Peace Hunter
Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
20 menit kemudian.
Kereta kuda yang ditumpangi senior Florian dan Charles sedang berhenti di depan gerbang sebuah istana megah yang keseluruhan warna istana itu didominasi oleh warna putih. Istana itu merupakan istana kerajaan San Fulgen, White Palace. Seorang prajurit yang mengawal kereta kuda itu terlihat sedang melapor kepada para prajurit yang menjaga gerbang istana tersebut. Perlu diketahui, anggota Elevrad yang bertugas mengantarkan proposal juga ditemani oleh 2 orang prajurit kerajaan yang ikut menaiki kereta kuda. Nona Karina lah yang mengusulkan hal ini agar para anggota Elevrad yang mengantarkan proposal tersebut bisa aman sampai tujuan mereka masing-masing. Setelah prajurit itu melapor kepada prajurit yang menjaga gerbang, prajurit itu pun langsung kembali menaiki kereta kuda.
"Buka gerbangnya!," ucap prajurit itu kepada rekan-rekannya.
Gerbang istana kerajaan itu pun terbuka. Sebelum kereta kuda itu hendak melaju masuk ke dalam istana. Para prajurit itu meneriakkan sesuatu.
"Selamat datang kembali, pangeran Charles!," ucap para prajurit yang menjaga gerbang itu.
Charles pun melihat mereka dari jendela kereta kuda dan melambaikan tangan kepada mereka.
"Sepertinya para prajurit sangat senang melihat kamu kembali kesini lagi, Charles," ucap senior Florian.
"Meskipun aku kembali kesini hanya untuk menemanimu mengantarkan proposal, senior. Setelah itu, aku harus kembali ke akademi," ucap Charles.
"Jika kamu mau menginap disini dan kembali besok, aku tidak masalah akan hal itu," ucap senior Florian.
"Aku tidak akan begitu, senior. Sesuai aturan, anggota yang ditunjuk untuk mengantar dokumen harus kembali saat sore atau malam harinya. Jadi aku akan mengikuti aturan itu," ucap Charles.
"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, karena jarak White Palace dengan San Fulgen Akademiya lumayan dekat, kita jadi hanya memerlukan 20 menit saja untuk sampai kesini. Sedangkan yang lainnya, sepertinya mereka masih berada di perjalanan," ucap senior Florian. 𝙛𝓻𝒆𝒆𝒘𝙚𝓫𝙣𝙤𝒗𝙚𝓵.𝙘𝙤𝙢
"Sepertinya begitu. Aku harap tidak ada masalah apapun dalam perjalanan mereka," ucap Charles.
".....Aku harap juga begitu," ucap senior Florian.
Setelah masuk ke dalam wilayah istana kerajaan, kereta kuda yang ditumpangi senior Florian dan Charles pun berhenti di tempat parkir yang diperuntukkan untuk tamu kerajaan yang mau berkunjung. Setelah itu, senior Florian dan Charles pun keluar dari kereta kuda itu dan mereka pun berjalan untuk memasuki istana kerajaan. Ketika mereka sampai di depan pintu istana kerajaan, terlihat Caroline sedang menunggu mereka disana.
"Selamat datang di White Palace," ucap Caroline.
-
1 jam kemudian.
Kereta kuda yang ditumpangi Irene dan senior Nadine terus melaju menuju kota San Lucia. Tiba-tiba, salju mulai turun di sepanjang jalan yang dilalui mereka. Suhu dan udara pun perlahan menjadi dingin.
"Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai di kota San Lucia. Tuan sopir dan para prajurit sekalian, tolong kenakan mantel kalian karena semakin kita memasuki wilayah San Lucia, suhu akan semakin dingin," ucap senior Nadine.
"Baiklah, nona Nadine. Tapi apa nona Nadine dan nona Irene tidak apa-apa hanya mengenakan pakaian akademi seperti itu ?," tanya salah satu prajurit itu.
"Kami berdua berasal dari kota San Lucia. Jadi suhu dingin seperti ini sudah biasa bagi kita. Setidaknya suhu di wilayah San Lucia tidak sedingin suhu di pegunungan Orokho," ucap senior Nadine.
"Tidak sedingin di pegunungan Orokho ya, padahal bagi kami berdua suhu disini saja sudah cukup dingin," ucap prajurit itu.
Sementara itu, Irene sejak tadi hanya melihat ke arah luar jendela. Dia terlihat tidak tertarik untuk mengobrol dengan para prajurit itu ataupun dengan senior Nadine. Senior Nadine yang heran karena Irene hanya melihat ke luar jendela pun langsung bertanya ke Irene.
"Ada apa, Irene ? Kelihatannya kamu sedang memikirkan sesuatu karena sejak tadi kamu hanya melihat ke luar jendela saja," ucap senior Nadine.
"Tidak ada apa-apa, Nadine. Cuma entah kenapa aku merasa gelisah tapi aku tidak tahu penyebabnya apa," ucap Irene.
"Mungkin karena kamu sudah lama tidak kembali ke Snow Palace makanya kamu jadi gelisah," ucap senior Nadine.
"Mungkin iya," ucap Irene.
"Kamu tidak perlu gelisah seperti itu. Lagipula sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan nona Arlet lagi," ucap Nadine.
"Iya, kamu benar," ucap Irene.
Kereta kuda itu pun terus melaju menuju kota San Lucia.
-
Sementara itu, disaat yang sama.
Kereta kuda yang ditumpangi oleh Rid dan Enzo mulai memasuki hutan Hevea untuk menuju kota San Angela.
"Hutan Hevea ya. Sesuai namanya, seluruh pohon yang berada di hutan ini merupakan pohon karet," pikirku.
"Hutan ini cukup luas. Butuh sekitar 15 sampai 20 menit untuk bisa melewati hutan ini," ucap salah satu prajurit yang menjelaskan.
"Begitu ya. Terima kasih atas infonya, tuan. Ini pertama kalinya aku datang ke kota San Angela jadi ini juga pertama kalinya aku melewati hutan ini," ucapku.
"Tidak masalah, tuan Rid," ucap prajurit itu.
"Tuan Rid ? Tuan tidak perlu memanggilku seperti itu, lagipula aku hanyalah murid biasa dan bukanlah seorang keturunan bangsawan. Jika tuan memanggil Enzo seperti itu, itu wajar karena Enzo merupakan keturunan bangsawan dan dia juga merupakan putra seorang Duke, sedangkan aku bukan," ucapku.
"Setelah surat kabar yang beredar sebelumnya memberitahu kalau anda merupakan ’pahlawan’ dari insiden penyerangan akademi, reputasi Anda menjadi meningkat hingga hampir setara dengan reputasi para bangsawan tingkat atas, atau bahkan melebih mereka. Di kerajaan ini, sudah sepantasnya untuk menggunakan panggilan hormat kepada para bangsawan atau orang yang memiliki reputasi yang tinggi. Oleh karena itu, saya juga menggunakan panggilan hormat kepada anda, tuan Rid," ucap prajurit itu.
"Begitu ya. Ya sudah senyaman anda saja, tuan. Aku tidak akan mempermasalahkannya," ucapku.
Lalu kereta kuda itu pun terus melaju untuk melewati hutan itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba kereta kuda kami mengalami guncangan yang cukup hebat. Lalu kereta kuda kami pun berhenti mendadak di tengah jalan yang berada di hutan itu.
"Apa yang terjadi ?," tanya prajurit itu.
Mereka terlihat tengah bersiaga dengan bersiap memegang senjata mereka.
"Sepertinya roda kereta kuda ini mengalami kerusakan. Saya akan turun terlebih dahulu untuk memeriksanya lalu setelah itu saya akan langsung memperbaikinya," ucap sopir kereta kuda itu.
Sopir itu pun turun dari kereta kuda itu.
"Kalau begitu kita berdua juga ikut turun untuk mengawasi sekitar. Tuan Enzo dan tuan Rid dimohon untuk tetap berada disini, jikalau anda juga ingin keluar, mohon untuk tidak jauh-jauh dari kereta kuda," ucap prajurit itu.
"Baik," ucapku dan Enzo.
Lalu prajurit itu dan satu rekannya pun ikut turun dari kereta kuda.
-
10 menit kemudian.
Roda pada kereta kuda yang kami tumpangi masih belum selesai diperbaiki.
"Aku bosan berada di dalam, aku akan keluar untuk menikmati udara hutan. Bagaimana denganmu, Rid ?," tanya Enzo.
"Aku akan disini saja," ucapku.
"Kalau begitu, aku keluar dulu," ucap Enzo.
"Baiklah," ucapku.
Enzo pun keluar dari kereta kuda itu dan dia pun mulai berjalan-jalan di sekitar tempat itu.
"Jangan jauh-jauh dari kereta kuda, tuan Enzo. Aku dengar di hutan ini terkadang ada serangan bandit ataupun hewan liar bahkan rumornya ada monster juga di hutan ini," ucap prajurit itu.
"Tenang saja, aku tidak akan jauh-jauh. Tetapi kalau memang ada serangan seperti itu, aku yakin kalau aku bisa mengatasinya," ucap Enzo.
Lalu Enzo pun menyadari kalau ada beberapa orang yang mengintip dari balik pohon di sekitar tempat mereka berada.
"Sepertinya mereka sudah bersiap ya, kalau begitu....." pikir Enzo.
"Lakukan sekarang," ucap Enzo.
Apa yang dikatakan Enzo membuat kedua prajurit itu terkejut. Mereka terkejut karena tiba-tiba Enzo berkata seperti itu disaat tengah tidak ada siapapun di sekitarnya, dia juga berkata seperti itu saat tidak melihat ke arah kedua prajurit itu. Lalu tiba-tiba sekelompok orang mulai bermunculan di sekitar tempat itu. Sekelompok orang itu langsung menyerang kereta kuda yang ditumpangi Rid dengan sihir mereka. Dari banyaknya sihir yang dilancarkan ke kereta kuda itu, ada satu sihir api yang sangat besar yang mengarah ke kereta kuda itu.
~Flame Magic : Flame Emperor~
Sebuah bola api yang sangat besar mengarah ke kereta kuda itu disertai sihir-sihir yang lainnya. Kereta kuda itu pun terkena semua serangan sihir itu dengan telak. Serangan itu langsung meledakkan dan menghancurkan seluruh kereta kuda itu. Sementara itu, kedua prajurit yang berada di sekitar kereta kuda itu pun terhempas setelah kereta kuda itu meledak. Sementara, sopir kereta kuda yang sebelumnya sedang memperbaiki roda, langsung menjauh dari kereta kuda setelah orang-orang itu muncul untuk menghancurkan kereta kuda.
"Fyuh hampir saja, aku pikir aku akan terkena ledakan sihir itu juga. Untungnya aku sempat untuk menghindar," ucap sopir kereta kuda itu.
Sopir kereta kuda itu pun lalu menghampiri Enzo.
"Kerja bagus karena telah mengantar kami ke tempat ini," ucap Enzo.
"Tidak perlu berterima kasih, tuan Enzo. Ini sudah menjadi tugas saya," ucap sopir itu yang ternyata merupakan prajurit Duke San Angela yang menyamar.
Lalu kedua prajurit kerajaan yang sebelumnya terhempas pun mulai bangkit kembali. Mereka terkejut melihat kereta kuda yang sudah hancur terbakar. Tetapi mereka lebih terkejut lagi karena mereka berdua saat ini dikelilingi oleh banyak orang yang tiba-tiba muncul.
"Tuan Rid!!," teriak salah satu prajurit itu.
"Siapa kalian ? Apa tujuan kalian menyerang kami ?," tanya prajurit yang satunya.
"Tidak perlu berisik, para prajurit sekalian. Tujuan kami yang sebenarnya bukanlah kalian, melainkan Rid. Kami harus membunuhnya," ucap Enzo.
Kedua prajurit itu pun terkejut ketika Enzo berkata seperti itu.
"Tuan Enzo, apa anda yang merencanakan ini ?," tanya prajurit itu.
"Bukan aku yang merencanakannya tetapi jika kamu bertanya kalau aku terlibat dengan ini maka aku akan menjawab ’iya’," ucap Enzo.
"Kenapa anda tega melakukan ini ? Bukankah anda dengan tuan Rid-," ucap prajurit itu.
Namun sebelum prajurit itu sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya.
~Flame Magic : Burning Touch~
Orang itu langsung menyentuh prajurit itu dan tiba-tiba prajurit itu langsung terbakar. Prajurit itu pun berteriak kesakitan. Sementara prajurit yang satu lagi berniat untuk menolongnya, tetapi tiba-tiba dia diserang menggunakan sebuah tebasan yang terbuat dari sihir angin. Tebasan itu pun langsung memotong kepalanya dan prajurit itu pun langsung tumbang dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya. Di belakang prajurit yang tumbang dengan kepala terpotong itu, ada seorang gadis muda yang sedang mengangkat tangan kanannya. Gadis itulah yang membunuh prajurit itu dengan memotong kepalanya. Sementara itu, prajurit yang terbakar itu masih terus berteriak kesakitan namun lama-kelamaan teriakannya semakin pelan sampai akhirnya dia pun tewas dengan tubuh yang masih terus terbakar.
"Akhirnya dia mati juga. Aku sudah muak mendengarnya mengatakan ’tuan Rid’, ’tuan Rid’, ’tuan Rid’ terus-menerus. Rakyat jelata seperti dia tidak cocok dipanggil tuan," ucap orang yang membakar prajurit itu.
"Javier, aku tidak menyangka kalau kamu ikut juga dalam rencana ini," ucap Enzo.
Ternyata orang yang membakar prajurit itu adalah Javier.
"Tuan Duke yang menyuruhku untuk bergabung dalam rencana ini. Aku minta maaf karena telah merebut tugasmu untuk membunuh rakyat jelata itu, tuan muda Enzo. Karena kelihatannya dia sudah mati akibat sihir yang aku lancarkan tadi. Padahal kamu sendiri yang ditunjuk sebagai eksekutor untuk membunuh rakyat jelata itu," ucap Javier.
"Aku tidak keberatan akan hal itu. Meskipun aku ditunjuk sebagai eksekutor, tapi aku sendiri tidak suka mengotori tanganku sendiri. Daripada itu, jika dia mati semudah ini, membawa banyak orang seperti ini jadi terlihat sia-sia," ucap Enzo.
Saat Enzo dan Javier sedang mengobrol, tiba-tiba api besar yang berkobar di tempat kereta kuda yang hancur itu terbelah dan langsung menghilang dalam sekejap. Mereka semua yang berada di sekitar tempat itu langsung menoleh ke arah kereta kuda yang hancur itu. Saat api itu sudah menghilang, terlihat Rid yang sedang memegang pedang miliknya. Tidak ada satupun luka yang ada pada tubuhnya meskipun dia diserang oleh banyak sihir secara mendadak. Mereka pun terkejut melihat Rid yang masih baik-baik saja.
"Rakyat jelata itu masih hidup meskipun terkena serangan itu," ucap Javier.
"Seperti yang diduga, membunuhnya itu tidaklah mudah," ucap Enzo.
Aku yang baru saja selesai menghilangkan api yang mengelilingiku pun langsung berjalan perlahan ke depan. Aku melihat kedua prajurit yang menemaniku sudah tewas secara mengenaskan. Lalu aku pun menatap ke arah Enzo.
"Enzo," ucapku.
"Kelihatannya kamu tidak terkejut saat melihatku seperti ini ya, Rid," ucap Enzo.
"Itu karena aku sejak awal tidak pernah mempercayaimu. Jadi aku tidak terkejut apabila kamu melakukan ini," ucapku.
"Oh begitu. Bunuh dia," ucap Enzo.
Setelah Enzo memberi perintah seperti itu, 5 orang dewasa yang berpakaian seperti bandit pun mulai menyerangku dengan senjata mereka. Aku pun juga bersiap untuk menyerang mereka dengan menggunakan pedangku.
"Hahaha, apa yang bisa kamu lakukan dengan pedang tumpul dari akademi itu, bocah," ucap salah satu dari orang yang menyerangku itu.
Lalu yang lainnya pun tertawa, tapi aku tidak memperdulikan tawa mereka.
~Enhance Weapon : Sharp~
5 orang yang menyerangku pun sudah hampir mendekatiku.
~Flower Sword Art : Sword Dance In The Flower Garden~
Kemudian, aku langsung menebas kelima orang tersebut dengan tebasan beruntun yang sangat cepat. Mereka berlima pun terkena tebasan yang aku lancarkan dengan telak. Mereka pun langsung tumbang dengan banyak darah yang keluar dari tubuh mereka akibat banyaknya tebasan yang mengenai mereka. Aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati, lagipula aku juga tidak memperdulikannya.
"Menggunakan teknik ini saat sedang tidak berada di taman bunga rasanya sangat aneh," ucapku.
Sementara itu, Enzo dan yang lainnya pun terkejut.
"5 orang prajurit terbaik dikalahkan begitu saja ?," tanya Enzo.
Lalu tiba-tiba seorang gadis melesat ke arahku dengan cepat dan langsung melayangkan sebuah tebasan angin yang sangat besar. Tebasan angin itu tercipta hanya dengan sebuah ayunan tangannya saja tanpa memakai senjata sama sekali. Aku pun langsung memotong tebasan angin itu menjadi 2. Tebasan angin yang terbelah itu pun hanya melewatiku tanpa mengenaiku sama sekali. Tetapi tebasan itu terus melesat ke belakangku sambil memotong pohon-pohon yang dikenainya.
Setelah itu gadis itu langsung mendekatiku dan menyerangku dengan gerakan seperti sedang memotong menggunakan tangannya. Aku dengan cepat menghindarinya dengan bergerak ke samping dan tiba-tiba sebuah pohon yang berada tepat di belakangku sebelumnya terbelah menjadi 2 secara vertikal. Setelah menghindari serangan itu, aku pun langsung menyerang gadis itu.
~Flower Sword Art : Chaenomeles Thorn Thrust~
Aku menusuk gadis itu tepat di perutnya. Gadis itu pun langsung terpental sangat jauh ke belakang hingga menabrak beberapa pohon sampai hancur. Setelah menyerang gadis itu, aku pun memperhatikan pedangku. Di ujung pedangku, hanya ada sedikit darah setelah menusuk gadis itu.
"Ada yang aneh. Padahal pedangku sudah aku pertajam tetapi kenapa aku tidak bisa menusuk gadis itu dengan dalam ?," pikirku.
Saat aku sedang memikirkan itu, tiba-tiba Javier muncul di belakangku dan bersiap menyerangku dengan pedangnya.
"Matilah kau, Rid Archie!!!," ucap Javier.
~Flame Magic : Great Burning Slash~
Javier mengarahkan pedang apinya itu ke arahku. Tetapi aku langsung berbalik dan bersiap untuk menahan serangan itu.
~Advanced Glacier Strike~
Kedua serangan kami pun saling beradu tetapi adu serangan itu tidak berlangsung lama karena pedang Javier tiba-tiba terangkat ke atas setelah aku berhasil memenangkan adu serangan ini. Melihat ada celah di pertahanan Javier, aku pun bersiap menyerangnya dengan menggunakan pukulan yang diperkuat Mana.
~Mana Strike~
Aku berniat memukul Javier tepat di dadanya tetapi sebelum pukulanku mengenainya, tiba-tiba seseorang yang mengenakan tudung kepala muncul di depanku dan menggantikan Javier untuk menerima pukulanku ini. Orang itupun terkena pukulanku dengan telak tepat di dadanya dan langsung membuatnya terhempas bersamaan dengan Javier yang berada di belakangnya. Mereka berdua terhempas sangat jauh ke belakang hingga menabrak beberapa pohon sampai hancur.
Setelah itu, tidak ada serangan lagi yang dilancarkan kepadaku. Lalu aku pun melihat ke arah Enzo yang terlihat sedang terkejut.
"Apa cuma segini saja kekuatan yang kamu bawa, Enzo ? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu ingin membunuhku ?," tanyaku.
Enzo awalnya sempat terkejut namun kali ini raut wajahnya kembali normal.
"Aku terkesan kamu masih bisa sombong, Rid, tapi sadarilah posisimu sekarang. Saat ini kamu sedang terkepung oleh banyak orang. Meskipun kamu sudah mengalahkan 5 di antara kami, masih banyak orang yang sudah bersiap untuk membunuhmu," ucap Enzo.
Gadis yang aku tusuk dan terpental karena seranganku sebelumnya sudah kembali mendekatiku lagi. Di perutnya terdapat luka akibat serangan yang aku lancarkan kepadanya tetapi luka itu tidaklah dalam.
"Sialan kau, Rid Archie," ucap Javier.
Javier pun juga sudah kembali mendekatiku bersamaan dengan orang yang mengenakan tudung kepala tadi. Tapi kali ini tudung kepalanya sudah terbuka. Orang itu ternyata seorang pria muda yang sepertinya memiliki umur yang tidak jauh berbeda denganku. Di mulutnya terdapat sedikit bekas darah yang sepertinya dia baru saja memuntahkan sejumlah darah dari mulutnya akibat terkena seranganku. Tetapi aku sedikit terkejut saat melihatnya masih bisa bertahan dan bangkit kembali setelah menerima serangan itu. Padahal serangan itu mengenainya dengan telak tepat di dadanya, seharusnya dia sudah tumbang karena hal itu. Ini membuatku sedikit bingung, ada yang aneh dari pria muda dan gadis muda yang aku lawan tadi. Kemudian aku melihat ke sekitar, masih ada banyak orang yang mengepungku saat ini.
"Memang benar. Meskipun aku sudah mengalahkan 5 orang yang berpakaian seperti bandit, tetapi di sekelilingku saat ini masih ada 25 orang yang berpakaian seperti bandit, tapi aku tahu kalau mereka bukanlah bandit melainkan prajurit yang menyamar. Lalu seorang sopir yang mengantar kami yang merupakan prajurit yang menyamar juga. Selain itu, ada Enzo, Javier, pria muda dan gadis muda yang aku lawan sebelumnya. Ditambah masih ada 6 orang lagi yang mengenakan tudung kepala sama seperti pria muda yang aku lawan sebelumnya. Itu berarti total mereka ada 36 orang. Sepertinya cukup sulit untuk mengatasi mereka semua," pikirku.
Kemudian, Enzo secara tiba-tiba merapal sebuah mantra.
~Listrik yang menyengat, kurunglah kami dalam sangkar listrikmu~
~Electric Magic : Great Electric Cage~
Enzo membuat sebuah sangkar yang terbuat dari sihir listrik miliknya. Sangkar itu membuat kami semua terkurung di dalamnya.
"Dengan begini, kamu tidak akan bisa kabur, Rid. Karena siapapun yang berusaha kabur dari kurungan ini akan tersengat listrik yang sangat dahsyat," ucap Enzo.
Aku lalu memperhatikan keseluruhan sangkar ini. Sangkar ini berukuran sangat besar, mungkin hampir sepertiga dari luas hutan ini
"Bukankah sangkar sebesar ini akan membuat hutan ini menjadi mencolok ? Apakah kamu tidak mengira kalau ada kemungkinan orang lain akan mengetahui ada sesuatu yang aneh di hutan ini karena melihat adanya sangkar yang besar ini ?," tanyaku.
"Orang yang menyuruhku sudah memikirkan adanya kemungkinan itu, jadi dia juga mengutus beberapa orang untuk mengawasi area di luar hutan. Jika ada orang lain yang penasaran karena melihat adanya sangkar yang besar ini, orang-orang itu akan menjelaskan kalau di hutan ini sedang ada pembasmian hewan liar dan monster yang muncul di tempat ini. Dengan penjelasan seperti itu, tidak akan ada orang lain yang datang ke hutan ini. Jadi tidak ada satupun yang akan membantumu, Rid. Kamu juga tidak akan bisa kabur kemana-mana. Inilah akhir bagimu, Rid!," ucap Enzo.
Lalu aku pun tersenyum setelah mendengar perkataan Enzo.
"Kabur ? Tenang saja, aku tidak akan kabur kemana-mana," ucapku.
~San Fulgen Art Water Technique : Rain Swords~
~San Lucia Art : Snow Blade Dance Technique~
Aku mengaktifkan dan menggunakan kedua teknik itu secara bersamaan. Kemudian beberapa pedang es dan pedang air pun bermunculan mengelilingiku.
"Justru akulah yang tidak akan membiarkan kalian untuk kabur. Jika aku membiarkan kalian kabur saat ini, di masa depan nanti kalian pasti akan balas dendam terhadapku dan itu akan sangat menyusahkanku. Jadi aku akan menghabisi kalian semua disini," ucapku.
-Bersambung
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments