Peace Hunter
Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
"Nona Terra?! Kenapa kamu bisa ada disini?," tanya Laviena yang masih terkejut ketika melihat ke arah gadis itu.
Gadis kecil itu bernama Terra. Dia merupakan salah satu komandan Holy Knights, sama seperti Laviena. Selain itu, dia juga merupakan salah satu dari Divine Elemental Spirits yaitu Divine Earth Elemental Spirits.
"Ketika aku sedang berpatroli bersama dengan para anak buahku, para anak buahku mendapatkan informasi dari orang-orang yang bilang kalau ada makhluk-makhluk air yang sedang mengacaukan perjalanan kapal atau transportasi air lainnya di sungai ini,"
"Orang-orang itu bilang kalau kapal atau transportasi air lainnya dari Holy Kingdom atau kerajaan di sekitarnya tidak bisa pergi ke laut akibat perbuatan makhluk-makhluk air itu di sungai ini. Maka dari itu, aku langsung bergegas pergi menelusuri aliran sungai ini untuk memeriksanya,"
"Sebelumnya aku telah menghancurkan beberapa makhluk-makhluk air yang sedang mengacau di bagian sungai yang lain. Meski aku sudah menghancurkan beberapa makhluk-makhluk air itu, aku terus menelusuri aliran sungai ini karena aku yakin kalau makhluk-makhluk air itu tidak hanya ada di tempat itu saja. Selain itu, aku familiar dengan makhluk-makhluk air yang telah mengacau itu, aku tahu siapa yang memerintahkan para makhluk air itu. Oleh karena itu, aku terus menelusuri aliran sungai ini sampai akhirnya aku sampai di tempat ini," ucap Terra.
Setelah mendengar perkataan Terra, Laviena pun langsung menanggapinya.
"Jadi begitu, alasan kenapa aku tidak melihat adanya kapal atau transportasi lain yang melintas di sungai ini adalah karena ada makhluk air yang mengacau di bagian sungai yang lain," ucap Laviena.
"Iya, kapal-kapal yang ingin pergi ke laut masih tertahan di tempat mengacaunya para makhluk air itu. Meski aku sudah menghancurkan mereka semua, aku meminta kepada para nakhoda kapal itu untuk terus berada di tempat itu karena kemungkinan di aliran sungai ini masih belum aman. Dan ternyata benar, karena di bagian sungai ini sedang terjadi pertarungan yang cukup sengit,"
"Jika sebelumnya aku mengizinkan mereka untuk bergerak kembali mengikuti aliran sungai ini, entah apa yang akan terjadi kepada mereka ketika mereka sampai di tempat ini," ucap Terra.
"Begitu ya, kamu ada benarnya, nona Terra. Daripada itu, apa kamu sudah mendapatkan izin dari nona Maiden untuk datang ke tempat ini?," tanya Laviena.
Terra terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Laviena.
"Izin? Kenapa aku perlu mendapatkan izin dari nona Mira- maksudnya nona Maiden?," tanya Terra.
"Bukankah sudah jelas kalau kamu perlu mendapatkan izin dari nona Maiden? Tugasmu adalah untuk berpatroli di wilayah sekitar perbatasan Holy Kingdom karena wilayah itu sering diserang oleh Undine. Jika kamu datang kesini, itu berarti kamu meninggalkan tugasmu itu karena tempat ini berada sangat jauh dari wilayah perbatasan Holy Kingdom yang merupakan tempat patrolimu," ucap Laviena.
"Ah jika soal itu, aku tidak perlu memerlukan izin dari nona Maiden. Lagipula aku datang kesini bukan untuk bersantai, melainkan untuk menunaikan tugasku. Kebetulan Undine ada di tempat ini, jika aku mengalahkan Undine sekarang, dia tidak akan bisa lagi menyerang wilayah perbatasan Holy Kingdom. Nona Maiden pastinya akan paham dengan apa yang aku lakukan ini," ucap Terra.
Setelah mendengar perkataan Terra, Laviena lalu memegang kepalanya dengan tangan kanannya sambil menghela nafas.
"Terserah kamu saja, nona. Aku tidak peduli apabila kamu nanti dimarahi oleh nona Maiden," ucap Laviena.
Setelah Laviena mengatakan itu, batu besar yang sedang diduduki oleh Terra tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat. Laviena terlihat terkejut ketika melihat batu besar itu bergetar, sementara Terra terlihat hanya bersikap biasa saja sambil melihat ke permukaan sungai yang ada di bawah batu besar itu. Ketika batu besar itu bergetar, tiba-tiba terdengar suara Undine yang berteriak.
"TERRA!!!!," teriak Undine.
Laviena kembali terkejut setelah mendengar teriakan Undine, sementara Terra masih bersikap biasa seperti sebelumnya.
"Sepertinya ada yang sedang marah," ucap Terra.
Setelah itu, batu besar yang bergetar itu tiba-tiba mulai retak. Batu itu retak dari bawah lalu menjalar ke atas. Sebelum retakan pada batu itu menjalar sampai ke bagian batu yang Terra sedang duduki, Terra telah lebih dulu melompat ke bawah, tepatnya di bagian sungai yang berada di depan Laviena. Ketika Terra sudah mau mendarat di permukaan sungai itu, di permukaan sungai itu tiba-tiba muncul sebuah batu pijakan berukuran sedang. Batu pijakan itu lah yang menjadi tempat mendarat sekaligus berpijaknya Terra.
Setelah Terra telah berpijak di batu pijakan itu, dia lalu menoleh dan melihat kembali arah batu besar yang sebelumnya dia duduki. Seluruh bagian batu besar terlihat sudah mengalami keretakan. Tidak lama kemudian, batu besar itu pun hancur berkeping-keping. Pecahan-pecahan batu besar yang hancur itu pun lalu jatuh ke sungai yang ada di bawah. Lalu, setelah batu besar itu hancur, air yang berada di bagian sungai tempat hancurnya batu besar itu tiba-tiba membentuk sebuah wujud yang sangat besar. Wujud yang terbuat dari air itu adalah wujud manusia Undine, tetapi kali ini adalah versi besarnya. Tetapi wujud Undine versi besar itu tidak meliputi seluruh tubuhnya. Wujud Undine versi besar itu hanya meliputi bagian kepala sampai ke bagian perutnya yang menyatu dengan permukaan sungai. Meski wujud besarnya itu hanya setengah tubuh saja, tetapi itu tidak menutupi fakta kalau wujud Undine itu tetaplah besar. Bahkan bagian kepalanya itu hampir mencapai bagian atas kedua tebing yang ada di samping sungai itu.
Sementara itu, Laviena terlihat kembali terkejut ketika melihat wujud Undine yang besar itu.
"Apa-apaan wujudnya itu!? Wujudnya itu sangat besar sekali!?," pikir Laviena.
Sementara Terra masih bersikap biasa seperti sebelumnya. Lalu, setelah wujud besarnya itu sudah terbentuk, Undine pun mulai berbicara.
"Kau selalu saja menggangguku, Terra!," ucap Undine.
Terra yang mendengar perkataan Undine pun langsung menanggapi perkataannya.
"Aku bukannya mengganggumu, Undine. Hanya saja, perbuatan yang kamu lakukan selama ini selalu melibatkan Holy Kingdom. Jadi aku yang sekarang merupakan bagian dari Holy Kingdom harus turun tangan untuk menghentikanmu. Andai saja apa yang kamu lakukan itu tidak melibatkan wilayah Holy Kingdom dan orang-orangnya, mungkin aku tidak akan menghentikanmu," ucap Terra.
"Kalau begitu lebih baik kau keluar saja dari kerajaan itu agar kau tidak terus menggangguku karena kewajibanmu itu," ucap Undine.
"Aku tidak mau," ucap Terra.
"Cih. Aku sebelumnya sudah mengatakan ini ketika kita bertemu, tetapi aku akan mengatakannya lagi. Kamu masih saja mau menjadi bawahan dari para ’ras pemalas’ itu. Bukankah sudah cukup bagi kita untuk menjadi bawahan mereka selama ’Great Holy War’ yang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu? Sekarang ’Great Holy War’ sudah berakhir, disaat para Divine Elemental Spirits yang lain sudah berhenti menjadi bawahan mereka, lantas kenapa kamu masih mau menjadi bawahan mereka?," tanya Undine.
"Sebelumnya aku juga sudah bilang kalau aku memiliki alasan kenapa aku masih mau menjadi bawahan mereka," ucap Terra.
"Apa alasannya?," tanya Undine.
Terra pun terdiam setelah mendengar pertanyaan Undine. Tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Rahasia," ucap Terra.
Ekspresi Undine langsung kesal setelah mendengar perkataan Terra.
"Jawaban yang sama seperti sebelumnya. Aku tidak tahu apa alasanmu itu dan aku pun juga tidak peduli apapun alasannya. Namun yang jelas dengan kamu yang masih menjadi bawahan mereka, kamu berarti adalah pengkhianat, Terra. Bisa-bisanya kamu masih menjadi bawahan dari ras yang telah membiarkan ’Spirit Queen’ sebelumnya terbunuh dalam ’Great Holy War’," ucap Undine.
Terra pun terdiam setelah mendengar perkataan Undine, sementara Laviena terlihat sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Undine.
"Para Divine Elemental Spirits yang lain pastinya akan langsung memusuhimu begitu mereka tahu kalau kamu masih menjadi bawahan mereka," lanjut Undine.
"Aku tidak peduli," ucap Terra.
"Kau ini!!!," ucap Undine yang tampak kesal.
Setelah itu, Undine tiba-tiba membuka mulutnya. Dari mulutnya yang terbuka itu, tiba-tiba keluar semburan air yang sangat kuat. Semburan air yang sangat kuat itu lalu melesat dengan cepat ke arah Terra dan Laviena. Terra yang melihat semburan air itu sedang mengarah ke arahnya lalu mengarahkan payungnya yang sedang terbuka ke depan. Setelah itu, payung itu tiba-tiba berubah menjadi batu yang berbentuk seperti payung. Batu yang berbentuk seperti payung itu lalu berubah menjadi besar. Semburan air yang mengarah ke Terra dan Laviena pun langsung tertahan oleh payung batu yang telah berubah menjadi besar itu.
Meski semburan air itu tertahan oleh batu payung itu, Undine terus menyemburkan serangan air dari mulutnya tanpa henti. Sementara payung batu itu terlihat tidak mengalami kerusakan sedikitpun meski Undine terus menyemburkan serangan air tanpa henti.
Ketika Terra sedang memegang payung batu berukuran besar yang sedang menahan semburan air yang dilesatkan Undine, Terra lalu menoleh ke belakang ke arah Laviena.
"Laviena, segera tinggalkan tempat ini bersama dengan orang-orang yang ada disana," ucap Terra sambil menoleh juga ke arah tempat para Holy Knights dan warga sipil berada.
Setelah mendengar perkataan Terra, Laviena pun juga menoleh ke belakang ke tempat mereka berada. Tetapi tidak lama setelah itu, Laviena kembali menoleh dan melihat ke arah Terra.
"Tetapi, nona Terra-," ucap Laviena.
Sebelum Laviena menyelesaikan perkataannya, Terra lebih dulu memotong perkataannya.
"Kamu baru saja kembali dari tugas yang diberikan oleh nona Maiden kan? Sekarang lekaslah tinggalkan tempat ini dan kembali ke Holy Kingdom. Nona Maiden pasti sudah menunggumu disana. Kamu tidak perlu khawatir, aku lah yang akan mengurus Undine," ucap Terra.
Laviena pun terdiam setelah mendengar perkataan Terra. Melihat Laviena yang terdiam, Terra pun kembali berbicara.
"Laviena, apa kamu sedang berpikir kalau kamu itu lemah karena sampai harus dibantu olehku?," tanya Terra.
Laviena sedikit terkejut setelah mendengar perkataan Terra.
"T-tidak, nona. Saya tidak berpikiran seperti itu," ucap Laviena.
"Begitu ya. Aku pikir kamu sedang berpikiran seperti itu karena dari yang aku tahu, seseorang yang ditolong atau dibantu oleh orang lain kadang memiliki pikiran kalau mereka tidak berguna atau lemah sampai harus dibantu oleh orang lain," ucap Terra.
Laviena pun kembali terdiam setelah mendengar perkataan Terra.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Terra. Kamu itu tidak lah lemah. Aku yakin kamu bisa melawan Undine, hanya saja kondisi saat ini tidak menguntungkan bagimu untuk melawan Undine. Itu karena saat ini kamu sedang bersama mereka, mereka bisa menjadi sasaran serangan Undine untuk membuat kamu lengah. Jika kamu hanya seorang diri saja, aku yakin kamu bisa melawan Undine,"
"Tempat ini sekarang tidak aman bagi mereka. Kamu pastinya juga tidak bisa fokus untuk melawan Undine apabila kamu khawatir dengan mereka. Segeralah tinggalkan tempat ini dan bawa mereka semua ke tempat yang aman, Laviena. Aku yang akan mengurus Undine disini," ucap Terra.
Laviena yang sebelumnya terdiam kini langsung menanggapi perkataan Terra.
"Baiklah, nona Terra. Aku mengadalkanmu untuk mengurus Undine," ucap Laviena.
"Tenang saja, aku akan mengurusnya," ucap Terra.
"Tolong jangan berlebihan hingga membuat seluruh tempat ini hancur, nona. Jika tempat ini hancur, jalur transportasi air bagi Holy Kingdom dan kerajaan-kerajaan di dekatnya untuk menuju ke laut akan terputus," ucap Laviena.
"Aku tidak mau mendengar itu darimu," ucap Terra.
Alasan Terra mengatakan itu karena Laviena sendiri sudah membuat kerusakan yang cukup parah di tempat itu.
"Tetapi kamu tenang saja, aku sebisa mungkin akan menahan diri," lanjut Terra.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Laviena.
"Iya. Pergilah ke atas tebing, beberapa anak buahku sudah menunggu di atas. Mereka akan mengawalmu untuk kembali ke Holy Kingdom dengan aman," ucap Terra.
"Baik, nona," ucap Laviena.
Setelah itu, Laviena lalu berbalik. Kemudian, dia langsung bergegas ke tempat para Holy Knights dan warga sipil berada. Setelah sampai di tempat itu, Laviena lalu masuk ke pelindung yang dia ciptakan dan kemudian dia menghampiri para Holy Knights dan warga sipil itu. Terlihat para Holy Knights itu sudah sadar kembali. Luka-luka di tubuh mereka pun sudah pulih. Sementara untuk warga sipil, sebagian dari mereka sudah sadar kembali dan sebagian lagi belum sadar.
Para Holy Knights yang sudah sadar itu ketika melihat Laviena sedang menghampiri mereka, mereka juga ikut menghampiri Laviena. Mereka yang selama ini berada di dalam pelindung, merasa kebingungan dan terkejut dengan apa yang terjadi di luar pelindung. Mereka pun langsung menanyakan tentang hal-hal yang terjadi ketika Laviena sudah menghampiri mereka.
"Nona Laviena, orang yang bersama dengan anda tadi, bukankah itu nona Terra?,"
"Apa yang beliau lakukan disini?,"
"Apa beliau datang untuk membantu kita?,"
"Batu-batu berukuran cukup besar yang menghujani para makhluk air itu hingga mereka hancur apakah itu perbuatan beliau?," tanya para Holy Knights itu.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, nona Laviena hanya menjawab dengan satu jawaban.
"Iya, nona Terra datang untuk membantu dan menyelamatkan kita. Nona Terra akan mengurus Undine seorang diri, sementara kita akan segera pergi meninggalkan tempat ini. Kalian semua, bersiaplah," ucap Laviena yang sudah menghampiri mereka semua.
Para Holy Knights itu terlihat terkejut dengan perkataan Laviena. Tetapi meski mereka terkejut, mereka langsung mengiyakan perkataan Laviena.
"Baik, nona," ucap para Holy Knights itu.
"Untuk orang-orang yang masih belum sadarkan diri, kalian bantu mereka dengan membopong atau menggendong tubuh mereka," ucap Laviena.
"Baik, nona," ucap para Holy Knights.
Setelah itu, mereka semua pun langsung bersiap untuk pergi dari tempat itu. Tidak lama kemudian, persiapan mereka pun telah selesai. Orang-orang yang masih belum sadarkan diri pun kini telah dibopong dan digendong oleh para Holy Knights.
"Semua telah siap, nona," ucap Remia.
"Baiklah, kalau begitu kita akan langsung pergi," ucap Laviena.
Setelah itu, Laviena tiba-tiba menghentakkan kaki kanannya di permukaan sungai tempat mereka berada.
~Water Manipulation - Water Pillar~
Permukaan sungai tempat mereka berada tiba-tiba menyembur ke atas setelah Laviena menghentakkan kakinya di permukaan sungai itu. Mereka yang berpijak di permukaan sungai itu juga ikut terbawa ke atas. Bahkan gelembung pelindung yang diciptakan oleh Laviena juga ikut terbawa ke atas. Permukaan air terus menyembur ke atas hingga mencapai bagian atas tebing yang ada di samping sungai.
Sementara itu, Undine yang masih menyemburkan serangan air dari mulutnya terlihat sedikit terkejut ketika dia melihat ada sebuah semburan air yang mengarah ke atas. Dia melihat Laviena dan para Holy Knights sedang berada di atas semburan air itu.
"Jadi kalian mau pergi ya. Aku tidak akan membiarkan kalian pergi," ucap Undine.
Setelah itu, sambil terus menyemburkan air dari mulutnya ke arah Terra, Undine lalu mengarahkan kedua tangannya ke depan. Kedua tangannya itu tiba-tiba memanjang untuk mengejar dan menangkap Laviena serta para Holy Knights yang ada di atas semburan air itu. Para Holy Knights dan beberapa warga sipil yang ada di atas semburan air itu terlihat terkejut ketika melihat kedua tangan Undine sedang memanjang untuk menangkap mereka. Sementara Laviena terlihat sedang bersiap untuk melakukan sesuatu apabila kedua tangan itu hampir menangkap mereka.
Lalu, kedua tangan Undine pun kini sudah berada dekat dengan mereka dan hampir menangkap mereka. Laviena pun sudah bersiap untuk melakukan sesuatu. Tetapi sebelum Laviena melakukan sesuatu, 2 buah batu berukuran besar tiba-tiba melesat dari tempat Terra berada. 2 batu besar itu melesat dengan cepat ke arah kedua pergelangan tangan Undine. Undine tidak sempat bereaksi terhadap 2 buah batu besar itu. 2 buah batu besar itu pun lalu menghantam kedua pergelangan tangan Undine dan membuat kedua pergelangannya itu hancur. Kedua tangan Undine yang memanjang itu pun gagal untuk menangkap Laviena dan para Holy Knights. Para Holy Knights dan beberapa warga sipil terlihat lega setelah kedua tangan Undine yang mengejar mereka telah hancur.
Sementara itu, setelah kedua tangan Undine hancur, Terra yang sebelumnya berada di balik payung batu yang sedang menahan serangan semburan air dari mulut Undine tiba-tiba melompat dengan tinggi di udara. Dia melompat hingga berada di atas payung batu yang sedang menahan serangan semburan air itu.
"Kamu tidak akan bisa menyentuh atau menangkap mereka sebelum kamu mengalahkanku terlebih dahulu, Undine," ucap Terra.
"Terra!!, dasar pengganggu," ucap Undine.
Ketika mengatakan itu, Undine telah berhenti menyemburkan serangan air dari mulutnya.
Lalu, setelah Terra sudah berada di udara, Terra lalu mengangkat tangan kanannya ke atas. Dari telapak tangan kanannya yang sedang diangkat ke atas itu, tiba-tiba muncul sebuah batu. Awalnya batu yang ada di atas telapak tangannya berukuran kecil, namun dalam sekejap, batu berukuran kecil itu tiba-tiba berubah menjadi batu yang sangat besar. Bahkan ukuran batu itu lebih besar dari batu yang sebelumnya menimpa Undine dan 3 naga air ciptaannya.
~Earth Spirit Magic : Stone Meteorite~
Setelah itu, Terra melemparkan batu yang sangat besar itu ke arah Undine. Batu itu dilemparkan dengan sangat cepat oleh Terra sehingga membuat Undine tidak sempat untuk bereaksi. Batu itu pun menghantam Undine dengan telak hingga membuat seluruh tubuhnya yang sudah menjadi besar itu langsung hancur. Suara dentuman yang sangat keras pun langsung terdengar setelah batu besar itu menghantam Undine.
*BUMMMM
Orang-orang yang ada di atas permukaan air yang menyembur ke atas kebetulan juga sedang melihat ke arah Terra dan Undine. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi barusan.
"Apa-apaan batu yang besar itu!?,"
"Bagaimana bisa nona Terra menciptakan batu yang besar itu dengan mudah!?,"
"Batu yang besar itu apabila dilemparkan ke sebuah kota pasti akan langsung merusak sebagian dari kota itu," ucap para Holy Knights itu.
Sementara Laviena yang juga sedang melihat ke arah Terra pun ikut bereaksi.
"Padahal sebelumnya dia bilang kalau dia akan menahan diri, tetapi lihatlah sekarang. Dia bahkan membuat aliran di sungai itu menjadi tersumbat karena batu besar yang dia lemparkan itu lebarnya hampir sama dengan lebar sungai itu sendiri," ucap Laviena.
Sesuai perkataan Laviena, setelah batu besar itu menghantam Undine dan jatuh ke permukaan sungai, batu besar itu langsung membuat aliran air yang ada di sungai itu menjadi tersumbat. Itu karena batu besar itu mempunyai lebar yang hampir sama dengan lebar sungai itu, sementara tinggi batu itu mencapai setengah dari tinggi kedua tebing yang ada di samping sungai itu.
Namun, meskipun aliran sungai itu sempat tersumbat, aliran itu hanya tersumbat sebentar saja. Hal itu dikarenakan tidak lama setelah batu besar itu mendarat di permukaan sungai, batu besar itu tiba-tiba mulai retak dan hancur. Setelah batu besar itu hancur, di permukaan sungai tempat hancurnya batu besar itu tiba-tiba muncul segumpalan air. Segumpalan air itu lalu melesat dengan cepat ke arah Terra. Sambil melesat, segumpalan air itu tiba-tiba berubah wujud menjadi wujud Undine versi manusia. Hanya saja kali ini tangan kanan Undine tidak berbentuk tangan kanan pada umumnya, melainkan berbentuk trisula yang terbuat dari air.
Setelah wujud manusianya terbentuk, Undine terus melesat dengan sangat cepat ke arah Terra. Setelah berada dekat dengan Terra, Undine langsung menusuk tubuh Terra dengan menggunakan trisula di tangan kanannya. Pergerakan Undine mulai dari dia melesat sampai dia menusuk tubuh Terra sangatlah cepat sampai Terra tidak bisa bereaksi. Undine menusuk tubuh Terra secara horizontal tepat di dadanya. Serangan tusukan itu sangat kuat hingga membuat trisula itu menusuk dada Terra hingga menembus ke belakang.
Meski Undine sudah menusuk Terra dengan trisulanya, Undine terus melesat dengan cepat ke depan sambil membawa tubuh Terra yang sudah ditusuk oleh trisulanya itu. Ketika tubuh Terra yang telah ditusuk itu dibawa melesat oleh Undine, bagian dadanya yang telah ditusuk oleh Undine secara perlahan mulai robek. Robekan di bagian dadanya itu terus membesar hingga akhirnya bagian dadanya itu terpotong dan membuat tubuh Terra terbelah menjadi dua.
Setelah tubuh Terra telah terbelah menjadi dua, Undine pun langsung berhenti untuk melesat. Sementara tubuh Terra yang telah terbelah menjadi dua kini langsung jatuh dan tenggelam ke bawah sungai.
Setelah itu, Undine lalu merubah tangan kanannya kembali menjadi tangan kanan biasa. Kemudian, dia melihat ke bagian sungai tempat tubuh Terra tenggelam.
"Semua air yang ada di sungai ini berada dalam kendaliku. Kamu tidak akan bisa mengalahkanku selama kita berada di sungai ini, Terra," ucap Undine.
Setelah mengatakan itu, Undine lalu melihat ke atas, tepatnya ke permukaan air yang terus menyembur itu. Permukaan air yang menyembur itu terlihat sudah mencapai puncak tebing yang ada di atas. Orang-orang yang ada di permukaan air itu terlihat sudah mulai bergerak ke puncak tebing itu.
"Cih, mereka sudah sampai di atas tebing itu. Aku harus segera mengejar dan menangkap mereka," ucap Undine.
Setelah Undine mengatakan itu, dari bawah permukaan air tempat Undine berada tiba-tiba muncul 2 ekor Naga air berukuran besar. Undine lalu melompat dan berpijak di kepala salah satu Naga air itu.
"Kejar mereka," ucap Undine.
2 ekor Naga air itu lalu terbang untuk mengejar Laviena dan yang lainnya sesuai dengan perintah Undine. 2 ekor naga air itu terus terbang menuju puncak tebing tempat Laviena dan yang lainnya pergi. Tidak lama kemudian, 2 ekor naga air itu hampir sampai ke puncak tebing itu. Namun ketika mereka sudah hampir mencapai puncak tebing itu, dari kedua sisi dinding tebing yang mereka lewati untuk sampai ke puncak tebing, tiba-tiba muncul 4 ekor naga yang terbuat dari tanah. 4 ekor naga tanah itu lalu menyerang dan menggigit 2 ekor naga air buatan Undine. Undine terlihat sedikit terkejut ketika melihat 4 ekor naga tanah itu tiba-tiba muncul dan langsung menyerang 2 ekor naga air buatannya.
"Naga tanah, mereka pasti naga buatan Terra," ucap Undine.
Setelah 4 ekor naga tanah itu menyerang 2 ekor naga air buatan Undine, 2 ekor naga air Undine pun langsung hancur. Undine yang berpijak di atas kepala salah satu naga air itu pun kehilangan pijakannya setelah naga air itu hancur. Meski kehilangan pijakannya, Undine terus melesat sendiri untuk mencapai puncak tebing itu. Namun, ketika Undine sedang melesat, Terra tiba-tiba muncul di atasnya. Terra lalu memukul Undine dengan menggunakan tangan kanannya yang telah berubah menjadi tangan yang terbuat dari batu berukuran besar. Undine tidak sempat bereaksi terhadap munculnya Terra dan membuat dia terkena pukulan itu dengan telak. Undine pun langsung terjatuh dan menghantam permukaan sungai setelah terkena pukulan itu.
*BUMMMM
Suara dentuman yang cukup keras pun terdengar setelah Undine menghantam permukaan air. Tubuh Undine pun langsung hancur setelah menghantam permukaan air. Tetapi tidak lama kemudian, tubuhnya mulai pulih kembali.
Setelah tubuhnya pulih, Undine lalu melihat ke atas, tepatnya ke arah Terra. Terlihat Terra sedang berpijak di atas kepala salah satu naga tanah ciptaannya. 4 ekor naga tanah ciptaan Terra itu tubuhnya masih menyatu dengan dinding tebing itu.
"Memang semua air di sungai ini berada dalam kendalimu. Kamu pastinya sangat unggul ketika bertarung di sungai ini. Tetapi sepertinya kamu lupa kalau sungai ini dikelilingi oleh 2 tebing yang ada di sampingnya. 2 tebing ini saat ini berada dalam kendaliku, Undine," ucap Terra sambil melihat ke arah Undine yang ada di bawah.
Setelah mendengar perkataan Terra, Undine pun langsung menanggapinya.
"Jangan menghalangiku, Terra. Saat ini aku tidak ada perlu denganmu, aku harus mengejar para ras Siren itu," ucap Undine.
"Aku tidak tahu apa alasanmu mengejar mereka, tetapi aku tidak akan membiarkanmu mengejar mereka karena aku saat ini merupakan rekan mereka. Jika kamu ingin mengejar mereka, maka kalahkan aku dulu, Undine," ucap Terra.
Undine terlihat marah setelah mendengar perkataan Terra.
"Rekan? Apa pengkhianat sepertimu bisa menganggap orang lain sebagai rekan?," tanya Undine.
Setelah Undine menanyakan itu, di permukaan air yang berada di sekitar tempat Undine, tiba-tiba muncul banyak makhluk yang terbuat dari air. Makhluk-makhlur air itu sama seperti makhluk air yang sebelumnya mengepung Laviena dan para Holy Knights. Bahkan di antara para makhluk air itu, ada 4 ekor naga air berukuran besar.
"Apakah kamu akan kembali meninggalkan orang-orang yang saat ini kamu anggap sebagai rekan sama seperti kamu meninggalkan para roh di ’Geestenland’?," tanya Undine.
"Entahlah, siapa yang tahu. Daripada itu, berhenti memanggilku sebagai pengkhianat. Jika aku dianggap pengkhianat karena meninggalkan ’Geestenland’, bukankah itu berarti kamu sendiri juga pengkhianat, Undine?," tanya Terra.
Setelah Terra menanyakan itu, di sekitar dinding tebing tempat Terra berada, tiba-tiba juga muncul banyak makhluk yang terbuat dari tanah dan batu. Makhluk-makhluk itu lalu melihat ke bawah ke tempat Undine dan para makhluk air itu berada.
"Jangan samakan aku denganmu. Meskipun aku meninggalkan ’Geestenland’, aku tidak sudi bergabung dan menjadi bawahan dari ras yang telah membiarkan ’Spirit Queen’ sebelumnya terbunuh. Para Divine Elemental Spirits yang lain pun juga sama karena aku tidak mendengar kabar kalau mereka bergabung atau menjadi bawahan dari ras itu. Satu-satunya pengkhianat dari para Roh adalah kamu, Terra,"
"Sekarang mari kita selesaikan ini. Aku harus segera mengalahkanmu untuk mengejar para ras Siren itu," ucap Undine.
"Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku setelah sebelumnya kamu memilih untuk melarikan diri setelah berhadapan denganku? Aku lah yang akan mengalahkanmu, Undine," ucap Terra.
Setelah itu, Terra dan Undine pun langsung melesat untuk berhadapan satu sama lain, diikuti dengan para makhluk-makhluk buatan mereka yang juga ikut bergerak dan mulai saling berhadapan satu sama lain.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments