Peace Hunter
Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Sementara itu, disaat yang sama, di sebuah hutan bambu yang sangat luas.
Terlihat ada banyak sekali orang yang sedang bertarung dengan menggunakan sihir dan senjata mereka masing-masing di hutan itu. Orang-orang yang sedang bertarung itu terlihat berbeda dengan orang-orang dari kerajaan San Fulgen. Itu terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Beberapa dari orang-orang itu mengenakan pakaian seperti kimono dan sisanya mengenakan armor seperti yang biasanya digunakan oleh para samurai. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, mereka merupakan orang-orang dari negeri Kaminari. Tempat mereka berada saat ini juga merupakan salah satu tempat yang berada di negeri Kaminari.
Orang-orang yang berada di hutan itu terus menyerang dan bertarung satu sama lain. Dilihat dari banyaknya orang yang bertarung di hutan bambu itu, itu bukan merupakan sebuah pertarungan atau pertempuran biasa, melainkan sebuah perang. Negeri Kaminari saat ini memang sedang dilanda oleh pedang saudara yang cukup besar. Perang saudara ini terbagi menjadi 2 kubu, ini bisa dilihat dari adanya tanda pengenal dari orang-orang yang sedang bertarung itu. Beberapa orang yang sedang bertarung itu terlihat mengenakan sebuah kain yang mengikat anggota tubuh mereka seperti kepala, lengan atau kaki, sementara sisanya terlihat tidak mengenakan kain itu. Ini membuktikan kalau mereka yang mengenakan kain yang mengikat anggota tubuh mereka berada dalam kubu yang sama, sementara mereka yang tidak mengenakan kain berada dalam kubu yang berbeda.
Pertempuran yang berlangsung di hutan bambu itu semakin sengit dan memanas. Sebagian besar wilayah hutan bambu itu pun sudah mengalami kerusakan yang sangat parah akibat pertempuran itu.
Lalu, beberapa menit kemudian, pertempuran itu terlihat sudah hampir mencapai puncaknya. Orang-orang yang mengenakan kain terlihat sangat mendominasi dalam pertempuran itu. Mereka berhasil membunuh dan mengalahkan orang-orang yang tidak mengenakan kain yang merupakan lawan mereka. Di antara orang-orang yang mengenakan kain itu, ada seseorang yang terlihat sangat mencolok. Itu karena dia dapat mengalahkan banyak orang yang tidak mengenakan kain dengan mudahnya. Orang yang mencolok itu terlihat mengenakan armor seperti seorang samurai. Layaknya seperti seorang samurai juga, dia menggunakan sebuah katana untuk mengalahkan dan membunuh lawan-lawannya.
Setelah mengalahkan banyak musuh yang berada di sekitarnya, orang yang mencolok itu lalu didatangi oleh 2 orang yang juga mengenakan kain yang mengikat anggota tubuh mereka. 2 orang itu juga mengenakan armor seperti samurai. Hanya saja 2 orang itu tidak menggunakan katana sebagai senjata mereka. Salah satu dari 2 orang itu menggunakan tombak sebagai senjatanya dan satu orang lagi menggunakan sebuah busur panah.
"Kerja bagus karena telah membunuh mereka semua, komandan," ucap pengguna tombak.
"Seperti yang diharapkan dari komandan Ogawa yang merupakan salah satu komandan kepercayaan ’mantan tuan Shogun’," ucap pengguna panah.
Orang mencolok yang menggunakan katana itu ternyata bernama Ogawa. Setelah mendengar perkataan orang yang menggunakan panah, Ogawa terlihat nampak kesal.
"Sudah beberapa kali aku bilang kepadamu untuk jangan bilang ’mantan tuan Shogun’, karena sampai kapanpun beliau tetaplah ’Shogun’ negari ni. Meskipun beliau sudah tiada, tetapi aku menganggap kalau beliau tetaplah ’Shogun’ negari ini. Aku tidak akan pernah mengakui ’orang pengecut’ itu sebagai ’Shogun’ negari ini," ucap Ogawa.
Mendengar perkataan Ogawa, orang yang menggunakan panah itu lalu meminta maaf.
"Saya minta maaf, komandan," ucap pengguna panah.
"Jangan diulangi lagi," ucap Ogawa.
"Baik, komandan," ucap pengguna panah.
Setelah itu, Ogawa pun melihat ke sekelilingnya. Terlihat orang-orang yang tidak mengenakan kain yang berada di sekelilingnya sudah hampir dikalahkan semuanya oleh orang-orang yang mengenakan kain.
"Musuh kita tinggal sedikit lagi, ayo kita segera kalahkan mereka dan akhiri pertempuran ini," ucap Ogawa kepada 2 orang yang ada di dekatnya.
"Baik, komandan," ucap 2 orang itu.
Kemudian, mereka bertiga pun bergegas untuk menghampiri orang-orang yang tidak mengenakan kain yang tersisa untuk mengalahkannya. Namun, baru beberapa langkah mereka bergerak, sebuah panah tiba-tiba melesat dengan sangat cepat ke arah orang yang memakai panah. Orang yang memakai panah itu tidak sempat bereaksi terhadap panah yang melesat dengan sangat cepat itu. Panah yang melesat dengan sangat cepat itu pun langsung mengenai kepalanya dan menghancurkan kepalanya itu. Orang yang memakai panah itu pun seketika langsung tewas.
Ogawa dan orang yang memakai tombak pun terkejut ketika melihat orang yang memakai panah itu tiba-tiba telah tewas dengan kepala yang sudah hancur. Namun, baru sebentar mereka terkejut, Ogawa tiba-tiba merasakan ada 2 orang yang sedang melesat dengan cepat ke arahnya dan orang yang memakai tombak. Menyadari kalau ada 2 orang yang sedang melesat ke arah mereka, Ogawa langsung memperingati orang yang memakai tombak itu.
"Hei, kamu. Hati-h," ucap Ogawa.
Belum sempat Ogawa menyelesaikan perkataannya untuk memperingati orang yang memakai tombak itu, orang yang memakai tombak itu tiba-tiba telah tewas dengan kondisi kepala yang sudah terpisah dari badannya. Kepala orang yang memakai tombak itu telah dipenggal oleh orang yang saat ini tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Orang yang memenggal orang yang memakai tombak itu terlihat memakai senjata yang sama yaitu sebuah tombak. Lalu, setelah kepalanya dipenggal, tubuh orang yang memakai tombak itu pun langsung tumbang dan terbaring di tanah. Darah langsung mengalir deras dari lehernya yang telah terpotong itu.
Ogawa pun langsung terkejut ketika melihat orang yang memakai tombak itu telah tewas. Tetapi dia tidak berlarut-larut untuk terkejut karena dia sadar kalau saat ini ada sebuah bahaya yang sedang mengancamnya. Benar saja, tidak lama setelah itu, seorang pengguna katana tiba-tiba sudah berada di depannya dan bersiap untuk menebasnya. Tetapi Ogawa dengan sigap langsung menahan katana itu dengan menggunakan katananya.
*CLANGGGG
Kedua katana itu pun saling beradu. Saat katana mereka saling beradu, Ogawa lalu melihat dan memperhatikan wajah dari orang yang berusaha menyerangnya itu. Setelah melihat wajah dari orang itu, Ogawa pun langsung terkejut.
"Kamu kan!? Selain itu, kenapa wujudmu menjadi seperti itu!?," tanya Ogawa yang terkejut.
Ogawa kelihatannya kenal dengan orang yang berusaha menyerangnya itu. Lalu, setelah mendengar perkataan Ogawa, orang itu pun langsung menanggapi perkataan Ogawa.
"Bahkan dengan wujud ini, aku masih belum bisa mengalahkan dan membunuh anda. Seperti yang diharapkan dari komandan Ogawa,"
"Kelihatannya anda sangat terkejut ketika melihat wujudku yang sudah berubah seperti ini," ucap orang itu.
"Tentu saja aku terkejut. Kenapa kamu bisa berubah wujud menjadi seperti itu? Kenapa kamu bisa berubah menjadi iblis?," tanya Ogawa yang masih terkejut.
Sesuai perkataan Ogawa, orang yang sedang beradu katana dengannya saat ini memiliki wujud seperti iblis. Orang itu memiliki kuku yang panjang dan berwarna hitam. Orang itu juga memiliki tato bercorak dan berwarna hitam di lehernya. Selain itu, orang itu juga memiliki bola mata berwarna hitam pekat. Semua ciri-ciri itu merupakan ciri-ciri dari ras iblis.
"Aku bisa berubah menjadi wujud yang kuat ini berkat hadiah yang diberikan ’Tuan Shogun’," ucap orang itu.
"’Tuan Shogun’? Maksudmu, ’orang pengecut’ itu? Jadi sekarang kau sudah berpihak kepadanya?," tanya Ogawa.
"Tentu saja, lagipula ’Tuan Shogun’ saat ini adalah pemimpin negeri ini. Bukankah sudah seharusnya kita berpihak dan mengabdi kepadanya?,"
"Bagaimana jika anda ikut mengabdi kepadanya juga, komandan? Jika anda mengabdi kepadanya, anda akan mendapatkan banyak hadiah, salah satunya anda akan mendapatkan wujud yang kuat ini. Dengan wujud ini, anda akan menjadi orang terkuat dan tak terkalahkan di negeri ini. Selain itu, sekarang sudah waktunya anda untuk berhenti mengabdi kepada keluarga ’mantan Shogun’ itu," ucap orang itu.
Ogawa langsung marah setelah mendengar perkataan orang itu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mau mengabdi atau melayani ’orang pengecut’ itu. Satu-satunya orang yang pantas aku layani adalah ’Tuan Takahashi Miyamoto’ dan keluarganya. Aku tidak akan melepaskan kesetiaanku ini," ucap Ogawa.
"Orang yang anda layani itu beserta istrinya sudah tewas. Saat ini, hanya tersisa putra dan putrinya saja. Putra dan putri dari orang itu saat ini menjadi orang yang paling dicari oleh ’Tuan Shogun’. Karena kebetulan anda yang merupakan orang yang melayani keluarga mereka ada disini, bolehkah aku menanyakan dimana keberadaan putra dan putri dari ’Mantan Shogun’ itu?," tanya orang itu.
"Aku tidak akan memberitahunya kepadamu. Aku tidak akan menyerahkan putra dan putri dari ’Tuan Miyamoto’ kepadamu," ucap Ogawa.
"Begitu ya. Padahal aku sudah menanyakannya secara baik-baik. Sepertinya kami harus memakai cara kasar untuk mendapatkan jawabannya," ucap orang itu.
Setelah itu, orang yang memakai tombak yang sebelumnya memenggal orang yang bersama Ogawa kini sudah berada di dekat Ogawa yang saat ini masih beradu katana dengan orang yang sebelumnya menyerangnya. Tidak hanya orang yang memakai tombak itu saja, saat ini sudah ada banyak orang yang berada di dekat Ogawa dan mengepungnya. Orang-orang yang saat ini sedang mengepungnya juga memiliki wujud iblis seperti orang yang sedang beradu katana dengan Ogawa. Hal itu membuat Ogawa sangat terkejut.
"Kalian semua...kenapa!?," tanya Ogawa yang terkejut.
Ogawa tidak hanya terkejut ketika melihat wujud iblis mereka saja, Ogawa juga terkejut ketika dia menyadari kalau semua orang yang mengenakan kain yang mengikati anggota tubuh mereka sudah tewas. Mereka semua telah tewas karena dibunuh oleh orang yang memiliki wujud iblis itu.
"Mereka semua telah tewas!? Bagaimana mungkin!?," tanya Ogawa.
Mendengar Ogawa yang terkejut, orang yang sedang beradu katana dengan Ogawa lalu mulai berbicara kembali.
"Inilah kekuatan dari pasukan baru yang dimiliki oleh ’Tuan Shogun’. ’Tuan Shogun’ menamai pasukan ini dengan nama ’Pasukan Oni’. Pasukan ini terdiri dari orang-orang yang sudah berubah menjadi iblis," ucap orang itu.
"Pasukan yang terdiri dari orang-orang yang sudah berubah menjadi iblis? Bagaimana bisa ’orang pengecut’ membuat pasukan ini? Apa ’orang pengecut’ itu telah bekerja sama dengan ras iblis?," tanya Ogawa.
"Anda tidak perlu mengetahuinya," ucap orang itu.
"Bisa-bisanya ’orang pengecut’ itu melakukan hal ini, apa dia tidak takut dengan ’hukuman surgawi’ yang akan menimpa negeri ini nantinya?," tanya Ogawa.
"’Hukuman Surgawi’? Ahahaha, apa anda sedang membicarakan ras malaikat? Mereka tidak akan melakukan apapun terhadap negeri ini. Selama iblis tingkat atas tidak melakukan sesuatu di negeri ini. Mereka tidak akan melakukan apapun terhadap negeri ini,"
"Daripada itu, dengan adanya ’Pasukan Oni’, lebih baik anda segera menyerah. Karena dengan ’Pasukan Oni’ ini, kubu kami akan menjadi tidak terkalahkan. Menyerahlah dan serahkan putra dan putri dari ’Mantan Shogun’ itu," ucap orang itu.
Ogawa yang mendengar itu tiba-tiba mulai meningkatkan kekuatannya.
"Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak akan membiarkan kalian semua melakukan itu. Meskipun kalian semua mengepungku, mengalahkanku lalu menyiksaku, aku tetap tidak akan menyerahkan ’tuan muda’ dan ’tuan putri’ kepada kalian. Sampai aku mati pun aku tidak akan menyerahkannya!," ucap Ogawa.
Karena kekuatannya telah meningkat, Ogawa secara perlahan mulai mendominasi dalam adu katana itu. Lalu, setelah mendengar perkataan Ogawa, orang yang sedang beradu katana dengan Ogawa pun langsung menanggapinya dengan ekspresi wajah yang serius.
"Begitu ya. Kalau begitu, kalian semua, cepat serang dia," ucap orang itu.
Setelah itu, orang-orang yang telah berubah iblis yang saat ini sedang mengepung Ogawa pun mulai melancarkan serangan kepada Ogawa.
-
Sementara itu, di sebuah gua yang berukuran cukup besar.
Terlihat ada banyak orang yang sedang berlindung atau bersembunyi di dalam gua itu. Orang-orang yang berada di dalam gua itu terlihat mengenakan pakaian seperti kimono, yukata atau armor samurai, yang berarti gua itu masih berada di wilayah negeri Kaminari. Tidak hanya ada orang-orang yang mengenakan pakaian seperti kimono atau armor samurai saja, di dalam gua itu juga ada beberapa orang tepatnya beberapa wanita yang memakai pakaian seperti Miko atau gadis kuil.
Beberapa Miko itu terlihat sedang menyembuhkan orang-orang yang terluka yang ada di dalam gua itu. Orang-orang yang terluka di dalam gua itu terlihat mengenakan sebuah kain yang mengikat salah satu anggota tubuhnya. Lalu, di antara para Miko yang sedang menyembuhkan orang-orang yang terluka itu, ada seorang Miko yang terlihat cukup muda yang sedang menyembuhkan banyak orang sekaligus. Miko itu mengenakan sesuatu seperti mahkota di kepalanya. Selain itu, Miko itu juga mengenakan kalung liontin berwarna emas di lehernya. Kalung liontin itu memiliki bentuk seperti sepasang sayap. Kalung liontin itu sepertinya digunakan sebagai media atau pembantu dalam melakukan penyembuhan karena ketika Miko itu sedang menyembuhkan banyak orang yang ada di hadapannya, Miko itu sambil memegang kalung liontin itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya diarahkan ke banyak orang yang terluka di hadapannya itu.
Orang-orang yang terluka yang ada di hadapannya itu secara perlahan mulai pulih. Miko itu terus melanjutkan penyembuhannya agar semua orang itu bisa pulih total. Tetapi saat sedang menyembuhkan orang-orang itu, Miko itu tiba-tiba memuntahkan cukup banyak darah dari mulutnya. Orang-orang dan beberapa Miko yang berada di dekatnya pun terkejut dan kemudian langsung menghampirinya.
"Nona Kaori!?," ucap orang-orang itu.
Miko yang baru saja memuntahkan darah itu ternyata bernama Kaori. Ketika orang-orang itu sudah menghampiri Kaori, Kaori terlihat sedang membersihkan mulut dan bibirnya yang baru saja memuntahkan darah dengan tangan kanannya.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," ucap Kaori.
Kaori tahu alasan orang-orang itu dan beberapa Miko menghampirinya karena mereka khawatir kepadanya. Maka dari itu dia langsung berkata kalau dia baik-baik saja. Meski dia berkata kalau dia baik-baik saja, orang-orang itu masih tetap khawatir.
"Tolong istirahat sebentar, nona Kaori," ucap Miko A.
"Itu benar, nona Kaori. Sejak orang-orang yang terluka ini bertambah banyak, anda belum beristirahat sama sekali. Jika anda tidak beristirahat, kesehatan anda akan menurun," ucap samurai A.
Orang-orang itu bersikeras meminta Kaori untuk beristirahat. Tetapi Kaori tidak mengiyakan permintaan mereka.
"Selagi masih ada banyak orang yang terluka, aku tidak boleh istirahat. Aku harus menyembuhkan mereka semua," ucap Kaori.
Setelah itu, Kaori mencoba untuk menyembuhkan orang-orang yang ada di hadapannya itu lagi. Tetapi baru sebentar dia menyembuhkan orang-orang itu, dia kembali memuntahkan sejumlah darah dari mulutnya. Tidak hanya memuntahkan darah dari mulutnya saja, dari hidungnya juga keluar sejumlah darah. Beberapa Miko dan orang-orang yang ada di dekatnya pun semakin khawatir.
"Nona Kaori!!," ucap beberapa Miko dan orang-orang itu.
Mereka semua kemudian mencoba untuk menolong dan merawat Kaori. Tetapi Kaori bersikeras menolak mereka.
"Tidak perlu menolong atau merawatku, lebih baik kalian menolong atau merawat orang lain yang terluka saja," ucap Kaori.
Setelah itu, Kaori kembali mencoba untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka yang ada di hadapannya lagi. Melihat Kaori yang mencoba untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka itu lagi, seorang Miko mencoba untuk menghentikannya.
"Hentikan, nona Kaori. Saat ini, anda sudah mencapai batas anda. Tolong beristirahatlah, jika anda terus memaksa seperti ini, anda bisa meninggal," ucap Miko B.
Meski Miko itu mencoba untuk menghentikan Kaori, Kaori tetap melanjutkan penyembuhannya itu. Dia terus menyembuhkan orang-orang yang terluka itu dengan kondisi mulut dan hidung yang terus mengeluarkan darah. Selain itu, nafas Kaori terlihat juga mulai terengah-engah seperti sedang kelelahan.
"Selama perang...ini belum berakhir, aku...belum boleh berhenti. Aku...juga tidak boleh berisitirahat. Saat ini,.... ada banyak orang yang...berada di garda terdepan yang sedang...bertarung secara langsung dengan...pihak musuh tanpa bisa beristirahat sama sekali. Mana....mungkin aku bisa beristirahat ketika mereka...yang ada di garda terdepan...tidak bisa beristirahat,"
"Aku akan terus.....menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkan mereka...semua yang terluka karena hanya ini satu-satunya...yang bisa aku lakukan untuk membantu dalam ...perang ini," ucap Kaori.
Setelah mengatakan itu, Kaori tiba-tiba kembali memuntahkan sejumlah darah dari mulutnya. Beberapa Miko dan orang-orang yang ada di dekatnya pun kembali khawatir. Tetapi tidak ada dari mereka yang berusaha untuk mendekat atau menghentikan Kaori. Lalu, setelah memuntahkan sejumlah darah dari mulutnya, Kaori kembali mengatakan sesuatu.
"Kalian semua...tidak perlu khawatir kepadaku..., lebih baik kalian khawatirkan.....diri kalian sendiri. Kalian jangan sampai lengah....karena perang di negeri ini masih.....belum berakhir. Tetapi meskipun perang di.....negeri ini masih belum berakhir, aku.....percaya kalau perang ini dapat segera berakhir. Aku....percaya akan ada seseorang...yang dapat mengakhiri dan menghentikan.....perang di negeri ini," ucap Kaori.
-
Sementara itu, di sebuah desa yang berada di dalam sebuah hutan.
Karena desa itu berada di dalam sebuah hutan, bangunan atau rumah yang ada di desa itu mayoritas adalah rumah pohon atau bangunan yang dibangun di atas atau samping batang pohon. Untungnya pohon-pohon yang berada di hutan itu berukuran sangat besar, jadi meskipun dibangun sebuah rumah atau bangunan di batang pohon itu, pohon itu masih kuat untuk menahannya. Meski begitu, saat ini semua rumah atau bangunan yang dibangun di batang pohon itu terlihat mengalami kerusakan yang sangat parah. Beberapa dari rumah atau bangunan itu bahkan ada yang sedang terbakar.
Lalu di bagian bawah dari desa itu, tepatnya di permukaan tanah yang berada di bawah rumah atau bangunan yang di bangun di atas batang pohon, terlihat ada banyak orang yang sedang duduk di tempat itu. Orang-orang itu kelihatannya sedang dikumpulkan secara paksa di tempat itu karena di sekeliling mereka ada beberapa prajurit yang sedang mengacungkan senjatanya ke arah mereka yang sedang duduk itu. Selain itu, mereka yang sedang duduk itu juga dalam kondisi tangan yang terikat. Semua orang yang sedang duduk itu termasuk prajurit yang sedang mengacungkan senjatanya ke mereka itu adalah ras Elf. Tidak ada 1 orang pun yang berasal dari ras lain di tempat itu, semuanya adalah ras Elf. Itu berarti desa tempat mereka berada itu sepertinya adalah salah satu desa Elf yang berada di wilayah kerajaan Elf, Seleria.
Para Elf yang sedang duduk sambil diacungkan senjata oleh para prajurit Elf itu saat ini sedang duduk sambil menghadap ke arah seorang Elf wanita. Elf wanita itu terlihat sangat cantik. Pakaian yang dikenakannya pun seperti pakaian seorang bangsawan. Selain itu, elf wanita itu terlihat memakai sebuah mahkota kecil di kepalanya seperti seorang putri. Elf wanita itu saat ini sedang melihat ke arah para Elf yang sedang duduk itu sambil menampilkan ekspresi wajah yang datar. Para Elf yang sedang duduk itu terlihat ketakutan saat dilihat oleh elf wanita itu. Elf wanita itu awalnya hanya terdiam, namun tidak lama kemudian, elf wanita itu lalu berbicara kepada seorang elf yang duduk paling depan di antara para Elf yang sedang duduk itu.
"Apakah kamu adalah kepala desa di desa ini?," tanya elf wanita itu.
"Iya, tuan putri," ucap elf yang merupakan kepala desa itu.
Elf yang merupakan kepala desa itu merupakan seorang pria yang terlihat tidak terlalu tua.
Sementara itu, mendengar kepala desa itu memanggil elf wanita itu dengan sebutan ’tuan putri’, sepertinya elf wanita itu memang merupakan seorang putri elf.
"Kamu tahu kan alasan kepada kamu dan seluruh warga desamu dikumpulkan seperti ini?," tanya putri elf.
"Saya tahu, tuan putri," ucap kepala desa elf.
"Kalau begitu, jangan melawan karena aku akan menjadikan kalian semua sebagai budak karena semua orang yang ada di desa ini telah gagal dalam membayar pajak untuk bulan ini," ucap putri elf.
Para elf yang sedang duduk itu pun terlihat terkejut setelah mendengar perkataan putri Elf. Mereka semua semakin ketakutan, bahkan beberapa di antara mereka terlihat mulai menangis.
"T-tidak, aku tidak mau menjadi budak!," ucap elf wanita A.
"A-aku juga, a-aku tidak mau menjadi budak," ucap elf wanita B.
Para elf yang sedang duduk itu kompak menolak untuk dijadikan budak. Situasi di tempat itu pun menjadi tidak terkendali. Melihat situasi yang tidak terkendali itu, putri elf itu lalu mengatakan sesuatu.
"Para prajurit, bunuh beberapa elf agar mereka semua diam," ucap putri elf.
"Baik, tuan putri," ucap para prajurit elf.
Para prajurit elf yang sejak awal sedang mengacungkan senjata ke arah para elf yang sedang duduk itu lalu mulai menyerang beberapa elf yang sedang duduk itu. Mereka menyerang para elf itu secara acak, entah itu tua, muda, pria atau wanita, semuanya mereka serang. Tetapi sesuai dengan perintah dari putri elf, mereka tidak menyerang semuanya, hanya beberapa dari elf itu saja.
Karena para elf itu tidak bisa melawan akibat tangan mereka yang sedang diikat, mereka pun hanya pasrah ketika diserang oleh para prajurit elf itu. Mereka pun langsung tewas tepat setelah diserang oleh para prajurit elf itu. Sementara para elf yang masih dibiarkan hidup terlihat sangat terkejut ketika melihat beberapa elf itu mati di tangan para prajurit itu.
"Ahhhhhh, kakek!. Jangan mati, kakek!!," ucap elf bocah lelaki A.
"Nenek!!! Jangan tinggalkan aku sendiri!!!," ucap elf wanita C.
"Sayang!, tolong jangan tinggalkan aku, sayang!!," ucap elf pria B.
"Ayah!, Ibu!, tolong bangun!!," ucap elf gadis kecil A.
Para elf yang masih hidup itu kini sedang menangisi kematian orang-orang terdekat mereka. Mereka hanya bisa menangisi tanpa bisa memeluk jasad dari orang-orang terdekat mereka karena tangan mereka yang sedang terikat. Sementara itu, putri elf yang sebelumnya memerintahkan para prajurit untuk membunuh beberapa elf terlihat hanya terdiam sambil berekspresi datar ketika melihat mereka yang sedang menangisi kematian orang-orang terdekat mereka.
Lalu ketika putri elf itu sedang terdiam, tiba-tiba ada seorang wanita elf yang mengajaknya bicara.
"Meskipun kamu adalah seorang putri, kamu benar-benar keterlaluan. Beraninya kamu merenggut nyawa orang-orang begitu mudahnya. Kamu bahkan dengan mudahnya ingin menjadikan kami sebagai budak hanya karena kami tidak bisa membayar pajak untuk bulan ini," ucap elf wanita itu.
Kepala desa elf yang sebelumnya hanya terdiam ketika melihat pembunuhan yang dilakukan oleh para prajurit atas perintah putri elf, kemudian langsung menoleh ke arah elf wanita yang berbicara itu.
"Berhenti, Fiel. Jangan membuat tuan putri semakin marah," ucap kepala desa elf.
Elf wanita yang berbicara kepada putri elf itu ternyata bernama Fiel. Fiel memiliki wajah yang cantik. Meski begitu, ada sebuah bekas luka goresan di pipi kanan dan juga di dahinya.
Lalu, setelah mendengar perkataan Fiel, putri elf itu lalu menanggapi perkataan Fiel.
"Jika kamu tidak mau menjadi budak, kamu harus membayar pajak untuk bulan ini. Bukankah itu sudah menjadi peraturan dan undang-undang di kerajaan ini? Jika kamu protes terhadap peraturan dan undang-undang di kerajaan ini, maka itu sama saja kamu memprotes ayahandaku karena peraturan dan undang-undang ini dibuat oleh ayahandaku," ucap putri elf dengan tatapan yang tajam.
Meski ditatap dengan tajam, Fiel terlihat tidak ketakutan sedikitpun.
"Iya, aku memprotesnya. Aku memprotes peraturan dan undang-undang yang mewajibkan rakyat kerajaan Seleria membayar pajak kepada kerajaan Seleria, apalagi pajak yang dibayarkan sangatlah tinggi. Bisa-bisanya Raja membuat peraturan dan undang-undang seperti ini? Apa beliau tidak tahu kalau setiap bulannya rakyat dari kerajaan Seleria selalu berkurang jumlahnya karena telah dijual sebagai budak gara-gara peraturan dan undang-undang yang dibuatnya? Jika peraturan dan undang-undang ini terus berlangsung, semakin lama akan semakin banyak rakyat dari kerajaan Seleria yang berkurang. Apa beliau tidak peduli sedikitpun dengan rakyat kerajaan Seleria?," tanya Fiel.
Putri elf terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan Fiel. Tidak lama kemudian, dia mulai menanggapi pertanyaan Fiel.
"Uang pajak dari kalian digunakan untuk membangun dan meningkatkan kerajaan Seleria, namun kalian masih mempertanyakan apakah ayahanda dengan rakyat kerajaan Seleria atau tidak? Benar-benar bodoh," ucap putri elf.
Fiel tiba-tiba tertawa setelah mendengar perkataan putri Elf.
"Ahahaha, membangun dan meningkatkan kerajaan Seleria? Yang benar saja, tuan putri. Mungkin maksud anda itu, uang pajak dari rakyat kerajaan Seleria digunakan untuk membangun dan meningkatkan ibukota kerajaan Seleria yang merupakan tempat tinggal kalian dan para bangsawan lainnya. Kalian itu sama sekali tidak peduli dengan wilayah lain di kerajaan Seleria," ucap Fiel.
Putri elf itu pun langsung terdiam setelah mendengar perkataan Fiel. Ketika putri elf itu sedang terdiam, Fiel lalu melanjutkan perkataannya.
"Peraturan dan undang-undang yang mewajibkan rakyat kerajaan Seleria membayar pajak setiap bulannya merupakan peraturan dan undang-undang yang bodoh. Peraturan dan undang-undang itu dibuat hanya untuk memuaskan kalian para bangsawan saja, kalian sama sekali tidak peduli dengan para rakyat biasa. Peraturan dan undang-undang bodoh itu harus dihapuskan untuk menyelamatkan rakyat kerajaan Seleria. Aku memang tidak bisa melakukannya, tetapi aku percaya suatu saat nanti ada seseorang yang bisa menghapus peraturan dan undang-undang bodoh itu," ucap Fiel.
Setelah sebelumnya hanya terdiam, putri elf itu lalu mulai berbicara kembali untuk menanggapi perkataan Fiel.
"Kamu terlalu banyak bicara. Sepertinya kamu tidak cocok untuk dijual sebagai budak,"
"Para prajurit, silahkan gunakan wanita itu sepuas kalian," ucap putri elf kepada para prajurit elf yang ada di tempat itu.
Fiel terlihat terkejut setelah mendengar perkataan putri elf, sementara para prajurit elf yang mendengar hal itu kelihatan senang.
"Apa kami boleh melakukan apa saja terhadap wanita itu, tuan putri?," tanya prajurit elf A.
"Iya, seperti yang aku katakan barusan," ucap putri elf.
"Terima kasih, tuan putri," ucap prajurit elf A dengan ekspresi yang gembira.
Setelah itu, beberapa prajurit elf mulai menghampiri Fiel yang saat ini sedang duduk dengan tangan yang terikat.
"Ayo kita tangkap dan bawa wanita elf itu dulu, lalu kita akan ’memakainya’ setelah pekerjaan di desa ini selesai," ucap prajurit elf A.
"Iya, ayo kita tangkap dia," ucap prajurit elf B.
Tidak lama kemudian, beberapa prajurit elf itu pun kini sudah berada di dekat Fiel. Fiel yang melihat beberapa prajurit itu sudah berada di dekatnya terlihat tidak ketakutan sama sekali. Meski begitu, Fiel terlihat sedang melihat ke arah beberapa prajurit itu dengan tatapan yang tajam.
"Berhenti!, jangan berani kalian macam-macam denganku," ucap Fiel.
Beberapa prajurit itu lalu tertawa setelah mendengar perkataan Fiel.
"Ahahaha, Memangnya apa yang bisa kamu lakukan dengan tangan yang terikat seperti itu?," tanya prajurit elf A.
"Kamu tidak perlu takut, kami akan merawatmu dengan baik," ucap prajurit elf B.
Setelah itu, beberapa prajurit itu lalu bersiap untuk menangkap dan membawa Fiel. Namun, ketika mereka sedang bersiap untuk membawa Fiel, beberapa anak panah tiba-tiba melesat dengan sangat cepat ke arah beberapa prajurit itu. Beberapa anak panah itu lalu mengenai kepala beberapa prajurit itu dan langsung menghancurkannya. Beberapa prajurit itu pun langsung tewas seketika dengan kondisi kepala yang hancur. Tubuh mereka lalu langsung tumbang dan tergeletak di tanah.
Para elf yang sedang duduk itu terlihat sangat terkejut ketika melihat beberapa prajurit itu tiba-tiba telah tewas dengan kepala yang hancur. Beberapa dari para elf itu bahkan berteriak ketakutan setelah melihat jasad beberapa prajurit elf itu.
"Ahhhhh,"
Sementara Fiel, meskipun dia terkejut, dia juga bingung kenapa beberapa prajurit itu bisa tewas.
"Kenapa mereka bisa tewas? Siapa yang telah menyerang dan membunuh mereka?," tanya Fiel.
Tidak hanya Fiel dan para elf yang sedang duduk itu saja, para prajurit elf yang lain juga terlihat terkejut dengan tewasnya beberapa prajurit elf itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka tiba-tiba tewas?," tanya prajurit elf C.
"Siapa yang melakukan ini? Tunjukan diri kalian," ucap prajurit elf D.
Sementara itu, putri elf terlihat tidak terkejut sama sekali setelah meliha beberapa prajurit elf yang tewas itu . Dia masih menampilkan ekspresi datar di wajahnya. Lalu, tidak lama kemudian, dia tiba-tiba menoleh ke atas, tepatnya ke salah satu rumah pohon. Dia melihat ada seorang wanita yang sedang memegang sebuah busur panah di atas atap rumah pohon itu. Wanita itu saat ini sedang mengarahkan busur panahnya itu ke arah putri elf.
"Kamu siapa?," tanya putri elf dengan menampilkan ekspresi datarnya.
Para prajurit yang mendengar putri elf sedang berbicara tiba-tiba langsung menoleh ke arah putri elf. Mereka lalu melihat putri elf sedang menoleh dan melihat ke salah satu rumah pohon. Mereka pun ikut melihat ke salah satu rumah pohon itu. Ketika mereka sudah melihat ke salah satu rumah pohon itu, mereka pun juga melihat wanita yang sedang mengarahkan busur panahnya ke arah putri elf.
"Siapa kau!?," tanya prajurit elf C.
Setelah diperhatikan lebih teliti, wanita yang sedang memegang sebuah busur panah itu ternyata adalah seorang elf. Selain itu, wajah wanita itu terlihat familiar. Wanita itu adalah Saria, seorang elf yang merupakan salah satu komandan dari Engill Forstorelse.
Saria saat ini sedang bersiap untuk menembakkan anak panah dari busurnya itu ke arah putri elf yang ada di bawah. Ketika dia sedang bersiap untuk menembakkan anak panah dari busurnya itu, di sekelilingnya tiba-tiba muncul banyak anak panah yang terlihat seperti terbuat dari sihir angin.
Lalu, ketika Saria sedang bersiap untuk menembak, Saria lalu mulai menjawab pertanyaan putri elf dan salah satu prajurit elf itu.
"Aku hanyalah seorang elf yang kebetulan sedang lewat," ucap Saria.
Setelah itu, Saria melepaskan anak panahnya itu dari busurnya. Anak panah itu lalu melesat dengan sangat cepat bersamaan dengan anak panah yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya. Anak panah itu melesat dengan sangat cepat ke arah putri elf dan para prajurit elf itu.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments