Peace Hunter
Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
"Aku sendiri lah yang akan memberikan hukuman kepada kalian," ucap High Priest Julian.
Setelah mengatakan itu, High Priest Julian melihat ke arah Irene yang ada tepat di bawah golem raksasa buatannya.
"Pertama-tama aku mulai darimu, putri Irene," ucap High Priest Julian.
Setelah itu, golem raksasa buatan High Priest Julian tiba-tiba mengangkat kaki kanannya. Setelah mengangkat kaki kanannya, kaki kanannya itu kemudian diturunkan kembali namun kaki kanannya itu diturunkan tepat di tempat dimana Irene berada. High Priest Julian berniat untuk menginjak Irene dengan menggunakan golem raksasa buatannya. Tetapi sebelum kaki kanannya itu jatuh mengenai jalan tempat Irene berada, Irene dengan cepat langsung menghindar dengan bergerak ke belakang.
*BUMMMMMM
Tepat setelah Irene pergi dari tempatnya sebelumnya, kaki kanan golem raksasa itu langsung menginjak permukaan jalan itu dengan sangat keras. Dampak dari injakan kaki kanan golem raksasa itu cukup dahsyat karena membuat jalan di sekitar tempat terinjaknya kaki golem raksasa itu retak dan mengalami kerusakan yang cukup parah. Debu asap pun juga bermunculan di sekitar tempat itu setelah Golem raksasa itu menginjakkan kaki kanannya ke jalan itu. Selain itu, efek dari injakan kaki golem raksasa itu juga menimbulkan getaran yang cukup dahsyat. Para prajurit Duke San Lucia terlihat sangat terkejut melihat dampak injakan kaki golem raksasa itu.
"Menghadapi golem yang berukuran biasa saja sudah membuat kita kesulitan. Sekarang kita juga harus menghadapi golem raksasa itu ? Lihat ukurannya itu, apa mungkin bagi kita untuk menghadapi golem itu ?,"
"Tidak hanya ukurannya, serangan yang dilancarkan golem itu pun juga sangat berbahaya. Hanya dengan satu injakannya sudah cukup untuk jalanan sekitar tempat yang dia injak menjadi hancur. Selain itu getaran yang muncul akibat efek injakannya juga dapat membuat bangunan yang ada di sekitar lama-kelamaan akan menjadi rusak,"
"Injakan dari golem itu tidak hanya menimbulkan getaran, melainkan juga debu asap. Lihat debu asap yang berada di sekeliling kita ini. Debu asap ini membuat penglihatan kita menjadi terganggu. Kita harus hati-hati dengan golem berukuran biasa dan juga orang-orang dari gereja Sancta Lux yang mungkin akan menyerang kita disaat penglihatan kita sedang terganggu,"
"Daripada itu, bagaimana dengan putri Irene? Apa beliau baik-baik saja?,"
"Entahlah, dengan debu asap ini, sulit bagi kita untuk melihat dan mencari putri Irene. Tetapi sepertinya beliau baik-baik saja karena sebelumnya aku melihat beliau sempat menghindar sebelum diinjak oleh golem raksasa itu,"
"Meski begitu, belum tentu putri Irene akan aman. Dengan adanya debu asap yang mengganggu penglihatan ini, beliau bisa saja tiba-tiba diserang lagi,"
"Jadi bagaimana? Apa kita harus mencari putri Irene dan memastikannya aman ?,"
"Iya, meski saat ini di sekitar tempat ini sedang ada debu asap yang mengganggu penglihatan kita, kita harus tetap mencari putri Irene dan memastikannya aman," ucap para prajurit Duke San Lucia.
Sementara itu, Nadine yang berada di belakang para prajurit Duke San Lucia terlihat sedang mengamati para prajurit itu. Nadine melihat beberapa prajurit itu sedang bergerak ke depan dengan terburu-buru.
"Beberapa dari mereka tiba-tiba bergerak ke depan dengan terburu-buru? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu di depan mereka? Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena adanya debu asap ini," pikir Nadine.
Debu asap itu juga sedikit mengganggu penglihatan Nadine karena dia hanya bisa melihat beberapa prajurit Duke San Lucia yang ada di depannya sementara sisanya tidak terlihat. Karena Nadine berada cukup jauh dari golem raksasa yang dibuat oleh High Priest Julian, debu asap yang ada di sekitar tempat Nadine pun tidak terlalu tebal dan pekat. Debu asap yang tebal dan pekat hanya muncul di sekitar atau di dekat tempat golem raksasa itu berada. Beberapa prajurit yang dilihatnya itu sedang bergerak ke depan ke tempat yang debu asapnya pekat.
Setelah memikirkan alasan kenapa mereka bergerak ke depan sambil terus memperhatikan mereka, Nadine sepertinya mulai tahu apa alasannya.
"Jangan bilang alasannya karena Irene," pikir Nadine.
Setelah memikirkan itu, Nadine tiba-tiba langsung berteriak.
"Kalian semua, segera kembali!!!," teriak Nadine.
Para prajurit yang berada di dekat Nadine pun terkejut setelah mendengar Nadine yang berteriak. Mereka tidak menyangka kalau Nadine akan berteriak karena menurut mereka Nadine adalah tipe orang yang tidak suka berteriak. Tidak hanya para prajurit di dekat Nadine saja yang terkejut, para prajurit yang sedang bergerak ke depan pun juga ikut terkejut. Mereka pun langsung menghentikan langkah mereka setelah mendengar teriakan Nadine.
"Nona Nadine?," ucap para prajurit yang terkejut itu.
"Untuk apa kalian bergerak ke depan? Cepat kalian kembali!," teriak Nadine lagi.
Setelah mendengar teriakan Nadine lagi, salah satu dari prajurit yang bergerak ke depan pun langsung mengatakan sesuatu untuk menanggapi teriakan Nadine.
"Kami semua ingin mencari putri Irene yang sedang berada di dekat golem raksasa itu, nona Nadine. Kami khawatir kepadanya sedangkan kami tidak tahu kondisinya akibat debu asap yang tiba-tiba muncul ini," ucap salah satu prajurit itu.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Irene. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Daripada memikirkan soal Irene, lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Debu asap yang tiba-tiba muncul akibat serangan Golem raksasa itu membuat penglihatan kita terganggu. Lebih baik kalian waspada karena masih ada golem-golem yang lain dan juga para Priest gereja Sancta Lux yang mungkin akan menyerang kita secara tiba-tiba," ucap Nadine.
Setelah Nadine mengatakan itu, benar saja, beberapa golem berukuran biasa tiba-tiba mendekati para prajurit yang hendak pergi menghampiri Irene. Para prajurit itu pun terkejut ketika melihat golem-golem itu sudah mendekati mereka karena mereka tidak menyadari akan kehadiran golem-golem itu akibat debu asap yang mengganggu penglihatan mereka. Nadine pun juga terkejut melihat golem-golem itu sudah mendekati para prajurit itu. Golem-golem itu pun lalu bersiap untuk menyerang para prajurit itu.
"Kalian semua, menghindar!!," teriak Nadine.
Para prajurit itu pun berusaha untuk menghindari serangan golem-golem itu, tetapi mereka sedikit telat bereaksi karena pada awalnya mereka tidak menyadari kalau golem-golem itu sudah mendekati mereka. Meskipun mereka berusaha menghindar, mereka tetap akan terkena serangan golem-golem itu. Serangan dari golem-golem itu pun sudah mendekat untuk mengenai mereka. Tetapi.....
~Electric Magic : Electric Strike~
Sebelum para prajurit itu terkena serangan golem-golem itu, sebuah sihir listrik tiba-tiba menyambar beberapa golem yang ingin menyerang para prajurit itu. Golem-golem itu pun langsung tumbang setelah terkena sihir listrik itu.
Para prajurit itu pun terkejut setelah melihat golem-golem itu tumbang setelah terkena sihir listrik itu. Sementara itu, di sisi kiri para prajurit itu, terlihat ada sebuah bayangan yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Seperti yang dikatakan oleh nona Nadine, kalian tidak perlu mengkhawatirkan nona Irene. Lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Bukan begitu, Lily?," tanya sosok bayangan yang mendekati ke arah para prajurit itu.
Para prajurit itu pun lalu menengok ke arah sosok bayangan yang mendekati mereka. Tidak lama kemudian, seiring sosok bayangan semakin mendekati para prajurit itu, sosok bayangan itu pun secara perlahan mulai terlihat jelas. Sosok bayangan itu adalah Leandra.
"Leandra?!," ucap para prajurit itu.
Ketika para prajurit itu sedang fokus untuk melihat ke arah Leandra, beberapa golem tiba-tiba mendekat lagi ke arah mereka. Para prajurit itu pun kembali terkejut dengan datangnya golem-golem itu. Mereka tidak sempat bereaksi akan datangnya golem-golem itu, sementara golem-golem yang tiba-tiba datang itu pun langsung bersiap untuk menyerang mereka. Namun.....
~Electric Magic : Electric Fox Claw Dance~
Lily tiba-tiba datang dan langsung menyerang semua Golem yang hendak menyerang para prajurit itu dengan menggunakan cakar tangannya yang sudah dialiri oleh sihir listrik. Golem-golem itu pun langsung tumbang setelah diserang oleh Lily Para prajurit itu pun kembali terkejut dengan datangnya Lily.
"Lily?!," ucap para prajurit itu.
Setelah mengalahkan golem-golem itu, Lily pun langsung menoleh ke arah para prajurit itu dan kemudian menghampiri mereka.
"Benar kata Leandra, lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Yah aku dan Leandra pastinya juga khawatir dengan nona Irene tetapi kami pikir di situasi seperti ini nona Irene bisa menjaga dirinya sendiri. Dia itu bukanlah wanita lemah yang harus terus dilindungi. Justru lebih baik kita fokus mengkhawatirkan diri kita sendiri. Jika kita terluka atau kemungkinan terburuknya tewas karena lengah akan situasi ini, kita mungkin akan membuat nona Irene merasa bersalah," ucap Lily.
Para prajurit itu pun terdiam setelah mendengar perkataan Lily. Namun tidak lama kemudian, para prajurit itu pun mulai berbicara kembali.
"Kalian berdua benar, kami mungkin mengkhawatirkan putri Irene tetapi kekhawatiran kami justru bisa membuat kami celaka. Jika kami celaka, malah putri Irene yang akan khawatir,"
"Iya, lebih baik sekarang ini kita tetap tenang dan fokus karena serangan yang dilakukan oleh para Priest dan juga High Priest itu masih belum berakhir. Para Priest dan golem-golem buatan Priest itu bisa kapan saja menyerang kita di dalam debu asap yang masih bermunculan ini," ucap para prajurit itu.
"Baguslah kalau kalian semua sudah mengerti," ucap Leandra.
Ketika Leandra, Lily dan para prajurit itu sedang berbicara, Nadine yang sebelumnya berada di belakang tiba-tiba berlari untuk menghampiri mereka.
"Leandra, Lily, kalian berdua baik-baik saja? Saat debu asap di tempat ini pertama kali muncul, aku sama sekali tidak bisa melihat kalian berdua karena kalian berada cukup jauh di depan. Apa ada sesuatu yang terjadi ketika debu asap ini pertama kali muncul?," tanya Nadine.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi, nona Nadine. Ketika debu asap ini pertama kali muncul, aku dan Lily diserang secara tiba-tiba oleh beberapa Priest dan beberapa golem tetapi kami berdua bisa mengatasinya. Yah meskipun kami berdua juga mengalami luka karena kami terkena serangan mereka. Tetapi nona Nadine tidak perlu khawatir karena luka pada tubuh kami hanyalah luka-luka kecil," ucap Leandra.
Sesuai perkataan Leandra, saat ini di tubuh Leandra dan Lily terdapat beberapa luka seperti luka goresan yang tidak terlalu parah.
"Yah itu benar. Sesuai perkataan Leandra, nona Nadine tidak perlu khawatir," ucap Lily.
"Begitu ya. Ya sudah jika luka pada kalian berdua tidak terlalu parah. Tetapi setelah penyerangan ini selesai, kalian harus langsung menyembuhkan luka-luka itu," ucap Nadine.
"Baik, nona Nadine," ucap Leandra dan Lily.
"Untuk sekarang lebih baik kita fokus dan siaga. Para Priest dan golem-golem itu mungkin akan menyerang kita lagi," ucap Nadine.
Setelah Nadine mengatakan itu, telinga Lily tiba-tiba bergerak-gerak seperti mendengar sesuatu.
"Nona Nadine, sepertinya mereka sudah bergerak untuk menyerang kita lagi. Jarak mereka sudah hampir dekat dengan kita," ucap Lily.
"Kalau begitu kalian semua, bersiap untuk menyerang," ucap Nadine.
Setelah mendengar perkataan Nadine, para prajurit, Leandra dan Lily pun bersiap dalam posisi menyerang. Nadine pun juga bersiap menyerang dengan menggunakan senapannya. Tidak lama kemudian, beberapa sosok bayangan terlihat mulai mendekat ke arah mereka. Tidak lama kemudian, beberapa sosok bayangan itu pun mulai terlihat jelas dan sosok itu merupakan beberapa golem buatan High Priest Julian. Beberapa golem itu mendekat sambil bersiap untuk menyerang. Melihat beberapa golem itu sudah mendekat, Nadine langsung memerintahkan para prajurit itu untuk menyerang.
"Kalian semua, serang!," ucap Nadine.
Para prajurit Duke San Lucia, Leandra, Lily dan Nadine pun bersiap untuk menyerang golem-golem yang mendekati mereka. Namun....
~Ice Magic : Full Frost~
Golem-golem yang mendekati mereka itu tiba-tiba langsung membeku. Seluruh bagian tubuh golem-golem itu membeku sepenuhnya dan membuat mereka langsung berhenti bergerak. Tidak hanya golem-golem itu saja, permukaan jalan tempat mereka berada dan sekitarnya juga ikut membeku. Mereka pun langsung terkejut begitu melihat golem-golem itu tiba-tiba membeku.
"Para golem itu tiba-tiba membeku. Sihir ini, aku yakin dia yang melakukannya," ucap Nadine.
Setelah Nadine mengatakan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah mereka. Nadine yang mendengar suara langkah kaki itu langsung menoleh ke arah suara itu berasal.
"Ternyata memang benar, kamu yang membekukan mereka, Irene," ucap Nadine setelah menoleh ke arah suara itu berasal.
Suara langkah kaki itu berasal dari Irene yang sedang mendekati mereka. Irene mendekati mereka sambil memegang rapier miliknya. Para prajurit Duke San Lucia, Leandra dan Lily pun langsung menoleh ke arah Irene. Mereka terlihat lega karena sebelumnya mereka mengkhawatirkan Irene.
"Nona Irene, kamu tidak apa-apa ?," tanya Leandra.
"Iya, seperti yang kamu lihat. Aku tidak apa-apa dan aku juga tidak terluka sedikitpun," ucap Irene.
Setelah mengatakan itu, Irene lalu melihat dan memperhatikan Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit yang ada di hadapannya.
"Hmmmm, sepertinya kamu, Lily dan beberapa prajurit yang lainnya sudah mendapatkan beberapa luka," ucap Irene.
"Iya, kami terluka karena terkena serangan para Priest dan golem-golem yang menyerang kami. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, nona Irene, luka yang kami dapatkan tidak terlalu parah. Namun, meski luka yang kamu dapatkan tidak terlalu parah, ada beberapa dari kami yang sudah tumbang dan tergeletak di jalan," ucap Leandra.
"Hmm begitu ya," ucap Irene.
Irene mengatakan itu sambil sedikit menundukkan kepalanya. Setelah mengatakan itu, Irene kembali mengangkat kepalanya.
"Sekarang lebih baik kalian membawa para prajurit yang tergeletak dan segera mundur ke dekat gerbang kediaman ayahandaku karena di sekitar tempat ini sangat berbahaya untuk kalian," ucap Irene.
Setelah Irene mengatakan itu, tiba-tiba Irene berbalik dan langsung bersiap untuk melakukan serangan. Setelah Irene bersiap untuk melakukan serangan, sebuah tangan kanan golem raksasa tiba-tiba muncul dari balik debu asap yang pekat. Tangan golem raksasa itu muncul dalam kondisi yang sedang dikepal. Sepertinya golem raksasa itu ingin memukul Irene dan orang-orang yang ada di dekatnya. Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit Duke San Lucia yang berada di dekat Irene terlihat terkejut dengan munculnya tangan kanan golem raksasa itu secara tiba-tiba. Wajar bagi mereka untuk terkejut karena mereka tidak menyadari atangnya tangan golem raksasa itu akibat debu asap yang sangat pekat. Mereka pun juga tidak sempat bereaksi terhadap tangan golem raksasa itu. Apapun yang akan mereka lakukan baik itu menghindar ataupun menahan tangan golem raksasa itu, mereka tidak akan sempat. Mereka akan terkena serangan tangan golem raksasa itu dengan telak. Tetapi tidak untuk Irene, Irene menyadari datangnya tangan golem raksasa itu dan langsung berniat untuk menahannya. Ketika tangan golem raksasa itu sudah berada dalam jarak yang dekat untuk mengenai mereka, Irene langsung berniat untuk menahan tangan kanan raksasa itu dengan rapiernya.
~Frozen Rapier~
~San Lucia Art : Advanced Freezing Air Slash~
Irene lalu menyerang tangan golem raksasa itu dengan serangannya. Irene dan tangan golem raksasa itu pun saling beradu. Adu serangan yang mereka lakukan pun membuat debu asap yang muncul di tempat itu tiba-tiba langsung menghilang.
Sementara itu, para prajurit Duke San Lucia terlihat terkejut ketika melihat Irene berhasil menahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya. Leandra, Lily dan Nadine awalnya juga terkejut, tetapi mereka teringat dengan perkataan Irene sebelumnya.
"Kalian semua, cepat pergi dari tempat ini. Sesuai apa yang Irene katakan tadi, kita harus membawa para prajurit yang tergeletak lalu mundur ke belakang," ucap Nadine.
"Jika kita mundur, bagaimana dengan putri Irene, nona Nadine ?," tanya salah satu prajurit.
"Tenang saja, aku yakin Irene akan dapat mengatasinya. Benarkan, Irene?," tanya Nadine.
Irene yang sedang menahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya pun langsung menjawab pertanyaan Nadine.
"Iya. Biar aku yang mengurus High Priest itu, kalian lebih baik mengurus para prajurit yang tergeletak sekaligus mengurus para Priest dan golem-golem yang masih ada di sekitar," ucap Irene.
Setelah mendengar perkataan Irene, Nadine lalu menoleh ke arah para prajurit Duke San Lucia yang ada dekatnya.
"Seperti yang kalian dengar barusan, ayo kita segera mundur dan lakukan tugas kita. Disini biar Irene yang mengurusnya," ucap Nadine.
Para prajurit itu awalnya enggan, tetapi setelah mendengar langsung dari Irene, mereka pun langsung menuruti perkataan Irene.
"Baik, nona Nadine. Ayo semua, kita lakukan tugas yang diberikan oleh putri Irene," ucap salah satu prajurit.
"Iya," ucap para prajurit lainnya.
Setelah itu, para prajurit Duke San Lucia pun langsung mundur ke belakang. Nadine, Leandra dan Lily pun juga ikut mundur ke belakang. Ketika sedang mundur ke belakang, Leandra tiba-tiba mengajak Nadine untuk berbicara.
"Nona Nadine, apa tidak apa-apa membiarkan nona Irene mengatasi High Priest itu sendirian ?," tanya Leandra.
"Jika Irene sendiri yang bilang begitu maka apa boleh buat. Tetapi kamu tenang saja, aku akan membantu Irene dengan menggunakan senapanku dari jauh," ucap Nadine.
"Meski begitu aku tetap khawatir. Apa tidak sebaiknya kita menghubungi Rid yang sedang latihan untuk segera kembali kesini ? Jika Rid datang kesini, mengalahkan mereka semua akan menjadi lebih mudah," ucap Leandra.
"Memang jika Rid ada disini, mengalahkan mereka akan menjadi lebih mudah. Tetapi aku yakin Irene tidak akan setuju untuk menghubungi Rid agar datang kesini. Tujuan gereja Sancta Lux datang kesini adalah untuk merekrut Rid. Irene pastinya tidak mau mempertemukan gereja Sancta Lux dengan Rid jadi dia tidak akan setuju dengan idemu itu," ucap Nadine.
"Kamu ada benarnya, nona Nadine," ucap Leandra.
"Tanpa Rid pun kita tidak begitu kesulitan untuk melawan mereka. Mungkin yang merepotkan adalah High Priest itu tetapi untuk sekarang kita serahkan saja High Priest itu kepada Irene. Lagipula sekarang ini Irene sudah menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Ini berkat latihan yang dia lakukan dengan Rid setiap hari.
Sementara itu, disaat Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit Duke San Lucia sudah mundur, Irene terlihat masih beradu kekuatan dengan tangan golem raksasa itu. Irene terus menahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya. Ketika Irene sedang menahan tangan golem raksasa itu, terlihat bagian jari-jari dari tangan golem raksasa itu mulai membeku. Pembekuan itu pun secara perlahan mulai menyebar hingga ke pergelangan tangan golem raksasa itu. Setelah seluruh pergelangan tangan golem raksasa itu sudah membeku, Irene lalu meningkatkan kekuatan pada rapiernya. Irene kemudian menggerakkan rapiernya itu seperti sedang melakukan sebuah tebasan. Setelah itu, pergelangan tangan golem raksasa yang membeku itu secara perlahan mulai retak dan hancur. High Priest Julian yang berdiri di atas golem raksasa buatannya terlihat sedikit terkejut setelah melihat tangan golem raksasa buatannya telah membeku dan hancur.
"Yang benar saja?! Dia berhasil menahan tangan golem raksasaku dengan sebuah rapier dan kemudian menghancurkannya?!," ucap High Priest Julian.
Sementara itu, setelah menghancurkan tangan golem raksasa itu, Irene lalu mengangkat rapiernya dan kemudian mulai melihat dan memperhatikan rapiernya itu. Saat Irene sedang melihat rapiernya itu, terlihat ada beberapa retakan pada rapiernya itu. Retakan itu menandakan kalau rapiernya sudah mulai rusak.
"Meskipun terbuat dari lumpur, aku tidak menyangka kalau golem raksasa itu cukup keras. Jika aku menahan serangan yang sama satu kali lagi, rapierku ini pasti akan langsung hancur. Aku juga tidak bisa menyerang golem raksasa itu secara langsung jika tidak mau rapierku ini hancur,"
"Untuk mengalahkan High Priest itu, sepertinya aku harus menyerang High Priest itu secara langsung sambil menghindari serangan-serangan yang dilancarkan golem raksasa itu dan tidak boleh menahan serangan-serangan itu dengan menggunakan rapierku lagi," pikir Irene.
-
Sementara itu, di saat yang sama, di halaman White Palace.
Terlihat Ratu Kayana, para Duke dan Duchess, para komandan prajurit, para prajurit serta para bangsawan lainnya telah kembali dari pemakaman San Fulgen. Itu berarti proses pemakaman para bangsawan yang telah tewas akibat penyerangan yang terjadi di kerajaan San Fulgen telah selesai. Saat ini, Ratu Kayana sedang berjalan untuk memasuki White Palace, diikuti dengan para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit di belakangnya.
Sementara itu, Duke Louis dan Duchess Arlet yang tepat berada di belakang Ratu Kayana terlihat seperti sedang khawatir akan sesuatu.
"Sayang, entah kenapa aku merasakan firasat yang tidak enak. Apa kamu juga merasakannya?," tanya Duke Louis.
"Aku juga merasakannya, tetapi aku tidak tahu firasat apa ini. Semoga bukan firasat buruk," ucap Duchess Arlet.
"Iya, semoga saja," ucap Duke Louis.
Sementara itu, Ratu Kayana yang berada di depan Duke Louis dan Duchess Arlet menyadari kalau Duke Louis dan Duchess Arlet sedang merasa khawatir.
"Ada apa kalian berdua? kalian sepertinya sedang khawatir," ucap Ratu Kayana.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Mungkin kami hanya sedikit khawatir tentang apa yang terjadi kemarin dimana High Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia mengunjungi kediaman saya untuk menemui Rid. Karena saat ini kami sedang meninggalkan kediaman, kami khawatir apakah High Priest itu akan mengunjungi kediaman kami lagi," ucap Duke Louis.
"Apa anda tidak memberikan pesan kepada prajurit atau pelayan anda untuk menghubungi anda apabila High Priest itu datang kembali ?," tanya Ratu Kayana.
"Sudah, Yang Mulia Ratu. Saya sudah berpesan kepada mereka untuk menghubungi saya lewat kristal komunikasi apabila High Priest itu datang lagi. Tetapi saat ini saya meninggalkan kristal komunikasi saya di dalam kediaman anda karena saya khawatir apabila saya dihubungi saat proses pemakaman, hal itu malah akan mengganggu proses pemakamannya. Maka dari itu saya tidak membawa kristal komunikasi saya di acara pemakaman agar tidak mengganggu," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Ya sudah nanti anda periksa saja kristal komunikasi anda, apakah ada yang menghubungi anda atau tidak," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Ratu Kayana, para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit pun terus melanjutkan langkah mereka untuk menuju White Palace. Namun ketika mereka sedang berjalan, Ratu Kayana tiba-tiba berhenti berjalan. Duke Louis dan Duchess terlihat bingung ketika melihat Ratu Kayana tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ada apa Yang Mulia Ratu ? Kenapa anda berhenti ?," tanya Duke Louis.
Tidak hanya Duke Louis dan Duchess Arlet saja yang bingung, para Duke dan Duchess lainnya serta para komandan prajurit juga bingung. Sementara itu, setelah Ratu Kayana berhenti berjalan, Ratu Kayana lalu berbalik. Ratu Kayana lalu melihat ke arah para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit yang ada di depannya.
"Kalian semua, apa kalian semua mempunyai waktu luang setelah ini ? Soalnya ada yang ingin aku bahas dengan kalian semua. Karena kebetulan para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit sedang ada disini, aku ingin membahas tentang penyerangan yang terjadi di kerajaan ini 2 hari yang lalu. Aku juga ingin memberitahukan tentang rahasia yang masih aku sembunyikan tentang penyerangan ini," ucap Ratu Kayana.
-Bersambung
~Note dari Author : Halo para pembaca Peace Hunter. Saya ingin menyampaikan permintaan maaf tentang update dari bab terbaru pada novel Peace Hunter yang tidak menentu. Alasannya karena beberapa waktu ini saya sedang sibuk. Selain itu saya juga sempat sakit dalam waktu yang cukup lama dan sering kambuh jadi ini membuat saya kesulitan dalam membuat bab terbaru. Sekali lagi, saya minta maaf karena telah membuat pembaca kecewa akibat tidak menentunya jadwal rilis bab terbaru pada novel Peace Hunter.
- Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 509 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 5
- Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4
- Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3
- Chapter 506 : Ajakan Undine
- Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
- Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
- Chapter 503 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya part 2
- Chapter 502 : Makhluk Ciptaan Yang Berbahaya
- Chapter 501 : Orang-Orang Yang Berharap
- Chapter 500 : Orang-Orang Yang Percaya
- Chapter 499 : Hari Peringatan 1 Tahun
- Chapter 498 : Orang-Orang Yang Ingin Menjadi Lebih Kuat
- Chapter 497 : Syarat Dari Duchess Arlet
- Chapter 496 : Ruangan Penyimpanan Harta Kerajaan San Fulgen
- Chapter 495 : Keyakinan Ratu Kayana
- Chapter 494 : Putri Keluarga San Estella
- Chapter 493 : Putri Ras Malaikat
- Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa
- Chapter 491 : Hari Terakhir di Akademi
- Chapter 490 : Pertemuan Terakhir Anggota Elevrad
- Chapter 489 : Tanggung Jawab Holy Kingdom
- Chapter 488 : Tujuan Organisasi
- Chapter 487 : Divine Earth Elemental Spirits, Terra
- Chapter 486 : Laviena vs Undine part 3
- Chapter 485 : Laviena vs Undine part 2
- Chapter 484 : Laviena vs Undine
- Chapter 483 : Kedatangan Yang Sia-Sia
- Chapter 482 : Rencana Pembukaan Kembali Akademi
- Chapter 481 : Perjalanan Kembali Menuju Akademi
- Chapter 480 : Pencarian Informasi Ras Siren
- Chapter 479 : Iblis Yang Ditakuti
- Chapter 478 : Demon Sovereign Commanders, Leirion Vermeil von Lorea
- Chapter 477 : Leirion vs Nexus
- Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet
- Chapter 475 : Identitas Sebenarnya
- Chapter 474 : Impian Yang Mustahil
- Chapter 473 : Perbatasan Laut
- Chapter 472 : Pesan Dari Kepala Akademi
- Chapter 471 : Kepulangan Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 470 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari part 2
- Chapter 469 : Tekanan Aura Yang Tidak Disadari
- Chapter 468 : Peralatan Dwarf
- Chapter 467 : Pesan Holy Maiden
- Chapter 466 : Masalah Benua Utara
- Chapter 465 : Gertakan Palsu
- Chapter 464 : Ancaman High Priest Theodor
- Chapter 463 : Sebuah Pilihan
- Chapter 462 : Suara Yang Terasa Familiar
- Chapter 461 : Orang-Orang Yang Mendapatkan Blessing
- Chapter 460 : Masalah Perekrutan Rid
- Chapter 459 : Ketertarikan Nona Laviena
- Chapter 458 : Sebuah Pion
- Chapter 457 : Ambisi High Priest Theodor
- Chapter 456 : Kalung Liontin
- Chapter 455 : Tamu Tak Diundang
- Chapter 454 : Prajurit Yang Menyalahkan
- Chapter 453 : Mari Lakukan Bersama
- Chapter 452 : Rid dan High Priest Julian
- Chapter 451 : Suara Teriakan
- Chapter 450 : Memanggil Bantuan
- Chapter 449 : Rahasia Yang Diberitahukan
- Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian
- Chapter 447 : Golem Raksasa
- Chapter 446 : High Priest Julian
- Chapter 445 : Rasa Hormat Elsie
- Chapter 444 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 3
- Chapter 443 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux part 2
- Chapter 442 : Gelang Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 441 : Masa Lalu Elsie
- Chapter 440 : Rid dan Elsie
- Chapter 439 : Penyerangan di Kediaman Duke San Lucia
- Chapter 438 : Peti Mati Para Bangsawan
- Chapter 437 : Halaman White Palace
- Chapter 436 : Keistimewaan Gereja Sancta Lux
- Chapter 435 : Pengejaran Orang Mencurigakan part 2
- Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan
- Chapter 433 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 3
- Chapter 432 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine part 2
- Chapter 431 : Pencarian Informasi di Pelabuhan San Quentine
- Chapter 430 : Wanita Yang Bersenandung
- Chapter 429 : Kristal Komunikasi Pemberian
- Chapter 428 : Tempat Latihan Rahasia di Wilayah San Lucia
- Chapter 427 : Informasi Yang Salah
- Chapter 426 : Menuju Tempat Latihan Rahasia
- Chapter 425 : Rid, Duke Louis dan Duchess Arlet
- Chapter 424 : Menyembunyikan Keberadaan
- Chapter 423 : Surat Kabar Setelah Insiden Penyerangan
- Chapter 422 : Kekhawatiran Senior Gretta
- Chapter 421 : High Priest Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 420 : 2 Sisi Yang Berbeda
- Chapter 419 : Priest Gereja Sancta Lux
- Chapter 418 : Gereja Sancta Lux Kota San Lucia
- Chapter 417 : Meninggalkan Akademi
- Chapter 416 : Pemberitahuan Dari Kepala Akademi
- Chapter 415 : Menunjuk Pemimpin Sementara part 2
- Chapter 414 : Menunjuk Pemimpin Sementara
- Chapter 413 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen part 2
- Chapter 412 : Berakhirnya Penyerangan di Kerajaan San Fulgen
- Chapter 411 : Berakhirnya Insiden Penyerangan di Akademi
- Chapter 410 : Kebohongan dan Ketidakpercayaan
- Chapter 409 : Rid dan Komandan Oliver
- Chapter 408 : Impian Yang Konyol
- Chapter 407 : Efek Samping
- Chapter 406 : Saran Nona Leirion
- Chapter 405 : Mereka Yang Melakukan Pergerakan
- Chapter 404 : Rid dan Nona Leirion
- Chapter 403 : Permintaan Maaf Duke Remy
- Chapter 402 : Sihir Pamungkas Duke Remy
- Chapter 401 : Rid vs Duke Remy part 2
- Chapter 400 : Rid vs Duke Remy
- Chapter 399 : Light of Aurora
- Chapter 398 : Senjata Sihir
- Chapter 397 : Pedang Peninggalan Orang Tua
- Chapter 396 : Kekhawatiran Rid
- Chapter 395 : Sihir Api Yang Terlihat Aneh
- Chapter 394 : Persentase Kekuatan Sihir Yang Digunakan
- Chapter 393 : Permintaan Rid part 2
- Chapter 392 : Permintaan Rid
- Chapter 391 : Kemarahan Duke Remy
- Chapter 390 : Dalang Penyerangan Akademi & Desa Aston
- Chapter 389 : Nona Karina & Nona Violetta vs Duke Remy
- Chapter 388 : Tugas Kepala Akademi
- Chapter 387 : Kemarahan dan Tekanan Aura
- Chapter 386 : Menepati Janji
- Chapter 385 : Masih Belum Berakhir
- Chapter 384 : Blessing of Full Healing
- Chapter 383 : Serangan Yang Mirip
- Chapter 382 : Aqua Judgement
- Chapter 381 : Charles & Chloe vs Duke Remy
- Chapter 380 : Permintaan Nona Violetta
- Chapter 379 : Rid vs Komandan Dayne & Vyn
- Chapter 378 : Dilema Rid
- Chapter 377 : Permintaan Terakhir Duchess Arnett
- Chapter 376 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 3
- Chapter 375 : Duchess Arnett dan Nona Violetta part 2
- Chapter 374 : Duchess Arnett dan Nona Violetta
- Chapter 373 : Pertempuran Antar Makhluk Ciptaan
- Chapter 372 : Ice Star - Polaris
- Chapter 371 : Tanggung Jawab Violetta
- Chapter 370 : Ibu dan Anak part 2
- Chapter 369 : Ibu dan Anak
- Chapter 368 : Wrath of Gravity
- Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen
- Chapter 366 : Dark Wood Sword
- Chapter 365 : Komandan Oliver vs Duke Remy part 2
- Chapter 364 : Komandan Oliver vs Duke Remy
- Chapter 363 : Pertolongan Untuk Ratu Kayana
- Chapter 362 : Dark Wood Spear
- Chapter 361 : Sandiwara Duke Remy
- Chapter 360 : Ratu Kayana vs Duke Remy
- Chapter 359 : Penampilan Yang Terlihat Berbeda
- Chapter 358 : Ice Coffin
- Chapter 357 : Dark Abyss Wooden Armor
- Chapter 356 : Kekecewaan Chloe
- Chapter 355 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian part 2
- Chapter 354 : Rid vs Raja Albert, Komandan Marshall & Florian
- Chapter 353 : Serangan Gabungan
- Chapter 352 : Hutan Labirin part 2
- Chapter 351 : Hutan Labirin
- Chapter 350 : Getaran Besar di Akademi
- Chapter 349 : Insiden di Arena Turnamen Akademi
- Chapter 348 : Dark Magic & Fire Magic
- Chapter 347 : Nona Karina dan Nona Violetta
- Chapter 346 : Prajurit Penjaga Ibukota San Estella
- Chapter 345 : Pelaku Utama Perencana Pembunuhan
- Chapter 344 : Penyerangan di Wilayah Kerajaan San Fulgen
- Chapter 343 : Perasaan Yang Tidak Mengenakkan
- Chapter 342 : Menyambut Tamu Yang Datang
- Chapter 341 : Rapat Yang Cukup Intens
- Chapter 340 : Ujian Keempat Tahun Keempat
- Chapter 339 : Hal Yang Luar Biasa
- Chapter 338 : Efek Samping Armor of Ice Spirits
- Chapter 337 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia part 2
- Chapter 336 : Teknik Terlarang Keluarga San Lucia
- Chapter 335 : Monster Yang Sangat Berbahaya
- Chapter 334 : Manusia Berambut Putih
- Chapter 333 : Giant Ice Sword of Ymir
- Chapter 332 : Para Naga Es
- Chapter 331 : Orang Terkuat Keluarga San Lucia
- Chapter 330 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet part 2
- Chapter 329 : Ratu Kayana dan Duchess Arlet
- Chapter 328 : Permohonan Duke Louis
- Chapter 327 : Hubungan Yang Serius part 2
- Chapter 326 : Hubungan Yang Serius
- Chapter 325 : Terbangun Dari Tidur Panjang
- Chapter 324 : Hellfire Healing Cloak
- Chapter 323 : Snow Palace
- Chapter 322 : Menuju Kota San Lucia
- Chapter 321 : Kekhawatiran Ratu Kayana
- Chapter 320 : Tentang Ujian Khusus
- Chapter 319 : Menjadi Murid Tahun Ketiga
- Chapter 318 : Nama Pemberian
- Chapter 317 : Permintaan Yang Cukup Egois
- Chapter 316 : Rencana Baru part 2
- Chapter 315 : Rencana Baru
- Chapter 314 : Kekuatan Yang Tidak Disadari
- Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston
- Chapter 312 : Menuju Desa Aston
- Chapter 311 : Perasaan Yang Sebenarnya
- Chapter 310 : Kekhawatiran Nona Karina
- Chapter 309 : Perayaan Pergantian Tahun Kedua
- Chapter 308 : Masalah Setiap Kerajaan
- Chapter 307 : Pembicaraan Yang Menarik
- Chapter 306 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta part 2
- Chapter 305 : Insiden Penyerangan Penjara San Sabaneta
- Chapter 304 : Pesan Dari Duke Louis
- Chapter 303 : Si Bodoh dan Kerajaan Framtida
- Chapter 302 : Tujuan Yang Sama
- Chapter 301 : Rencana Jangka Panjang
- Chapter 300 : Ambisi Duke Remy
- Chapter 299 : Pengkhianatan Duke Remy part 2
- Chapter 298 : Pengkhianatan Duke Remy
- Chapter 297 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 296 : Rid, Charles dan Hal Yang Ingin Dibicarakan
- Chapter 295 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 4
- Chapter 294 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 3
- Chapter 293 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 292 : Pertemuan Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 291 : Orang Yang Kompeten
- Chapter 290 : Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 289 : Kekhawatiran Para Murid
- Chapter 288 : Surat Kabar Yang Menghebohkan part 2
- Chapter 287 : Surat Kabar Yang Menghebohkan
- Chapter 286 : Sambutan Nona Violetta
- Chapter 285 : Waktu Berdua
- Chapter 284 : Pemberian Dari Nona Karina
- Chapter 283 : Perjanjian Antara Rid dan Irene
- Chapter 282 : Permintaan Maaf Irene
- Chapter 281 : Kembalinya Rid ke Akademi part 2
- Chapter 280 : Kembalinya Rid ke Akademi
- Chapter 279 : Hadiah Dari Duke Louis
- Chapter 278 : Akhir Diskusi di Gedung Pengadilan
- Chapter 277 : Akhir Penangkapan Florian
- Chapter 276 : Komandan Violetta vs Florian
- Chapter 275 : Penangkapan Senior Florian
- Chapter 274 : Asumsi Ratu Kayana
- Chapter 273 : Tuduhan Duke Remy
- Chapter 272 : Julukan Baru
- Chapter 271 : Orang-Orang Gereja
- Chapter 270 : Kekhawatiran Dua Komandan
- Chapter 269 : Sesuatu Hal Yang Licik
- Chapter 268 : Gravity Compression - Sphere
- Chapter 267 : Komandan Prajurit San Fulgen part 2
- Chapter 266 : Komandan Prajurit San Fulgen
- Chapter 265 : Manchineel Death Slash
- Chapter 264 : Penyihir Gravitasi
- Chapter 263 : Bidak Yang Berharga
- Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3
- Chapter 261 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 2
- Chapter 260 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap
- Chapter 259 : Court of San Fulgen
- Chapter 258 : Menuju Gedung Pengadilan Kerajaan
- Chapter 257 : Pandangan Terhadap Para Duke
- Chapter 256 : Bangsawan Jatuh
- Chapter 255 : Kabar Tentang Rid part 3
- Chapter 254 : Kabar Tentang Rid part 2
- Chapter 253 : Kabar Tentang Rid
- Chapter 252 : Jebakan Prajurit Duke
- Chapter 251 : Teman di Akademi
- Chapter 250 : Great Burning Slash
- Chapter 249 : Penyerangan di Hutan Hevea part 4
- Chapter 248 : Penyerangan di Hutan Hevea part 3
- Chapter 247 : Penyerangan di Hutan Hevea part 2
- Chapter 246 : Penyerangan di Hutan Hevea
- Chapter 245 : Pengantaran Proposal part 2
- Chapter 244 : Pengantaran Proposal
- Chapter 243 : Aktivitas Santai Violetta
- Chapter 242 : Pasangan Monster part 2
- Chapter 241 : Pasangan Monster
- Chapter 240 : Bantuan Dana Untuk Elevrad
- Chapter 239 : Sesuatu Yang Mencurigakan
- Chapter 238 : Elaina dan Elevrad
- Chapter 237 : Healing Fire Blanket
- Chapter 236 : Pertandingan Harian, Irene vs Elaina
- Chapter 235 : Putri Es dan Putri Pedang
- Chapter 234 : Merekrut Anggota Baru Elevrad
- Chapter 233 : Trauma Violetta
- Chapter 232 : Bencana Berjalan
- Chapter 231 : Divine Water Elemental Spirits, Undine
- Chapter 230 : Latihan Tanding, Rid vs Violetta
- Chapter 229 : Informasi Tentang Tahun Kedua
- Chapter 228 : Hari Pertama Menjadi Murid Tahun Kedua
- Chapter 227 : Engill Forstorelse
- Chapter 226 : Laporan Untuk Tuan Raven part 3
- Chapter 225 : Laporan Untuk Tuan Raven part 2
- Chapter 224 : Laporan Untuk Tuan Raven
- Chapter 223 : Kota di Dalam Gua
- Chapter 222 : Percobaan Lain Duke Remy
- Chapter 221 : Diskusi Antara Ketiga Duke
- Chapter 220 : Produk Gagal
- Chapter 219 : Latihan Tanding 3 Kelompok
- Chapter 218 : Putri Pedang
- Chapter 217 : Wakil Ketua Elevrad Yang Baru
- Chapter 216 : Teknik Demi-Human
- Chapter 215 : Hari Kelulusan dan Hari Kenaikan
- Chapter 214 : Salam Perpisahan Anggota Elevrad
- Chapter 213 : Kekecewaan Tuan Alan
- Chapter 212 : Pusat Perhatian
- Chapter 211 : Surat Kabar Yang Beredar
- Chapter 210 : Rid dan Duke Louis
- Chapter 209 : Hadiah Kontribusi
- Chapter 208 : Duke Remy dan Violetta
- Chapter 207 : Seseorang Yang Setara Dengan Komandan Prajurit
- Chapter 206 : Kekhawatiran Komandan Tertinggi
- Chapter 205 : Prioritas Untuk Dilindungi
- Chapter 204 : Kejadian Yang Saling Berkaitan
- Chapter 203 : Tugas Dari Tuan
- Chapter 202 : Great Fire Roar
- Chapter 201 : Lawan Yang Menarik Untuk Dihadapi
- Chapter 200 : Flame Slasher
- Chapter 199 : Rid vs Ludmilla
- Chapter 198 : Plant Magic
- Chapter 197 : Insiden Penyerangan Akademi
- Chapter 196 : Festival Akademi Hari Kedua
- Chapter 195 : Putri Caroline
- Chapter 194 : Festival Akademi
- Chapter 193 : Perayaan Setelah Turnamen Akademi
- Chapter 192 : Penutupan Turnamen Akademi
- Chapter 191 : Rid, Irene dan Komandan Asier
- Chapter 190 : Akhir Pertandingan Final Turnamen Akademi
- Chapter 189 : Orang Kedua
- Chapter 188 : Teknik Pembunuh Naga
- Chapter 187 : Reflek Yang Luar Biasa
- Chapter 186 : Final Turnamen Akademi, Vyn vs Rid
- Chapter 185 : Menunda Kemenangan
- Chapter 184 : Teknik Yang Merepotkan
- Chapter 183 : Final Turnamen Akademi, Gretta vs Alisha
- Chapter 182 : Putri Seorang Duke
- Chapter 181 : Perebutan Juara Ketiga, Irene vs Nadine
- Chapter 180 : Pertandingan Perebutan Juara Ketiga
- Chapter 179 : Ketiga Duke dan Ketiga Duchess
- Chapter 178 : Alasan Yang Dibuat-buat
- Chapter 177 : Pembicaraan Rahasia
- Chapter 176 : Menang Tapi Tak Senang
- Chapter 175 : Semifinal Turnamen Akademi, Gretta vs Irene
- Chapter 174 : Persiapan Menuju Pertandingan Semifinal Terakhir
- Chapter 173 : Tebasan Air Beruntun
- Chapter 172 : Semifinal Turnamen Akademi, Darryl vs Rid
- Chapter 171 : Wujud Asli dan Wujud Ilusi
- Chapter 170 : Semifinal Turnamen Akademi, Alisha vs Nadine
- Chapter 169 : Babak Semifinal Turnamen Akademi
- Chapter 168 : Tebakan Yang Salah
- Chapter 167 : 8 Besar Turnamen Akademi, Irene vs Amelia
- Chapter 166 : Pertandingan Terakhir di 8 Besar
- Chapter 165 : Perdebatan Yang Tidak Penting
- Chapter 164 : Peluru Pemantul dan Peluru Penghancur
- Chapter 163 : 8 Besar Turnamen Akademi, Chloe vs Nadine
- Chapter 162 : Babak 8 Besar Turnamen Akademi
- Chapter 161 : Tidak Akan Ada Yang Berubah
- Chapter 160 : Turnamen Akademi, Vyn vs Noa
- Chapter 159 : Turnamen Akademi
- Chapter 158 : Sebuah Keyakinan
- Chapter 157 : Kualifikasi Turnamen Akademi
- Chapter 156 : Format Turnamen
- Chapter 155 : Persiapan Turnamen dan Festival Akademi
- Chapter 154 : Suasana Yang Sama
- Chapter 153 : Meninggalkan Kota San Minerva
- Chapter 152 : Akhir Ujian Keempat
- Chapter 151 : Rencana Yang Kejam
- Chapter 150 : Rasa Hormat Rid
- Chapter 149 : Bekerja Sama di Ujian
- Chapter 148 : Ujian di Alam Liar
- Chapter 147 : Silver Magic
- Chapter 146 : Komandan Pasukan Silver Peacock
- Chapter 145 : Sebuah Firasat
- Chapter 144 : Ujian Keempat Tahun Pertama
- Chapter 143 : Tempat Latihan Prajurit Duke San Minerva
- Chapter 142 : Berkeliling Kota San Minerva
- Chapter 141 : Kediaman Duke San Minerva
- Chapter 140 : Kota San Minerva
- Chapter 139 : Persiapan Ujian Keempat
- Chapter 138 : Surat Untuk Putri Amelia
- Chapter 137 : Hal Yang Beruntung
- Chapter 136 : Wajah Yang Sama
- Chapter 135 : Konten Ujian
- Chapter 134 : Akhir Ujian Ketiga
- Chapter 133 : Artifact Sihir Penciptaan
- Chapter 132 : Serigala Api
- Chapter 131 : Ujian Ketiga Tahun Pertama
- Chapter 130 : Orang Yang Harus Diwaspadai
- Chapter 129 : Anggota Resmi Elevrad
- Chapter 128 : Bergabung Dengan Elevrad
- Chapter 127 : Perayaan Tahun Baru di Akademi
- Chapter 126 : Pesan Kepada Ibunda
- Chapter 125 : Akhir Ujian Kedua
- Chapter 124 : Akhir Pertandingan Rid vs Irene
- Chapter 123 : Teknik Rahasia Keluarga
- Chapter 122 : Noa & Irene vs Rid & Julie
- Chapter 121 : Orang Yang Penuh Dengan Rahasia
- Chapter 120 : Kotaro & Lily vs Ray & Leandra
- Chapter 119 : Pasangan Terkuat Ujian Kedua
- Chapter 118 : Noa & Irene vs Chloe & Mauro
- Chapter 117 : Ujian Kedua Tahun Pertama
- Chapter 116 : Persiapan Ujian Kedua
- Chapter 115 : Primadona Akademi
- Chapter 114 : Tempat Latihan Khusus
- Chapter 113 : Frost Wolf
- Chapter 112 : Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
- Chapter 111 : Tekanan Aura
- Chapter 110 : Mantan Bangsawan
- Chapter 109 : Gedung Staf dan Pengajar
- Chapter 108 : Murid Terkuat Akademi
- Chapter 107 : Sebuah Julukan
- Chapter 106 : Akhir Ujian Pertama
- Chapter 105 : Tingkat Kesulitan Ujian Pertama
- Chapter 104 : Ujian Pertama Tahun Pertama
- Chapter 103 : Persiapan Ujian Pertama
- Chapter 102 : Informasi Untuk Duke
- Chapter 101 : Kapasitas Mana
- Chapter 100 : Pertemuan Rahasia
- Chapter 99 : Kunjungan Pertama
- Chapter 98 : Hell of Roses
- Chapter 97 : Garden of Roses
- Chapter 96 : Pertandingan Harian, Rid vs Amelia
- Chapter 95 : Putri Mawar
- Chapter 94 : Taruhan Antar Putri Duke
- Chapter 93 : Kekasih Putri Es
- Chapter 92 : Hari Libur di Akademi
- Chapter 91 : Surat Untuk Noa
- Chapter 90 : Masa Lalu Leandra
- Chapter 89 : Keributan di Perpustakaan
- Chapter 88 : Sebuah Surat
- Chapter 87 : Perpustakaan Akademi
- Chapter 86 : Impian Yang Konyol
- Chapter 85 : Kerja Sama Antara Rid dan Irene
- Chapter 84 : Lamaran Palsu Putri Irene
- Chapter 83 : Janji Pertemuan
- Chapter 82 : Kepercayaan Diri
- Chapter 81 : Nona Sekretaris Elevrad
- Chapter 80 : Murid Tahun Keempat
- Chapter 79 : Ketua Elevrad, Vyn Laterza
- Chapter 78 : Auman Naga
- Chapter 77 : Aqua Slayer Slash
- Chapter 76 : Aqua Longsword
- Chapter 75 : Pertandingan Harian, Rid vs Charles
- Chapter 74 : Rid dan Putri Irene
- Chapter 73 : Tarian Pedang Salju
- Chapter 72 : Tempat Latihan Tahun Pertama
- Chapter 71 : Rahasia Rid
- Chapter 70 : Pangeran Charles dan Putri Amelia
- Chapter 69 : Kerajaan Yang Hancur, Framtida
- Chapter 68 : Malaikat dan Iblis
- Chapter 67 : Sihir Elemen Dasar
- Chapter 66 : Kabar Mengejutkan
- Chapter 65 : Badai Melawan Ombak
- Chapter 64 : Benturan Air dan Angin
- Chapter 63 : Pertandingan Harian, Charles vs Noa
- Chapter 62 : Sihir Penyembuhan
- Chapter 61 : Pertandingan Harian Pertama
- Chapter 60 : Kedua Putri Duke
- Chapter 59 : Gedun-Gedung Akademi
- Chapter 58 : Sistem Poin
- Chapter 57 : Peraturan Akademi
- Chapter 56 : Hari Pertama di Akademi
- Chapter 55 : Penyambutan Murid Baru
- Chapter 54 : Alasan Sebenarnya
- Chapter 53 : Berkeliling Di Sekitar Akademi
- Chapter 52 : Dua Pangeran
- Chapter 51 : Penunjukan Wali Kelas
- Chapter 50 : Asrama Murid
- Chapter 49 : Peringatan Javier
- Chapter 48 : Berakhirnya Ujian Masuk Akademi
- Chapter 47 : Peserta Yang Lolos Ujian
- Chapter 46 : Sebuah Tugas Baru
- Chapter 45 : Percakapan Antar Saudari
- Chapter 44 : Laporan Tentang Javier
- Chapter 43 : Berakhir Ujian Tahap Ketiga
- Chapter 42 : Akhir Pertandingan
- Chapter 41 : Flame Slayer Slash
- Chapter 40 : Waktu Bermain Sudah Habis
- Chapter 39 : Sihir Tingkat Tinggi
- Chapter 38 : Sebuah Rumor
- Chapter 37 : Sesuatu Yang Aneh
- Chapter 36 : Cluster Flame Ball
- Chapter 35 : Sihir Peningkatan
- Chapter 34 : Ujian Tahap Ketiga, Rid vs Javier
- Chapter 33 : Penantian
- Chapter 32 : Putri Chloe dan Putri Irene
- Chapter 31 : Putri Es
- Chapter 30 : Fire Piercing Arrow
- Chapter 29 : Tekad Chloe
- Chapter 28 : Kemenangan
- Chapter 27 : Freezing Air Slash
- Chapter 26 : Ujian Tahap Ketiga, Irene vs Jeremy
- Chapter 25 : Ujian Tahap Ketiga, Chloe vs Emily
- Chapter 24 - 23 : Hal Tersembunyi di Ujian Ketiga
- Chapter 23 : Protes Javier
- Chapter 22 : Magic Martial Arts
- Chapter 21 : Kontrak dengan Senjata
- Chapter 20 : Wind Ballista
- Chapter 19 : Ujian Tahap Ketiga, Noa vs Alfred
- Chapter 18 : Forging Magic
- Chapter 17 : Ujian Masuk Tahap Ketiga
- Chapter 16 : Manipulasi Sihir dan Mana
- Chapter 15 : Setelah Ujian Kedua
- Chapter 14 : Hasil Ujian Kedua
- Chapter 13 : Pangeran Charles dan Putri Irene
- Chapter 12 : Ujian Masuk Tahap Kedua
- Chapter 11 : Sebelum Ujian Kedua
- Chapter 10 : Hipotesis Rid
- Chapter 9 : Rid dan Pangeran Charles
- Chapter 8 : Hasil Ujian Pertama
- Chapter 7 : Setelah Ujian Pertama
- Chapter 6 : Ujian Masuk Tahap Pertama
- Chapter 5 : Pembukaan Ujian Masuk Akademi
- Chapter 4 : San Fulgen Akademiya
- Chapter 3 : Ibukota San Estella
- Chapter 2 : Perjalanan Menuju Ibukota
- Chapter 1 : Awal Mula
Comments