nexus memikirkan itu, terdengar langkah kaki yang sedang mendekat ke arah Nexus. Nexus yang mendengar suara langkah kaki itu pun langsung menggerakkan kedua matanya untuk melihat siapa pemilik langkah kaki itu. Nexus sama sekali tidak bisa menggerakkan kepalanya jadi dia hanya bisa menggerakkan kedua matanya untuk melihat siapa pemilik langkah kaki itu. Setelah menggerakkan kedua matanya ke arah suara langkah kaki itu berasal, Nexus melihat nona Leirion yang sedang berjalan perlahan ke arahnya. Nona Leirion terlihat masih memegang pedang miliknya itu. Tetapi tidak lama kemudian, pedang miliknya itu tiba-tiba berubah kembali menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna hitam. Kelopak-kelopak bunga itu pun beterbangan di tempat mereka berada. Kini nona Leirion mendekati Nexus tanpa memegang pedang atau senjata sama sekali.
Nona Leirion terus berjalan mendekati Nexus. Lalu ketika nona Leirion sudah berada dekat dengan Nexus, nona Leirion pun berhenti berjalan. Nona Leirion lalu mengatakan sesuatu kepada Nexus sambil melihat ke arahnya.
"Apa cuma segini saja kekuatan komandan pertama dari organisasi yang ingin memusnahkan ras malaikat? Padahal teknik tebasan yang aku gunakan tadi tidaklah sempurna, tetapi kamu tetap terluka parah seperti ini. Jika tebasan yang aku gunakan itu sempurna sama seperti yang digunakan oleh tuan muda, kamu saat ini mungkin sudah mati dengan kondisi tubuh yang terbelah menjadi 2," ucap nona Leirion.
Nexus hanya terdiam saja sambil melihat ke arah nona Leirion. Dia hanya terdiam karena dia sudah tidak bisa berbicara sama sekali.
"Organisasi kalian tidak akan pernah bisa memusnahkan ras malaikat. Kalian mungkin bisa melawan dan membunuh malaikat-malaikat yang setara dengan iblis tingkat rendah dan menengah. Kalian juga mungkin bisa melawan dan membunuh beberapa malaikat yang setara dengan iblis tingkat tinggi. Tetapi kalian tidak akan bisa melawan kekuatan tempur utama mereka yaitu para ’Archangel Commanders’. Para ’Archangel Commanders’ memiliki kekuatan yang setara dengan kami, para ’Demon Sovereign Commanders’,"
"Bahkan aku yang merupakan komandan terlemah dari 8 ’Demon Sovereign Commanders’ yang ada pun kamu sebagai komandan pertama organisasi itu tidak bisa melawan apalagi membunuhku. Apalagi jika kalian nanti berhadapan dengan para ’Archangel Commanders’, kalian pasti akan langsung dibasmi oleh mereka semua,"
"Aku pikir kalian sangat kuat sampai kalian dengan percaya dirinya bilang ingin membasmi semua ras malaikat, tetapi ternyata kekuatan kalian hanya segini saja," lanjut nona Leirion.
Nexus tetap terdiam setelah mendengarkan perkataan nona Leirion. Meski Nexus hanya terdiam, nona Leirion terus melanjutkan perkataannya.
"Ya sudah lah. Sekarang saatnya mengakhiri ini," ucap nona Leirion.
Setelah nona Leirion mengatakan itu, tangkai-tangkai bunga yang muncul di seluruh hutan itu kembali bergerak dengan meliuk-liuk. Bahkan tangkai-tangkai bunga yang sebelumnya terpotong setelah terkena tebasan yang dilancarkan oleh nona Leirion pun kini sudah pulih kembali. Meski tangkai-tangkai bunga itu sudah bergerak kembali, Nexus tetap hanya diam dan tidak bergerak sama sekali. Dirinya benar-benar sudah tidak bisa bergerak. Jika tangkai-tangkai bunga itu menyerangnya, dia pun hanya bisa pasrah menerima serangan tangkai-tangkai bunga itu karena dia sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Biasanya aku membunuh orang-orang dengan menggunakan tangkai-tangkai bunga ini. Tangkai-tangkai bunga ini akan menusuk orang-orang yang ingin aku bunuh dan kemudian tangkai-tangkai bunga ini akan menghisap darah dan daging dari orang yang ditusuknya hingga orang itu mengering dan hanya tersisa tulang dan kulit saja,"
"Tetapi kali ini aku akan membunuhmu dengan cara yang lain. Aku akan membunuhmu dengan melenyapkan seluruh tubuhmu tanpa bersisa sedikitpun," ucap nona Leirion.
~Dark Flower Magic : Sunflowers of Underworld~
Setelah nona Leirion mengaktifkan sihirnya itu, tiba-tiba tanah yang ada di seluruh hutan itu dan di sekitarnya bergetar dengan sangat hebat. Getaran itu pun dirasakan oleh para iblis bawahan nona Leirion yang saat ini berada cukup jauh dari hutan tempat nona Leirion dan Nexus berada. Mereka semua saat ini sedang terkejut karena getaran itu.
"Getaran apa ini?," tanya salah satu iblis itu.
Sementara Agaris yang saat ini sedang dirawat oleh beberapa iblis itu terlihat lebih terkejut daripada para iblis yang lainnya.
"Getaran ini, jangan-jangan Yang Mulia Ratu akan menggunakan sihir itu?," tanya Agaris yang terkejut.
Sementara itu, di tempat nona Leirion dan Nexus berada. Nexus pun juga terkejut ketika merasakan getaran yang hebat itu. Itu terlihat dari ekspresinya sendiri dan sorot matanya.
"Getaran apa ini?," tanya Nexus.
Tidak lama setelah getaran itu tiba-tiba muncul, bunga matahari berwarna hitam dan berukuran raksasan tiba-tiba muncul di luar hutan tempat Nexus dan nona Leirion berada. Tidak hanya satu bunga matahari saja, melainkan belasan bunga matahari raksasa yang muncul di luar hutan itu. Belasan bunga matahari raksasa itu muncul dengan mengelilingi bagian luar dari hutan itu. Saat ini, seluruh hutan itu sudah dikelilingi oleh bunga matahari raksasa itu. Semua bunga matahari yang muncul itu terlihat menghadap ke arah hutan yang ada di tengahnya.
Para iblis bawahan nona Leirion terlihat terkejut dengan kemunculan bunga matahari raksasa itu.
"Apa-apaan bunga matahari raksasa itu?,"
"Apa itu salah satu sihir milik Yang Mulia Ratu?," tanya para iblis itu.
Sementara Agaris yang mengetahui tentang bunga matahari raksasa itu langsung memberi perintah kepada para iblis itu.
"Kalian semua, cepat pergi menjauh dari tempat ini!!," ucap Agaris.
Sementara itu, Nexus yang masih bersandar di pohon yang dihantamnya sebelumnya terlihat juga terkejut dengan kemunculan bunga-bunga matahari raksasa itu.
"Bunga matahari raksasa? Apa yang mau dilakukan nona iblis itu?," pikir Nexus.
Setelah itu, pada mahkota bunga di bunga matahari tersebut tiba-tiba berkumpul sihir kegelapan yang sangat pekat. Sihir kegelapan yang berkumpul itu awalnya hanya sedikit dan berukuran kecil, namun secara perlahan sihir itu bertambah banyak dan ukurannya pun bertambah besar.
Nexus yang melihat itu pun kembali terkejut. Dia sepertinya tahu apa yang akan dilakukan oleh bunga matahari raksasa itu.
"Sihir kegelapan? Jangan bilang kalau bunga-bunga raksasa itu.....," pikir Nexus.
Setelah sihir yang berkumpul di mahkota bunga itu sudah bertambah besar, nona Leirion yang saat ini masih berada di depan Nexus kemudian langsung melompat dengan tinggi di udara. Dia kemudian terbang melayang ke bunga matahari raksasa yang ada di depan penglihatan Nexus. Setelah itu, dia kemudian berpijak di atas bunga matahari raksasa itu.
Setelah berpijak di atas bunga matahari raksasa itu, nona Leirion lalu mengatakan sesuatu.
"Lenyaplah," ucap nona Leirion.
Tepat setelah nona Leirion mengatakan itu, sihir kegelapan yang berkumpul di mahkota bunga-bunga matahari raksasa itu pun langsung ditembakkan ke depan. Semua bunga-bunga matahari raksasa itu telah menghadap ke arah hutan, jadi ketika sihir kegelapan itu ditembakkan, tembakkannya jelas mengarah ke hutan yang ada di hadapan mereka.
Sihir kegelapan yang ditembakkan oleh bunga-bunga matahari raksasa itu pun langsung melesat ke arah hutan itu. Nexus yang masih terkejut terlihat hanya pasrah saja ketika sihir-sihir kegelapan itu sudah mau mendekat ke hutan tempat dia berada saat ini.
"Sepertinya ini memang akhir bagiku. Maafkan aku karena tidak bisa menemani anda untuk mencapai tujuan anda, tuan Raven," pikir Nexus.
Tepat setelah Nexus memikirkan itu, sihir-sihir kegelapan yang ditembakkan itu pun mulai mengenai hutan itu satu persatu. Setelah sihir-sihir kegelapan yang ditembakkan itu mengenai hutan itu, ledakan sihir kegelapan yang sangat besar pun langsung muncul. Ledakan sihir kegelapan yang sangat besar itu pun langsung menyelimuti seluruh hutan itu dan sekitarnya.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments